Kepemimpinan Prabowo Fondasi Kebangkitan Ekonomi Nasional dan Penguatan Peran Global
Kamis, 05 Maret 2026 - 17:39 WIB
loading...
Kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menjadi fondasi penting bagi kebangkitan ekonomi nasional sekaligus penguatan peran global Indonesia. Foto: Dok Sindonews
A
A
A
JAKARTA - Kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menjadi fondasi penting bagi kebangkitan ekonomi nasional sekaligus penguatan peran global Indonesia. Optimisme tersebut bukan didasari sentiment emosional atau sikap partisan melainkan hasil pembacaan terhadap arah kebijakan, implementasi program strategis, serta langkah diplomasi internasional yang telah dijalankan.
“Seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini dipandang bukan sekadar bantuan sosial melainkan desain kebijakan ekonomi struktural yang berdampak luas,” ujar Ketua Lembaga Pemikiran Stratejik Prabowonomics Tomy Nikson, Kamis (5/3/2026).
Baca juga: Presiden Korsel Puji Kepemimpinan Prabowo, Capai Kepuasan Publik hingga 80%
Dengan ribuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) beroperasi di berbagai daerah dan memproduksi jutaan porsi makanan setiap hari, MBG dinilai mampu menggerakkan rantai pasok pangan dari tingkat desa hingga nasional.
“Kebutuhan bahan pangan yang meningkat mendorong produksi petani dan pelaku usaha kecil, membuka lapangan kerja, serta memperkuat daya beli masyarakat,” katanya.
Tomy menilai pendekatan ini mencerminkan pemanfaatan efek berganda (multiplier effect) dalam ekonomi. Perputaran ekonomi lokal meningkat seiring bertambahnya aktivitas produksi dan konsumsi.
Selain itu, MBG diposisikan sebagai investasi jangka panjang pada kualitas sumber daya manusia. Rujukan terhadap riset internasional yang menyatakan bahwa setiap satu dolar investasi gizi dapat menghasilkan pengembalian ekonomi berlipat ganda menunjukkan bahwa kebijakan ini diarahkan pada pembangunan human capital.
Dalam perspektif pembangunan, Presiden menekankan pertumbuhan harus dimulai dari lapisan terbawah masyarakat. Paradigma ini memperluas pusat pertumbuhan ekonomi, tidak hanya bertumpu pada sektor besar atau kota-kota utama, tetapi menjangkau wilayah yang selama ini kurang tersentuh.
Bagi Tomy, MBG menjadi instrumen untuk memastikan stabilitas ekonomi lebih resilien terhadap guncangan eksternal melalui penguatan konsumsi rumah tangga dan kepastian permintaan pangan.
Dia mengakui adanya tantangan implementasi dalam program berskala nasional. Namun, dia menekankan pentingnya komitmen kepemimpinan terhadap pengawasan, evaluasi, dan perbaikan tata kelola.
Ketegasan terhadap penyimpangan serta keberanian melakukan koreksi dinilai sebagai ciri kepemimpinan yang bertanggung jawab dan adaptif.
Di tingkat global, langkah Prabowo menandatangani Piagam Board of Peace di Davos pada 22 Januari 2026 menjadi simbol peran aktif Indonesia dalam mendorong stabilisasi dan rekonstruksi Gaza pascakonflik. Partisipasi ini sejalan dengan prinsip solusi dua negara dan resolusi Dewan Keamanan PBB.
Menurut Tomy, keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia tidak pasif dalam dinamika geopolitik, melainkan hadir sebagai kekuatan moral yang mendorong perdamaian dan keadilan internasional.
Dia menilai kombinasi penguatan ekonomi domestik dan diplomasi aktif mencerminkan kepemimpinan yang utuh yakni membangun kesejahteraan dalam negeri sekaligus memperkuat posisi Indonesia di panggung global.
Optimisme terhadap Presiden bertumpu pada empat hal utama yaitu visi pembangunan jangka panjang yang berpusat pada rakyat, keberanian menjalankan program besar dengan target terukur, komitmen pada tata kelola yang akuntabel, serta peran strategis dalam isu global.
Kritik tetap penting dalam demokrasi, namun harus diarahkan untuk memperbaiki kebijakan. Dia meyakini dengan konsistensi, kerja keras, dan dukungan rakyat, Indonesia berada pada momentum untuk melompat menuju fase kemajuan baru yang lebih mandiri, berdaulat, dan semakin diperhitungkan dunia.
“Seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini dipandang bukan sekadar bantuan sosial melainkan desain kebijakan ekonomi struktural yang berdampak luas,” ujar Ketua Lembaga Pemikiran Stratejik Prabowonomics Tomy Nikson, Kamis (5/3/2026).
Baca juga: Presiden Korsel Puji Kepemimpinan Prabowo, Capai Kepuasan Publik hingga 80%
Dengan ribuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) beroperasi di berbagai daerah dan memproduksi jutaan porsi makanan setiap hari, MBG dinilai mampu menggerakkan rantai pasok pangan dari tingkat desa hingga nasional.
“Kebutuhan bahan pangan yang meningkat mendorong produksi petani dan pelaku usaha kecil, membuka lapangan kerja, serta memperkuat daya beli masyarakat,” katanya.
Tomy menilai pendekatan ini mencerminkan pemanfaatan efek berganda (multiplier effect) dalam ekonomi. Perputaran ekonomi lokal meningkat seiring bertambahnya aktivitas produksi dan konsumsi.
Selain itu, MBG diposisikan sebagai investasi jangka panjang pada kualitas sumber daya manusia. Rujukan terhadap riset internasional yang menyatakan bahwa setiap satu dolar investasi gizi dapat menghasilkan pengembalian ekonomi berlipat ganda menunjukkan bahwa kebijakan ini diarahkan pada pembangunan human capital.
Dalam perspektif pembangunan, Presiden menekankan pertumbuhan harus dimulai dari lapisan terbawah masyarakat. Paradigma ini memperluas pusat pertumbuhan ekonomi, tidak hanya bertumpu pada sektor besar atau kota-kota utama, tetapi menjangkau wilayah yang selama ini kurang tersentuh.
Bagi Tomy, MBG menjadi instrumen untuk memastikan stabilitas ekonomi lebih resilien terhadap guncangan eksternal melalui penguatan konsumsi rumah tangga dan kepastian permintaan pangan.
Dia mengakui adanya tantangan implementasi dalam program berskala nasional. Namun, dia menekankan pentingnya komitmen kepemimpinan terhadap pengawasan, evaluasi, dan perbaikan tata kelola.
Ketegasan terhadap penyimpangan serta keberanian melakukan koreksi dinilai sebagai ciri kepemimpinan yang bertanggung jawab dan adaptif.
Di tingkat global, langkah Prabowo menandatangani Piagam Board of Peace di Davos pada 22 Januari 2026 menjadi simbol peran aktif Indonesia dalam mendorong stabilisasi dan rekonstruksi Gaza pascakonflik. Partisipasi ini sejalan dengan prinsip solusi dua negara dan resolusi Dewan Keamanan PBB.
Menurut Tomy, keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia tidak pasif dalam dinamika geopolitik, melainkan hadir sebagai kekuatan moral yang mendorong perdamaian dan keadilan internasional.
Dia menilai kombinasi penguatan ekonomi domestik dan diplomasi aktif mencerminkan kepemimpinan yang utuh yakni membangun kesejahteraan dalam negeri sekaligus memperkuat posisi Indonesia di panggung global.
Optimisme terhadap Presiden bertumpu pada empat hal utama yaitu visi pembangunan jangka panjang yang berpusat pada rakyat, keberanian menjalankan program besar dengan target terukur, komitmen pada tata kelola yang akuntabel, serta peran strategis dalam isu global.
Kritik tetap penting dalam demokrasi, namun harus diarahkan untuk memperbaiki kebijakan. Dia meyakini dengan konsistensi, kerja keras, dan dukungan rakyat, Indonesia berada pada momentum untuk melompat menuju fase kemajuan baru yang lebih mandiri, berdaulat, dan semakin diperhitungkan dunia.
(jon)
Lihat Juga :