Politik, Iman, dan Belanja: Mesin Peradaban Manusia

Selasa, 20 Januari 2026 - 15:48 WIB
loading...
Politik, Iman, dan Belanja:...
Taufiq Fredrik Pasiak, Ilmuwan Otak dan Perilaku, Dekan Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta. Foto/Dok.Pribadi
A A A
Taufiq Fredrik Pasiak
Ilmuwan Otak dan Perilaku, Dekan Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta

TIDAK ada satu pun peradaban manusia yang runtuh karena kurangnya kecerdasan. Yang ada justru sebaliknya: manusia terlalu cerdas untuk tidak menyadari betapa rapuh dirinya. Dari kesadaran inilah -akan kelaparan, kematian, dan konflik- lahir peradaban. Bukan sebagai kemenangan rasio, melainkan sebagai strategi bertahan hidup spesies yang tahu bahwa ia bisa gagal.

Jika kita kupas peradaban hingga ke lapisan biologisnya, maka kita menemukan tiga naluri yang terus bekerja, bahkan ketika namanya berubah: politik, agama, dan konsumsi. Ketiganya bukan ciptaan budaya semata, melainkan ekspresi dari otak evolusioner yang sama -otak yang harus mengatur kekuasaan, memberi makna pada penderitaan, dan memastikan energi tetap tersedia.

Politik muncul dari kebutuhan mengelola ketergantungan sosial. Manusia tidak bisa hidup sendiri, tetapi hidup bersama selalu membawa risiko. Maka politik berfungsi sebagai mekanisme pengatur ketakutan kolektif: siapa memimpin, siapa dilindungi, dan siapa boleh dipinggirkan. Ia tidak pernah sepenuhnya rasional, karena ia bekerja langsung pada emosi sosial yang lebih tua daripada logika formal. Itulah sebabnya simbol, identitas, dan rasa “kami” selalu lebih kuat daripada argumen terbaik.

Agama hadir di sisi lain ketakutan: bukan takut pada sesama, tetapi pada kefanaan. Kesadaran akan kematian membuat manusia tidak cukup hanya bertahan hidup; ia ingin hidupnya berarti. Agama menyediakan makna yang melampaui individu, waktu, dan tubuh. Dalam kerangka evolusi, ia berfungsi sebagai perekat sosial dan penenang psikologis - sebuah sistem yang memungkinkan manusia tetap kooperatif meski masa depan tak pasti. Ketika agama dituntut menjawab pertanyaan sains, ia goyah; tetapi selama manusia mencari makna, ia bertahan.

Konsumsi melengkapi dua naluri lainnya. Ia berakar pada kelaparan purba, tetapi berkembang menjadi bahasa status dan identitas. Dalam dunia modern, naluri ini kehilangan rem alami. Otak yang berevolusi untuk kelangkaan kini hidup di tengah kelimpahan. Akibatnya, konsumsi tidak lagi menjawab kebutuhan biologis, melainkan mengisi kekosongan makna yang gagal dipenuhi oleh politik dan agama.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kritisi Parpol Koalisi,...
Kritisi Parpol Koalisi, Deddy PDIP: Jika Tidak Nyaman dengan Situasi Politik, Silakan Keluar dari Pemerintahan
Kapolda Riau Gaungkan...
Kapolda Riau Gaungkan Polisi Penjaga Peradaban di Dies Natalis Ke-80 STIK Polri
Pesan Said Didu untuk...
Pesan Said Didu untuk Prabowo: Waktu Melakukan Akomodasi Politik Sudah Lewat
Said Didu: Jangan Juga...
Said Didu: Jangan Juga Semua Orang Kritis Ditakut-takuti
5 Peristiwa Politik...
5 Peristiwa Politik Pekan Ini: Said Iqbal Jadi Penasihat Presiden, Prabowo Terima JK, hingga Mahasiswa Turun ke Jalan
Islam: Agama yang Paling...
Islam: Agama yang Paling Disalahpahami
Dari Dunia Usaha ke...
Dari Dunia Usaha ke Politik, Jejak Pengabdian Yulius Aho untuk Kalbar
Partai Janta Kecoa Jadi...
Partai Janta Kecoa Jadi Inspirasi bagi Gen Z di Seluruh Dunia
Bebas dari Penjara,...
Bebas dari Penjara, Thaksin Shinawatra Dapat Pengampunan Raja Thailand
Rekomendasi
Gelar Serangan Balasan,...
Gelar Serangan Balasan, Rusia Hancurkan Fasilitas Energi di Seluruh Ukraina
Profil Eloy Room, Kiper...
Profil Eloy Room, Kiper Moncer Timnas Curacao yang Cetak Sejarah di Piala Dunia 2026
Marc Marquez Juara MotoGP...
Marc Marquez Juara MotoGP Republik Ceko 2026
Berita Terkini
Dokter Tifa Masih Diinfus...
Dokter Tifa Masih Diinfus dan Roy Suryo Tidak Mau Makan Obat
Refly Harun Sudah Siapkan...
Refly Harun Sudah Siapkan Surat Permohonan Penangguhan Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa
Refly Harun Ungkap Kondisi...
Refly Harun Ungkap Kondisi Terkini Roy Suryo dan Dokter Tifa
Prabowo Panggil Rosan...
Prabowo Panggil Rosan Roeslani ke Kertanegara Minggu Malam, Ada Apa?
MUI Tegaskan LGBT adalah...
MUI Tegaskan LGBT adalah Penyimpangan: Wajib Disembuhkan
Deretan Pasal Menjerat...
Deretan Pasal Menjerat Roy Suryo dan Dokter Tifa di Kasus Ijazah Jokowi
Infografis
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Sulit Terwujud
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved