Soroti Layanan Digital Perpustakaan, Bonnie PDIP: Sering Susah Diakses
Jum'at, 16 Januari 2026 - 11:45 WIB
loading...
Anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana menyoroti persoalan layanan digital hingga kondisi fisik perpustakaan di Indonesia, termasuk milik tokoh pendiri bangsa. Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - Anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana menyoroti persoalan layanan digital hingga kondisi fisik perpustakaan di Indonesia, termasuk milik tokoh pendiri bangsa. Kritik disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Kepala Perpustakaan Nasional di Gedung DPR RI, Jakarta, belum lama ini.
"Kalau lagi sedang malas pergi, saya biasanya akses Ipusnas. Tapi, belakangan ini Ipusnas sering macet," ujar Bonnie.
Baca juga: Mewujudkan Pendidikan Berkualitas dengan Membangun Perpustakaan Digital di Tapal Batas
Anggota Fraksi PDIP itu menceritakan pengalamannya mengunduh buku yang terhenti karena sistem terkunci dan menemui gangguan akses yang berlanjut meski masa pemeliharaan seharusnya selesai.
Dia mengingatkan agar efisiensi anggaran tidak mengorbankan layanan publik dasar. Di sisi lain, Bonnie juga mengungkap kondisi memprihatinkan perpustakaan daerah.
Berdasarkan data, masih ada 19 kabupaten/kota dan lima provinsi baru yang belum memiliki perpustakaan. "Saya datang ke sana, koleksinya disimpan di satu ruangan tanpa pendingin, lembab. Kita tahu kondisi kelembapan tinggi di Indonesia, buku harus dirawat," katanya.
Bonnie meminta Perpusnas membimbing perpustakaan daerah agar standar perawatan terpenuhi. Perhatian khusus juga disampaikan untuk perpustakaan tokoh bangsa. "Perpustakaan Bung Karno dan Bung Hatta ini juga tolong diperhatikan," ucapnya.
Dia mencontohkan perpustakaan pribadi Bung Hatta di Jalan Proklamasi yang memerlukan perhatian sekaligus mendorong akses publik untuk koleksi buku Bung Karno yang tersebar di Istana Bogor dan Balai Kirti.
Politikus yang pernah menjadi kurator di Rijksmuseum Amsterdam ini mendorong komunikasi agar koleksi itu bisa dibuka publik sebagai sumber pengetahuan sejarah.
Merespons keberhasilan repatriasi 42 naskah kuno Nusantara dari Australia, Bonnie menyambut baik langkah mendekolonisasi pengetahuan tersebut. Namun, dia mempertanyakan kesiapan anggaran perawatan manuskrip-manuskrip berharga itu.
"Ketika saya lihat anggaran kira-kira sanggup nggak merawat naskah-naskah kuno yang dipulangkan tadi? Kita saja kadang tidak mampu merawat karena keterbatasan anggaran," ujarnya.
"Kalau lagi sedang malas pergi, saya biasanya akses Ipusnas. Tapi, belakangan ini Ipusnas sering macet," ujar Bonnie.
Baca juga: Mewujudkan Pendidikan Berkualitas dengan Membangun Perpustakaan Digital di Tapal Batas
Anggota Fraksi PDIP itu menceritakan pengalamannya mengunduh buku yang terhenti karena sistem terkunci dan menemui gangguan akses yang berlanjut meski masa pemeliharaan seharusnya selesai.
Dia mengingatkan agar efisiensi anggaran tidak mengorbankan layanan publik dasar. Di sisi lain, Bonnie juga mengungkap kondisi memprihatinkan perpustakaan daerah.
Berdasarkan data, masih ada 19 kabupaten/kota dan lima provinsi baru yang belum memiliki perpustakaan. "Saya datang ke sana, koleksinya disimpan di satu ruangan tanpa pendingin, lembab. Kita tahu kondisi kelembapan tinggi di Indonesia, buku harus dirawat," katanya.
Bonnie meminta Perpusnas membimbing perpustakaan daerah agar standar perawatan terpenuhi. Perhatian khusus juga disampaikan untuk perpustakaan tokoh bangsa. "Perpustakaan Bung Karno dan Bung Hatta ini juga tolong diperhatikan," ucapnya.
Dia mencontohkan perpustakaan pribadi Bung Hatta di Jalan Proklamasi yang memerlukan perhatian sekaligus mendorong akses publik untuk koleksi buku Bung Karno yang tersebar di Istana Bogor dan Balai Kirti.
Politikus yang pernah menjadi kurator di Rijksmuseum Amsterdam ini mendorong komunikasi agar koleksi itu bisa dibuka publik sebagai sumber pengetahuan sejarah.
Merespons keberhasilan repatriasi 42 naskah kuno Nusantara dari Australia, Bonnie menyambut baik langkah mendekolonisasi pengetahuan tersebut. Namun, dia mempertanyakan kesiapan anggaran perawatan manuskrip-manuskrip berharga itu.
"Ketika saya lihat anggaran kira-kira sanggup nggak merawat naskah-naskah kuno yang dipulangkan tadi? Kita saja kadang tidak mampu merawat karena keterbatasan anggaran," ujarnya.
(jon)
Lihat Juga :