Konferensi Pers Daring Lebih Disukai Wartawan saat Jalani WFH
Rabu, 15 April 2020 - 11:12 WIB
loading...
A
A
A
Namun demikian, beberapa kendala seperti sinyal internet yang tidak stabil dan kuota internet yang cukup besar membuat 28,7 persen wartawan yang memilih lebih senang menerima siaran pers. "Bayangkan jika sehari ada lima konferensi daring, wartawan membutuhkan kuota internet yang memerlukan biaya yang lebih besar di tengah situasi seperti ini," ungkapnya.
Lanjut Widi, idealnya dalam konferensi pers daring siaran pers dapat dibagikan melalui pesan WhatsApp atau email segera setelah jurnalis masuk ke room meeting. Hal ini agar mereka bisa mengeksplorasi pertanyaan dan angle lainnya yang dibutuhkan. Press release juga membantu jurnalis jika koneksi tidak stabil, suara narasumber tidak jelas, ketinggalan materi atau kendala teknis lain sehingga mereka tetap mendapatkan informasi yang tepat.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APPRI) Jojo S. Nugroho menyayangkan beberapa pihak yang dalam kondisi pandemi Covid-19 ini masih menyelenggarakan konferensi pers tatap muka atau offline. Profesi wartawan yang harus meliput pemberitaan setiap hari sangat rentan terpapar virus Covid-19 jika banyak konferensi pers masih digelar secara offline. "Konferensi pers tentang Covid-19 tapi wartawan yang meliput berdesakan tidak bisa menjaga jarak. Ini kan bertentangan dengan kebijakan pemerintah sendiri yang mengampanyekan 'dirumahsaja' dan menjaga jarak atau physical distancing," tegas Jojo.
APPRI sudah mengimbau seluruh agency public relations agar tidak lagi menyelenggarakan konferensi pers offline dan memanfaatkan teknologi daring untuk membuat kegiatan media. "APPRI merekomendasikan kepada semua pihak bila membutuhkan konferensi pers, lakukanlah secara daring, mengingat jurnalis memiliki kendala dalam mencari berita di lapangan dalam kondisi WFH. Namun, untuk meminimalisir gangguan teknis dan kendala yang mungkin terjadi, perlu adanya SOP yang menjadi pedoman pelaksanaan konferensi pers daring sehingga narasumber tetap bisa menyampaikan pesan dengan jelas kepada media," tandasnya.
Lanjut Widi, idealnya dalam konferensi pers daring siaran pers dapat dibagikan melalui pesan WhatsApp atau email segera setelah jurnalis masuk ke room meeting. Hal ini agar mereka bisa mengeksplorasi pertanyaan dan angle lainnya yang dibutuhkan. Press release juga membantu jurnalis jika koneksi tidak stabil, suara narasumber tidak jelas, ketinggalan materi atau kendala teknis lain sehingga mereka tetap mendapatkan informasi yang tepat.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APPRI) Jojo S. Nugroho menyayangkan beberapa pihak yang dalam kondisi pandemi Covid-19 ini masih menyelenggarakan konferensi pers tatap muka atau offline. Profesi wartawan yang harus meliput pemberitaan setiap hari sangat rentan terpapar virus Covid-19 jika banyak konferensi pers masih digelar secara offline. "Konferensi pers tentang Covid-19 tapi wartawan yang meliput berdesakan tidak bisa menjaga jarak. Ini kan bertentangan dengan kebijakan pemerintah sendiri yang mengampanyekan 'dirumahsaja' dan menjaga jarak atau physical distancing," tegas Jojo.
APPRI sudah mengimbau seluruh agency public relations agar tidak lagi menyelenggarakan konferensi pers offline dan memanfaatkan teknologi daring untuk membuat kegiatan media. "APPRI merekomendasikan kepada semua pihak bila membutuhkan konferensi pers, lakukanlah secara daring, mengingat jurnalis memiliki kendala dalam mencari berita di lapangan dalam kondisi WFH. Namun, untuk meminimalisir gangguan teknis dan kendala yang mungkin terjadi, perlu adanya SOP yang menjadi pedoman pelaksanaan konferensi pers daring sehingga narasumber tetap bisa menyampaikan pesan dengan jelas kepada media," tandasnya.
(zik)
Lihat Juga :