Monsun Asia-Angin Baratan Mendominasi, Hujan Lebat Mengintai hingga 5 Februari 2026
Sabtu, 31 Januari 2026 - 06:50 WIB
loading...
BMKG memprediksi hujan lebat masih berpotensi mengintai sejumlah wilayah Indonesia hingga 5 Februari 2026. Foto: Dok Sindonews
A
A
A
JAKARTA - Hujan lebat masih berpotensi mengintai sejumlah wilayah Indonesia hingga 5 Februari 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan hal ini diakibatkan adanya aktivitas Monsun Asia yang membawa massa udara dingin dari wilayah Asia yang ditandai peningkatan kecepatan angin di wilayah Laut China Selatan.
BMKG juga mendeteksi di wilayah Selat Karimata kecepatan angin masih menguat yang mendeteksi adanya aktivitas Cross-Equatorial Northerly Surge (CENS).
Baca juga: BMKG Prediksi Hujan Lebat hingga Februari 2026, Kemarau Capai Puncak pada Mei
“Di wilayah barat dan selatan Indonesia juga teramati angin baratan yang menguat sehingga mengakibatkan terjadinya konvergensi dan konfluensi yang meningkatkan pembentukan awan konvektif di wilayah Samudra Hindia barat Sumbar hingga Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan,” tulis BMKG, Sabtu (31/1/2026).
Keberadaan Bibit Siklon Tropis 98S yang telah melemah menjadi Pusat Tekanan Rendah turut berkontribusi terhadap peningkatan pembentukan awan konvektif di wilayah selatan Indonesia dalam sepekan terakhir. Hal ini juga didukung oleh kondisi kelembaban udara yang tinggi serta labilitas atmosfer yang kuat.
“Akibat dari beberapa faktor tersebut, proses pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di bagian selatan berlangsung lebih intensif dan dengan cakupan meluas, sehingga memicu terjadinya berbagai bencana hidrometeorologi dalam periode sepekan terakhir,” ungkapnya.
Dalam sepekan ke depan, BMKG memprakirakan pengaruh dinamika atmosfer pada skala global, regional, dan lokal masih signifikan terhadap kondisi cuaca di Indonesia. Pada skala global, El Nino–Southern Oscillation (ENSO) terpantau berada pada kategori Netral – La Nina lemah dengan nilai SOI teramati signifikan sebesar +8.6 dan indeks NINO 3.4 sebesar -0.79 yang signifikan terhadap peningkatan pola konvektif di wilayah Indonesia, terutama bagian timur.
Selain La Nina lemah, aktivitas monsun Asia diprediksi masih cukup persisten hingga dasarian pertama Februari. Fenomena Cross Equatorial Northerly Surge (CENS) atau aliran massa udara dingin yang melintasi ekuator juga diprakirakan masih aktif dalam beberapa hari ke depan.
Lebih jauh lagi, daerah tekanan rendah berpotensi terbentuk di Teluk Carpentaria yang dapat membentuk daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) di wilayah Indonesia bagian selatan.
Kombinasi antara MJO, Gelombang Rossby Ekuator, dan Gelombang Kelvin diprediksi aktif di Samudra Hindia barat Jawa hingga selatan NTT, Lampung, Laut Sulu, Laut Arafura, Papua Selatan, yang berkontribusi terhadap peningkatan aktivitas konvektif dan potensi hujan di wilayah tersebut.
Melihat potensi cuaca yang masih signifikan, BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada dan melakukan mitigasi diri, keluarga, dan lingkungannya terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti genangan, banjir, banjir bandang, dan longsor.
Berikut Prospek Cuaca Sepekan Ke Depan
Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi, dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:
Siaga (Hujan lebat – sangat lebat): Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Kep Bangka Belitung, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur.
Angin Kencang: Nusa Tenggara Timur dan Maluku.
Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi, dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:
Siaga (Hujan lebat-sangat lebat): Kep Bangka Belitung, Jawa Tengah, Jawa Timur
Angin Kencang: Nusa Tenggara Timur dan Maluku.
BMKG juga mendeteksi di wilayah Selat Karimata kecepatan angin masih menguat yang mendeteksi adanya aktivitas Cross-Equatorial Northerly Surge (CENS).
Baca juga: BMKG Prediksi Hujan Lebat hingga Februari 2026, Kemarau Capai Puncak pada Mei
“Di wilayah barat dan selatan Indonesia juga teramati angin baratan yang menguat sehingga mengakibatkan terjadinya konvergensi dan konfluensi yang meningkatkan pembentukan awan konvektif di wilayah Samudra Hindia barat Sumbar hingga Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan,” tulis BMKG, Sabtu (31/1/2026).
Keberadaan Bibit Siklon Tropis 98S yang telah melemah menjadi Pusat Tekanan Rendah turut berkontribusi terhadap peningkatan pembentukan awan konvektif di wilayah selatan Indonesia dalam sepekan terakhir. Hal ini juga didukung oleh kondisi kelembaban udara yang tinggi serta labilitas atmosfer yang kuat.
“Akibat dari beberapa faktor tersebut, proses pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di bagian selatan berlangsung lebih intensif dan dengan cakupan meluas, sehingga memicu terjadinya berbagai bencana hidrometeorologi dalam periode sepekan terakhir,” ungkapnya.
Dalam sepekan ke depan, BMKG memprakirakan pengaruh dinamika atmosfer pada skala global, regional, dan lokal masih signifikan terhadap kondisi cuaca di Indonesia. Pada skala global, El Nino–Southern Oscillation (ENSO) terpantau berada pada kategori Netral – La Nina lemah dengan nilai SOI teramati signifikan sebesar +8.6 dan indeks NINO 3.4 sebesar -0.79 yang signifikan terhadap peningkatan pola konvektif di wilayah Indonesia, terutama bagian timur.
Selain La Nina lemah, aktivitas monsun Asia diprediksi masih cukup persisten hingga dasarian pertama Februari. Fenomena Cross Equatorial Northerly Surge (CENS) atau aliran massa udara dingin yang melintasi ekuator juga diprakirakan masih aktif dalam beberapa hari ke depan.
Lebih jauh lagi, daerah tekanan rendah berpotensi terbentuk di Teluk Carpentaria yang dapat membentuk daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) di wilayah Indonesia bagian selatan.
Kombinasi antara MJO, Gelombang Rossby Ekuator, dan Gelombang Kelvin diprediksi aktif di Samudra Hindia barat Jawa hingga selatan NTT, Lampung, Laut Sulu, Laut Arafura, Papua Selatan, yang berkontribusi terhadap peningkatan aktivitas konvektif dan potensi hujan di wilayah tersebut.
Melihat potensi cuaca yang masih signifikan, BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada dan melakukan mitigasi diri, keluarga, dan lingkungannya terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti genangan, banjir, banjir bandang, dan longsor.
Berikut Prospek Cuaca Sepekan Ke Depan
Periode 30 Januari-1 Februari 2026
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan sedang. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang-lebat yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kep Riau, Jambi, Bengkulu, Lampung, Banten, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi, dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:
Siaga (Hujan lebat – sangat lebat): Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Kep Bangka Belitung, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur.
Angin Kencang: Nusa Tenggara Timur dan Maluku.
Periode 2-5 Februari 2026
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan sedang. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang-lebat yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kep. Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, serta Papua Selatan.Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi, dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:
Siaga (Hujan lebat-sangat lebat): Kep Bangka Belitung, Jawa Tengah, Jawa Timur
Angin Kencang: Nusa Tenggara Timur dan Maluku.
(jon)
Lihat Juga :