Gelar IMW 2026, Ketua PP Fatayat NU: Perempuan Muslim Harus Jadi Arsitek Perubahan
Sabtu, 07 Februari 2026 - 20:59 WIB
loading...
Ketua PP Fatayat NU Margaret Aliyatul Maimunah mengatakan, perempuan muslim harus menjadi arsitek perubahan. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) mendorong perempuan muslim menjadi arsitek perubahan. Perempuan muslim harus hadir sebagai pelaku, penggerak, dan penentu arah perubahan di lingkungannya.
Hal itu disampaikan Ketua PP Fatayat NU Margaret Aliyatul Maimunah saat acara penganugerahan Inspiring Moslem Women (IMW) 2026 yang digelar di Ballroom Grand el-Hajj, Kota Tangerang, Banten pada Sabtu (7/2/2026).
Acara yang diselenggarakan Fatayat NU bersama Yayasan Compass Indonesiatama ini merupakan bagian dari peringatan Hari Lahir NU dan Fatayat NU 2026. Kegiatan dimeriahkan oleh Paduan Suara Fatayat NU, Tari Kreasi Nusantara dari Idaqu (Institut Daarul Qur’an), serta lantunan shalawat dari Hanifa.
Baca juga: Fatayat NU Apresiasi Pembentukan Direktorat PPA dan PPO Polri
Aliyatul Maimunah menegaskan perempuan muslim harus mengambil peran sebagai arsitek perubahan di tengah tantangan zaman. “Hari ini kita dipertemukan dalam forum yang penuh inspirasi, energi kebaikan, serta semangat perubahan,” ujarnya.
Aliyatul Maimunah menyoroti tantangan global berdasarkan data UN Women, mulai dari ketimpangan ekonomi, keterbatasan akses pendidikan, hingga kerentanan perempuan dalam kekerasan berbasis digital. Karena itu, perempuan muslim harus memiliki tiga kekuatan utama intelektual, spiritual-moral, serta solidaritas dan kepemimpinan sosial.
“Kita tidak bisa hanya menjadi penonton perubahan. Perempuan muslim harus hadir sebagai pelaku, penggerak, dan penentu arah perubahan di lingkungannya,” tegasnya.
Lihat video: Wapres Tegaskan Perempuan Memiliki Peran Besar saat Hadiri Konbes Fatayat NU
Menurut Aliyatul Maimunah, kekuatan intelektual menjadikan perempuan mampu membaca zaman dan beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kekuatan spiritual-moral menjaga nilai dan akhlak di tengah derasnya arus informasi. Sedangkan solidaritas dan kepemimpinan sosial menjadikan perempuan mampu mengorganisasi kebaikan untuk kemaslahatan bersama.
“Ketika perempuan berdaya, keluarga akan kuat. Ketika keluarga kuat, masyarakat kokoh. Ketika masyarakat kokoh, bangsa akan maju,” tegasnya.
Aliyatul Maimunah juga menekankan Fatayat NU sejak awal berdiri memang memposisikan perempuan sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar objek.
“Fatayat NU ingin memastikan perempuan memiliki ruang, akses, dan kesempatan yang sama untuk berkontribusi dalam pendidikan, dakwah, ekonomi, sosial, hingga kepemimpinan,” lanjutnya.
Menurut Aliyatul Maimunah, ajang IMW bukan sekadar penghargaan simbolik, melainkan panggung keteladanan yang diharapkan menular dan menginspirasi perempuan lain di seluruh Indonesia.
“Apa yang kita saksikan hari ini adalah bukti bahwa perempuan Muslim mampu hadir di garis depan perubahan dengan tetap membawa nilai Ahlussunnah wal Jamaah dan semangat kebangsaan,” imbuhnya.
Dewan Pembina PP Fatayat NU Anggia Ermarini menyebut IMW sebagai wujud keberpihakan Fatayat terhadap kemajuan perempuan muslim. Penerima penghargaan Alissa Qotrunnada Wahid mengajak perempuan Fatayat menyadari tanggung jawab peradaban dunia yang kini berada di pundak perempuan Indonesia.
Berikut ini penerima penghargaan Inspiring Moslem Women 2026:
• Inspiring Moslem Women Bidang Seni & Budaya: Sulistyawati (Sulis)
• Inspiring Moslem Women Bidang Dakwah: Ning Umi Laila
• Inspiring Moslem Women Bidang Wirausaha / Entrepreneur: Sally Giovani
• Inspiring Moslem Women Bidang Kepemimpinan: Dr. Hj. Anggia Ermarini, M.K.M
• Inspiring Moslem Women Bidang Pendidikan: Prof. Dr. Hj. Amany Lubis, Lc., MA
• Inspiring Moslem Women Teknologi: Rivana Mezaya
• Inspiring Moslem Women Bidang Kepedulian Sosial & Pemberdayaan Masyarakat: Alissa Qotrunnada Wahid
• Inspiring Moslem Women Bidang Pemerhati Anak: Hj. Margaret Aliyatul Maimunah, S.S., M.Si
Hal itu disampaikan Ketua PP Fatayat NU Margaret Aliyatul Maimunah saat acara penganugerahan Inspiring Moslem Women (IMW) 2026 yang digelar di Ballroom Grand el-Hajj, Kota Tangerang, Banten pada Sabtu (7/2/2026).
Acara yang diselenggarakan Fatayat NU bersama Yayasan Compass Indonesiatama ini merupakan bagian dari peringatan Hari Lahir NU dan Fatayat NU 2026. Kegiatan dimeriahkan oleh Paduan Suara Fatayat NU, Tari Kreasi Nusantara dari Idaqu (Institut Daarul Qur’an), serta lantunan shalawat dari Hanifa.
Baca juga: Fatayat NU Apresiasi Pembentukan Direktorat PPA dan PPO Polri
Aliyatul Maimunah menegaskan perempuan muslim harus mengambil peran sebagai arsitek perubahan di tengah tantangan zaman. “Hari ini kita dipertemukan dalam forum yang penuh inspirasi, energi kebaikan, serta semangat perubahan,” ujarnya.
Aliyatul Maimunah menyoroti tantangan global berdasarkan data UN Women, mulai dari ketimpangan ekonomi, keterbatasan akses pendidikan, hingga kerentanan perempuan dalam kekerasan berbasis digital. Karena itu, perempuan muslim harus memiliki tiga kekuatan utama intelektual, spiritual-moral, serta solidaritas dan kepemimpinan sosial.
“Kita tidak bisa hanya menjadi penonton perubahan. Perempuan muslim harus hadir sebagai pelaku, penggerak, dan penentu arah perubahan di lingkungannya,” tegasnya.
Lihat video: Wapres Tegaskan Perempuan Memiliki Peran Besar saat Hadiri Konbes Fatayat NU
Menurut Aliyatul Maimunah, kekuatan intelektual menjadikan perempuan mampu membaca zaman dan beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kekuatan spiritual-moral menjaga nilai dan akhlak di tengah derasnya arus informasi. Sedangkan solidaritas dan kepemimpinan sosial menjadikan perempuan mampu mengorganisasi kebaikan untuk kemaslahatan bersama.
“Ketika perempuan berdaya, keluarga akan kuat. Ketika keluarga kuat, masyarakat kokoh. Ketika masyarakat kokoh, bangsa akan maju,” tegasnya.
Aliyatul Maimunah juga menekankan Fatayat NU sejak awal berdiri memang memposisikan perempuan sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar objek.
“Fatayat NU ingin memastikan perempuan memiliki ruang, akses, dan kesempatan yang sama untuk berkontribusi dalam pendidikan, dakwah, ekonomi, sosial, hingga kepemimpinan,” lanjutnya.
Menurut Aliyatul Maimunah, ajang IMW bukan sekadar penghargaan simbolik, melainkan panggung keteladanan yang diharapkan menular dan menginspirasi perempuan lain di seluruh Indonesia.
“Apa yang kita saksikan hari ini adalah bukti bahwa perempuan Muslim mampu hadir di garis depan perubahan dengan tetap membawa nilai Ahlussunnah wal Jamaah dan semangat kebangsaan,” imbuhnya.
Dewan Pembina PP Fatayat NU Anggia Ermarini menyebut IMW sebagai wujud keberpihakan Fatayat terhadap kemajuan perempuan muslim. Penerima penghargaan Alissa Qotrunnada Wahid mengajak perempuan Fatayat menyadari tanggung jawab peradaban dunia yang kini berada di pundak perempuan Indonesia.
Berikut ini penerima penghargaan Inspiring Moslem Women 2026:
• Inspiring Moslem Women Bidang Seni & Budaya: Sulistyawati (Sulis)
• Inspiring Moslem Women Bidang Dakwah: Ning Umi Laila
• Inspiring Moslem Women Bidang Wirausaha / Entrepreneur: Sally Giovani
• Inspiring Moslem Women Bidang Kepemimpinan: Dr. Hj. Anggia Ermarini, M.K.M
• Inspiring Moslem Women Bidang Pendidikan: Prof. Dr. Hj. Amany Lubis, Lc., MA
• Inspiring Moslem Women Teknologi: Rivana Mezaya
• Inspiring Moslem Women Bidang Kepedulian Sosial & Pemberdayaan Masyarakat: Alissa Qotrunnada Wahid
• Inspiring Moslem Women Bidang Pemerhati Anak: Hj. Margaret Aliyatul Maimunah, S.S., M.Si
(cip)
Lihat Juga :