Tes Kemampuan Akademik dalam Perspektif Filsafat Ilmu

Selasa, 06 Januari 2026 - 19:59 WIB
loading...
Tes Kemampuan Akademik...
Hendarman - Ketua Dewan Pakar Jabatan Fungsional Analis Kebijakan INAKI, Analis Kebijakan Ahli Utama pada Kemendikdasmen. Foto/Dok pribadi
A A A
Hendarman
Analis Kebijakan Ahli Utama pada Pusat Penguatan Karakter Kemendikdasmen, Ketua Dewan Pakar JFAT INAKI, Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan Bogor

Perdebatan mengenai Tes Kemampuan Akademik (TKA) sesungguhnya bukan sekadar soal teknis ujian atau kekhawatiran terhadap beban murid. Diskursus TKA secara tidak langsung mencerminkan pertanyaan mendasar tentang arah pendidikan nasional. Ini terkait dengan pengetahuan seperti apa yang dianggap penting, bagaimana pengetahuan itu dinilai, dan untuk tujuan apa pendidikan diselenggarakan.

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan telah bergerak menjauh dari pendekatan evaluasi yang semata-mata bersifat sumatif dan seragam. Ujian Nasional dihapuskan, asesmen nasional diperkenalkan, dan penilaian formatif didorong menjadi bagian utama pembelajaran. Di tengah upaya tersebut, muncul kesadaran baru bahwa sistem pendidikan tetap memerlukan instrumen yang dapat menjamin standar kompetensi akademik minimum secara adil dan kredibel. Dalam kaitan ini, kehadiran Tes Kemampuan Akademik menemukan relevansinya.

Yang menjadi diskursus juga terkait dikotomi lama yaitu ujian sebagai “momok” atau ujian sebagai “penyelamat”. TKA perlu diletakkan dalam kerangka berpikir yang lebih dalam. Pendekatan filsafat ilmu, khususnya melalui tiga cabang utama: ontologi, epistemologi, dan aksiologi, seyogianya dapat membantu untuk memahami nilai positif TKA secara lebih utuh dan proporsional.

Ontologi TKA
Ontologi berbicara tentang hakikat realitas yaitu tentang apa yang sebenarnya ada dan dianggap penting. Dalam konteks TKA, pertanyaan ontologis adalah “apa yang sesungguhnya diukur oleh Tes Kemampuan Akademik?”

TKA pada dasarnya perlu dipandang sebagai pengakuan bahwa terdapat kompetensi akademik dasar yang bersifat esensial dan lintas konteks. Literasi membaca, penalaran matematis, dan kemampuan berpikir logis bukan sekadar konten kurikulum, melainkan fondasi berpikir yang memungkinkan seseorang belajar sepanjang hayat. Maknanya bahwa TKA tidak sedang mengukur hafalan atau penguasaan materi sempit, melainkan kapasitas intelektual yang bersifat generatif.

Secara ontologis, TKA menegaskan bahwa pengetahuan bukan hanya kumpulan fakta, tetapi struktur kemampuan berpikir. Ini menjadi penting di tengah era disrupsi informasi, ketika akses terhadap pengetahuan semakin mudah. Yang menjadi tantangan utama justru kemampuan memilah, memahami, dan menggunakannya secara bertanggung jawab.

Perspektif ini memahami TKA sebagai instrumen afirmasi bahwa pendidikan tetap memiliki inti akademik yang tidak boleh diabaikan. Tanpa kejelasan standar kompetensi akademik, pendidikan berisiko kehilangan pijakan objektifnya dan terjebak dalam relativisme penilaian.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
1.000 Taruna Akmil Bakal...
1.000 Taruna Akmil Bakal Latih Siswa Sekolah Rakyat
Terbitkan SE Pengendalian...
Terbitkan SE Pengendalian Gratifikasi SPMB, KPK Soroti Calon Siswa Titipan
Ferdy Sambo Kuliah S2...
Ferdy Sambo Kuliah S2 di Lapas Cibinong, Ini Penjelasan Ditjen Pemasyarakatan
Ekonomi Digital dan...
Ekonomi Digital dan Pendidikan: Peluang Besar atau Ancaman Baru?
Pendidikan di Antara...
Pendidikan di Antara Keinginan Pasar dan Janji Kesejahteraan
Pungutan Perpisahan...
Pungutan Perpisahan Dinilai Bebani Orang Tua, Legislator Perindo Minta Disdik Kota Medan Bertindak
Siapkan Generasi Unggul,...
Siapkan Generasi Unggul, Yayasan Pendidikan Islam RUS Kudus Hadirkan SMP Internasional
Dukung Sekolah Nyaman,...
Dukung Sekolah Nyaman, Pegadaian Praya Edukasi Siswa Siapkan Masa Depan Lewat Emas
Keterbatasan SDM Jadi...
Keterbatasan SDM Jadi Tantangan di Papua, Talius Tabuni Dukung Penguatan Program Beasiswa Puncak Cerdas
Rekomendasi
Rusia Balas Dendam!...
Rusia Balas Dendam! Rudal dan Drone Gempur Ukraina, 11 Orang Tewas
Larangan dan Sanksi...
Larangan dan Sanksi MPLS 2026, Atribut Tidak Relevan hingga Pungutan Biaya Dilarang
Pembangunan Flyover...
Pembangunan Flyover Latumenten Capai 55,2%, Ditargetkan Beroperasi 15 Desember 2026
Berita Terkini
Menekraf Ajak Generasi...
Menekraf Ajak Generasi Muda Berperan Aktif dalam Kebangkitan Ekonomi Kreatif Indonesia
Breaking News! Kejagung...
Breaking News! Kejagung Tetapkan Brigjen Pol LMI Jadi Tersangka Korupsi Pengadaan Ompreng MBG
Sahroni Minta Siber...
Sahroni Minta Siber Polri Kejar Dalang Spam Judi Online di Medsos: Bukan Hal Sulit bagi Polisi
Pasar Global Meluas,...
Pasar Global Meluas, UMKM Wajib Perluas Jangkauan dan Kompetitif
Prabowo: Indonesia-Belarus...
Prabowo: Indonesia-Belarus Sepakat Mendukung Perdamaian dan Stabilitas Dunia
Dokter Tifa Tolak Berdamai...
Dokter Tifa Tolak Berdamai dengan Jokowi, Pilih Lanjutkan Persidangan
Infografis
5 Pemain Paling Ikonik...
5 Pemain Paling Ikonik dalam Sejarah Piala Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved