BPOM Gandeng Kemendiktisaintek Kembangkan Riset Obat Nasional
Kamis, 29 Januari 2026 - 17:22 WIB
loading...
BPOM berkolaborasi dengan Kemendiktisaintek guna mendorong riset obat nasional dalam rangka memperkuat inovasi dan kemandirian farmasi Indonesia. Foto/.Ist
A
A
A
JAKARTA - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) guna mendorong riset obat nasional. Kolaborasi ini dituangkan dalam nota kesepahaman (MoU) untuk memperkuat inovasi dan kemandirian farmasi Indonesia.
Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan, kerja sama ini sejalan pembangunan nasional. BPOM, lanjut dia, ingin berkontribusi ekonomi Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan pertumbuhan 8 persen melalui regulasi, pengawasan, dan riset.
Baca juga: Kepala BPOM Inisiasi Pengembangan Obat Herbal melalui Kolaborasi WHO IRCH
“BPOM otoritas vital dalam mereformasi regulasi. Hal ini demi mencapai pertumbuhan ekonomi, keamanan, mutu, khasiat, serta melindungi masyarakat dari bahaya obat makanan," kata Taruna saat HUT ke-25 BPOM di Jakarta, dikutip Kamis (29/1/2026).
Taruna mencanangkan konsep Academia Business Government untuk mengawal riset sejak hulu. “BPOM mengawal riset penting dari awal hingga pemanfaatan,” katanya.
Peran BPOM diperluas melampaui sertifikasi keamanan obat dan makanan. Lembaga ini ingin menjadi mitra pengembangan sains kesehatan.
Sementara itu, Mendiktisaintek Brian Yuliarto menyambut baik kerja sama tersebut. Ia berharap, kolaborasi ini dapat menjadi lokomotif pembangunan industri obat-obatan di Indonesia.
Baca juga: Kepala BPOM Inisiasi Pengembangan Obat Herbal melalui Kolaborasi WHO IRCH
“Kami dari Kemendiktisaintek bersama dengan BPOM siap untuk mengerahkan para peneliti, profesor-profesor, guru besar untuk melakukan riset. Anggaran riset pun kami siap untuk berikan,” kata Brian.
Kemendiktisaintek melihat kolaborasi mempercepat lahirnya produsen obat inovatif. Targetnya Indonesia beralih dari konsumen menjadi produsen.
“Kita akan melihat bagaimana bangsa kita bisa memiliki produk-produk unggulan. Menggantikan produk-produk impor,” ujarnya.
Menurutnya, BPOM telah memiliki peralatan pengujian yang canggih untuk mendukung pengembangan inovasi. Kondisi tersebut dinilai mampu meningkatkan keterlibatan kalangan akademisi dalam riset kesehatan dan farmasi.
Dia juga mengajak pelaku industri berperan aktif dalam pengembangan produk obat dalam negeri. Dari kolaborasi tersebut diharapkan lahir produk unggulan nasional yang mampu menggantikan produk impor.
Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan, kerja sama ini sejalan pembangunan nasional. BPOM, lanjut dia, ingin berkontribusi ekonomi Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan pertumbuhan 8 persen melalui regulasi, pengawasan, dan riset.
Baca juga: Kepala BPOM Inisiasi Pengembangan Obat Herbal melalui Kolaborasi WHO IRCH
“BPOM otoritas vital dalam mereformasi regulasi. Hal ini demi mencapai pertumbuhan ekonomi, keamanan, mutu, khasiat, serta melindungi masyarakat dari bahaya obat makanan," kata Taruna saat HUT ke-25 BPOM di Jakarta, dikutip Kamis (29/1/2026).
Taruna mencanangkan konsep Academia Business Government untuk mengawal riset sejak hulu. “BPOM mengawal riset penting dari awal hingga pemanfaatan,” katanya.
Peran BPOM diperluas melampaui sertifikasi keamanan obat dan makanan. Lembaga ini ingin menjadi mitra pengembangan sains kesehatan.
Sementara itu, Mendiktisaintek Brian Yuliarto menyambut baik kerja sama tersebut. Ia berharap, kolaborasi ini dapat menjadi lokomotif pembangunan industri obat-obatan di Indonesia.
Baca juga: Kepala BPOM Inisiasi Pengembangan Obat Herbal melalui Kolaborasi WHO IRCH
“Kami dari Kemendiktisaintek bersama dengan BPOM siap untuk mengerahkan para peneliti, profesor-profesor, guru besar untuk melakukan riset. Anggaran riset pun kami siap untuk berikan,” kata Brian.
Kemendiktisaintek melihat kolaborasi mempercepat lahirnya produsen obat inovatif. Targetnya Indonesia beralih dari konsumen menjadi produsen.
“Kita akan melihat bagaimana bangsa kita bisa memiliki produk-produk unggulan. Menggantikan produk-produk impor,” ujarnya.
Menurutnya, BPOM telah memiliki peralatan pengujian yang canggih untuk mendukung pengembangan inovasi. Kondisi tersebut dinilai mampu meningkatkan keterlibatan kalangan akademisi dalam riset kesehatan dan farmasi.
Dia juga mengajak pelaku industri berperan aktif dalam pengembangan produk obat dalam negeri. Dari kolaborasi tersebut diharapkan lahir produk unggulan nasional yang mampu menggantikan produk impor.
(shf)
Lihat Juga :