Pengamat Dorong Densus 88 Selidiki Profil Keluarga 68 Anak yang Terpapar Ideologi Ekstrem
Selasa, 06 Januari 2026 - 08:47 WIB
loading...
Pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Kertopati mengatakan, perlu ada penyelidikan terhadap profil keluarga anak-anak yang terpapar ideologi ekstrem. Foto/SiindoNews
A
A
A
JAKARTA - Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri melakukan pendampingan terhadap 68 anak yang diduga terpapar ideologi ekstrem dan memiliki potensi melakukan tindakan kekerasan. Anak-anak tersebut tersebar di 18 provinsi di Indonesia.
Anak-anak tersebut diketahui tergabung dalam True Crime Community (TCC), sebuah kelompok daring yang menyebarkan paham ekstrem seperti Neo-Nazi dan supremasi kulit putih (white supremacy).
Polri mengungkapkan, anak-anak yang terpapar ideologi tersebut tidak hanya terpapar secara wacana, tetapi juga telah menguasai berbagai jenis senjata berbahaya, sehingga berpotensi mengancam keselamatan lingkungan sekitar. Temuan ini menjadi perhatian serius aparat penegak hukum karena melibatkan kelompok usia anak yang sangat rentan terhadap pengaruh ekstremisme digital.
Baca juga: Pertahankan Zero Attack, Densus 88 Amankan 51 Tersangka Terorisme
Pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Kertopati mengatakan, perlu ada penyelidikan terhadap profil keluarga anak-anak tersebut.
“Pandangan saya 68 orang anak ini bukan saja hanya diberi pendampingan tetapi juga harus ada penyelidikan terhadap profil keluarga mereka. Ini menjadi penting untuk memperoleh data embrio sebab akibat perilaku 68 anak tersebut,” ujarnya, Selasa (6/1/2026).
Baca juga: 63 Brigjen TNI Dimutasi pada Desember 2025, Ini Daftar Namanya
Mantan anggota Komisi I DPR ini menyebut, bisa dipastikan mereka ini mencari sosok atau perilaku yang bisa dijadikan tauladan sehingga mengabaikan bahaya di balik perbuatannya. Bahkan dengan memiliki wacana pikir Neo Nazi tersebut muncul mensrea akan dioperasikan di tengah masyarakat agar mereka dianggap hebat atau 'keren'.
Perempuan yang akrab disapa Nuning ini menambahkan, semua bisa berkembang karena mereka berada di lingkungan yang mendukungnya. Suatu kreativitas tidak akan jalan tanpa lingkungan yang mendukung. Inilah yang disebut enabling environment-kondisi yang memungkinkan investasi masuk dan berkembang,"
“Secara empirik di usia mereka kebutuhan dianggap punya pengetahuan lebih dari orang lain atau lebih hebat besar sekali,” ucapnya.
Anak-anak tersebut diketahui tergabung dalam True Crime Community (TCC), sebuah kelompok daring yang menyebarkan paham ekstrem seperti Neo-Nazi dan supremasi kulit putih (white supremacy).
Polri mengungkapkan, anak-anak yang terpapar ideologi tersebut tidak hanya terpapar secara wacana, tetapi juga telah menguasai berbagai jenis senjata berbahaya, sehingga berpotensi mengancam keselamatan lingkungan sekitar. Temuan ini menjadi perhatian serius aparat penegak hukum karena melibatkan kelompok usia anak yang sangat rentan terhadap pengaruh ekstremisme digital.
Baca juga: Pertahankan Zero Attack, Densus 88 Amankan 51 Tersangka Terorisme
Pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Kertopati mengatakan, perlu ada penyelidikan terhadap profil keluarga anak-anak tersebut.
“Pandangan saya 68 orang anak ini bukan saja hanya diberi pendampingan tetapi juga harus ada penyelidikan terhadap profil keluarga mereka. Ini menjadi penting untuk memperoleh data embrio sebab akibat perilaku 68 anak tersebut,” ujarnya, Selasa (6/1/2026).
Baca juga: 63 Brigjen TNI Dimutasi pada Desember 2025, Ini Daftar Namanya
Mantan anggota Komisi I DPR ini menyebut, bisa dipastikan mereka ini mencari sosok atau perilaku yang bisa dijadikan tauladan sehingga mengabaikan bahaya di balik perbuatannya. Bahkan dengan memiliki wacana pikir Neo Nazi tersebut muncul mensrea akan dioperasikan di tengah masyarakat agar mereka dianggap hebat atau 'keren'.
Perempuan yang akrab disapa Nuning ini menambahkan, semua bisa berkembang karena mereka berada di lingkungan yang mendukungnya. Suatu kreativitas tidak akan jalan tanpa lingkungan yang mendukung. Inilah yang disebut enabling environment-kondisi yang memungkinkan investasi masuk dan berkembang,"
“Secara empirik di usia mereka kebutuhan dianggap punya pengetahuan lebih dari orang lain atau lebih hebat besar sekali,” ucapnya.
(cip)
Lihat Juga :