Tantangan NU di Masa Depan Lebih Sulit, KH Ma'ruf Amin: Pola Pikir Kiai Wahab Jadi Rujukan

Sabtu, 14 Februari 2026 - 17:13 WIB
loading...
Tantangan NU di Masa...
Wakil Presiden ke-13 RI KH Maruf Amin memberikan sambutan di acara Bedah Buku KH Abdul Wahab Hasbullah dan Sarasehan Alim Ulama yang digelar di Kementerian Haji dan Umrah, Jakarta Pusat, Sabtu (14/2/2026). Foto: TVNU
A A A
JAKARTA - Wakil Presiden ke-13 RI KH Ma'ruf Amin menilai tantangan Nahdlatul Ulama (NU) di masa depan lebih sulit dibanding masa lampau. Untuk menyiasatinya, dia menilai pola pikir yang dikembangkan pendiri NU KH Abdul Wahab Hasbullah bisa menjadi rujukan.

Hal itu diungkapkan Ma'ruf saat memberi sambutan di acara Bedah Buku KH Abdul Wahab Hasbullah dan Sarasehan Alim Ulama yang digelar di Kementerian Haji dan Umrah, Jakarta Pusat, Sabtu (14/2/2026).

Baca juga: Di Harlah 100 Tahun NU, Ketua MPR: NU Akan Kuat bila Dompet Jemaahnya Tebal

Dia menilai Kiai Wahab merupakan sosok visioner. "Saya hanya melihatnya beliau itu orang yang berpikir visioner ke depan dan responsif terhadap keadaan," ujar Ma'ruf.

Dia mencontohkan Mbah Wahab, sapaan akrab Abdul Wahab memelopori tashwirul afkar, forum ulama untuk berdiskusi tentang kondisi terkini. Forum itu dapat memperluas cakrawala pandangan terhadap kondisi terkini.

"Dan itu luar biasa, selain beliau punya pandangan ke depan, tapi situasi ketika itu justru di zaman penjajahan. Jadi di zaman penjajahan itu keberanian luar biasa membuat semacam forum diskusi. Tashwirul afkar itu kan forum diskusi," katanya.

Melalui forum itu, berkembang organisasi Nahdlatul Wathan (NW). Hal ini merupakan luar biasa. Pasalnya, NW bergerak untuk mengembangkan pendidikan di era kolonial Belanda.

"Gerakan Nahdlatul Wathan itu untuk menjaga umat, menjaga bangsa, menjaga sya’ab (rakyat) dari proses tahwilan atau tahwilul fikr ke pembelokan cara berpikir. Ini perang sebenarnya, perang luar biasa itu," ujar Ma'ruf.

Mbah Wahab juga turut mendirikan NU. Langkah ini karena ada perubahan cara berpikir keagamaan (Tahwilul Fikr ad-Diniyah). Saat itu muncul cara berpikir yang sangat tekstualis.

"Kalau menurut Imam Al-Farabi itu cara berpikir Al-Jumud alal Manqulat, yaitu statis pada teks-teks saja. Gerakan kembali ke Al-Qur’an dan Hadits serta menghilangkan pendapat-pendapat bermadzhab. Ini muncul di Saudi, Timur Tengah yaitu tekstualisme," katanya.

Mantan Rais Aam PBNU ini menyebutkan saat itu muncul juga paham liberalisme. "Jadi ketika itu muncullah beberapa pikiran-pikiran keagamaan," ucapnya.

"Nah, untuk menjaga ini lahirnya NY dalam rangka menjaga kemurnian paham Ahlussunnah wal Jamaah. Himayatul Ummah anil Afkar al-Munharifah, dari cara berpikir yang menyimpang, apakah itu terlalu ke kiri (tekstualisme) ataupun terlalu ke kanan (liberalisme)," ujar Ma'ruf.

"Jadi ini sebagai paham yang kita sebut sebagai paham yang tawasuthiyan (moderat), tidak tasyaddudi (ekstrem keras), tidak juga tasahuuli (terlalu menggampangkan). Dan juga paham yang tapi tetap tathawwuriyan (dinamis/berkembang), dinamis dan manhajiyan (ber-manhaj/bermetode)," tambahnya.

Menurut Ma'ruf, lahirnya organisasi dan gerakan yang diinisiasi Mbah Wahab ini merupakan gagasan besar. Gagasan ini bisa menjadi bekal untuk menyiasati sejumlah tantangan yang dihadapi di masa depan.

"Nah, 100 tahun ke depan, kalau kita melihat keadaan sekarang tentu tidak lebih mudah justru lebih gampang dari yang dulu. Sekarang ini tentu lebih kompleks. Oleh karena itu, dalam menghadapi 100 tahun kedua Nahdlatul Ulama, saya kira pola pikir yang dikembangkan oleh Hadratussyaikh Kiai Wahab Hasbullah ini bisa menjadi rujukan kita," ujar Ma'ruf.

"Menurut saya semangat yang dilakukan Kiai Wahab Hasbullah harus dirumuskan kembali sesuai dengan tantangan yang kita hadapi untuk menghadapi 100 tahun kedua NU," sambungnya.
(jon)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tak Bisa Ditunda, Tata...
Tak Bisa Ditunda, Tata Kelola, Dana, dan Independensi PBNU Harus Dibenahi
Imam Shalat, Piala Dunia,...
Imam Shalat, Piala Dunia, dan Tempat Muktamar
Mahasiswa UBK Ngaku...
Mahasiswa UBK Ngaku Terima Uang Rp20 Juta, Politikus Gerindra: Saya Yakin Tidak Ada Sangkut Paut dengan Mas Gibran
Ketua BEM FH UBK yang...
Ketua BEM FH UBK yang Bertemu Gibran Ngaku Terima Uang Rp20 Juta, Wamensesneg: Nanti Saya Monitor Dulu
Mahasiswa UBK Desak...
Mahasiswa UBK Desak Pengurus BEM yang Bertemu Gibran Mundur dari Jabatan karena Diduga Terima Uang
Dari Ploso, Gus Ma’shum...
Dari Ploso, Gus Ma’shum Faqih Ingatkan Adab Jadi Penuntun Musyawarah NU
Digas Wapres Gibran...
Digas Wapres Gibran di Papua, Ini Spesifikasi Yadea Velax H
Teladani KH. Wahab Hasbullah,...
Teladani KH. Wahab Hasbullah, Menag Dorong Pesantren Cetak Generasi Unggul
Wapres Ini Segera Dimakzulkan,...
Wapres Ini Segera Dimakzulkan, Terancam Dilarang Berpolitik Seumur Hidup
Rekomendasi
KTM Growth Forum 2026,...
KTM Growth Forum 2026, Bahas Kesiapan Talenta dan Suksesi Kepemimpinan
Sensus Ekonomi 2026...
Sensus Ekonomi 2026 Jadi Navigasi Pembangunan Nasional
Cara Mudah Cek Kelulusan...
Cara Mudah Cek Kelulusan UM PTKIN 2026 yang Diumumkan Sore Ini
Berita Terkini
Dito Ariotedjo Lebih...
Dito Ariotedjo Lebih Langsing saat Penuhi Panggilan KPK Hari Ini: Finish Hyrox Under 2 Jam
Sidang Praperadilan,...
Sidang Praperadilan, Roy Suryo Geleng-geleng Kepala Dengar Jawaban Polda Metro Jaya
Rapat Paripurna DPR...
Rapat Paripurna DPR Setujui 7 Anggota Komisi Informasi Pusat 2026-2030, Ini Daftarnya
Mantan Menpora Dito...
Mantan Menpora Dito Ariotedjo Kembali Diperiksa KPK Jadi Saksi Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji
Berkas Vonis Nadiem...
Berkas Vonis Nadiem Makarim di Kasus Chromebook Setebal 1.146 Halaman
AHY Hadiri Kampanye...
AHY Hadiri Kampanye Nasional Grab, Dorong Percepatan Tranformasi Transportasi Ramah Lingkungan
Infografis
6 Pulau yang Jadi Target...
6 Pulau yang Jadi Target Invasi Darat AS di Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved