Gus Yahya Lepas Napak Tilas Pendirian NU, Tempuh Rute Bangkalan ke Tebuireng
Senin, 05 Januari 2026 - 07:32 WIB
loading...
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf hadir saat Napak Tilas Jejak Restu Pendirian NU rute Ponpes Syaichona Moh. Cholil, Bangkalan ke Ponpes Tebu Ireng, Jombang. Foto/Ist
A
A
A
BANGKALAN - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf melepas Napak Tilas Jejak Restu Pendirian NU yang menempuh rute Pondok Pesantren (Ponpes) Syaichona Moh. Cholil, Bangkalan ke Ponpes Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur. Kegiatan ini menjadi penanda perjalanan fisik sekaligus spiritual untuk menelusuri kembali jejak restu berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) dari para muassis.
Gus Yahya, panggilan akrabKH Yahya Cholil Staquf sejak Minggu, 4 Januari 2026 dini hari telah berada di kompleks Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil, Bangkalan.
Baca juga: Silaturahmi Syuriyah-Tanfidziyah PBNU, Gus Yahya: Semua Kembali seperti Semula
Ia mengawali kegiatan dengan Salat Subuh berjamaah di Masjid Syaichona Cholil, dilanjutkan dengan pembacaan tahlil di maqbarah Syaichona Moh. Cholil.
“Napak tilas ini bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi menghadirkan kembali kesadaran bahwa NU berdiri di atas restu para guru dan ulama dengan landasan spiritual yang sangat kuat,” ujar Gus Yahya.
Usai tahlil, Gus Yahya secara resmi melepas keberangkatan KHR. Ach. Azaim Ibrahimy bersama ribuan peserta longmarch. Pelepasan tersebut menandai dimulainya perjalanan napak tilas rute bersejarah saat Kiai As’ad Syamsul Arifin mengantarkan isyarat restu dari Syaichona Moh. Cholil kepada KH Hasyim Asy’ari.
Menurut Gus Yahya, perjalanan ini mengandung pesan penting bagi kepemimpinan NU hari ini. “Yang sedang kita jaga bukan hanya organisasi secara struktural, tetapi amanah ruhani yang diwariskan para pendiri NU,” tegasnya.
Baca juga: Keputusan Rapat Konsultasi Syuriyah-Mustasyar PBNU di Lirboyo Final dan Mengikat
Puncak kegiatan dijadwalkan berlangsung di Tebuireng, Jombang dengan prosesi penyerahan simbol-simbol sejarah berupa tongkat dan tasbih.
KHR. Ach. Azaim Ibrahimy selaku dzurriyah Kiai As’ad menyerahkan pusaka tersebut kepada perwakilan dzurriyah KH Hasyim Asy’ari, untuk kemudian diteruskan kepada Rais Aam PBNU dan selanjutnya kepada Ketua Umum PBNU.
Panitia penyelenggara menegaskan, estafet simbolik tersebut menjadi penanda kesinambungan spiritual kepemimpinan NU.
“Penyerahan tasbih kepada Ketua Umum PBNU menyimbolkan mandat agar roda organisasi dijalankan dengan dzikir, ketenangan batin, dan nilai-nilai spiritualitas yang diwariskan para muassis,” demikian pernyataan panitia penyelenggara.
Melalui kegiatan ini, PBNU berharap kader NU semakin memahami bahwa Nahdlatul Ulama lahir bukan semata dari kesepakatan formal, melainkan dari restu para guru, isyarat spiritual, dan ketulusan ulama dalam membangun jam’iyah yang berkhidmat untuk umat dan bangsa.
Gus Yahya, panggilan akrabKH Yahya Cholil Staquf sejak Minggu, 4 Januari 2026 dini hari telah berada di kompleks Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil, Bangkalan.
Baca juga: Silaturahmi Syuriyah-Tanfidziyah PBNU, Gus Yahya: Semua Kembali seperti Semula
Ia mengawali kegiatan dengan Salat Subuh berjamaah di Masjid Syaichona Cholil, dilanjutkan dengan pembacaan tahlil di maqbarah Syaichona Moh. Cholil.
“Napak tilas ini bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi menghadirkan kembali kesadaran bahwa NU berdiri di atas restu para guru dan ulama dengan landasan spiritual yang sangat kuat,” ujar Gus Yahya.
Usai tahlil, Gus Yahya secara resmi melepas keberangkatan KHR. Ach. Azaim Ibrahimy bersama ribuan peserta longmarch. Pelepasan tersebut menandai dimulainya perjalanan napak tilas rute bersejarah saat Kiai As’ad Syamsul Arifin mengantarkan isyarat restu dari Syaichona Moh. Cholil kepada KH Hasyim Asy’ari.
Menurut Gus Yahya, perjalanan ini mengandung pesan penting bagi kepemimpinan NU hari ini. “Yang sedang kita jaga bukan hanya organisasi secara struktural, tetapi amanah ruhani yang diwariskan para pendiri NU,” tegasnya.
Baca juga: Keputusan Rapat Konsultasi Syuriyah-Mustasyar PBNU di Lirboyo Final dan Mengikat
Puncak kegiatan dijadwalkan berlangsung di Tebuireng, Jombang dengan prosesi penyerahan simbol-simbol sejarah berupa tongkat dan tasbih.
KHR. Ach. Azaim Ibrahimy selaku dzurriyah Kiai As’ad menyerahkan pusaka tersebut kepada perwakilan dzurriyah KH Hasyim Asy’ari, untuk kemudian diteruskan kepada Rais Aam PBNU dan selanjutnya kepada Ketua Umum PBNU.
Panitia penyelenggara menegaskan, estafet simbolik tersebut menjadi penanda kesinambungan spiritual kepemimpinan NU.
“Penyerahan tasbih kepada Ketua Umum PBNU menyimbolkan mandat agar roda organisasi dijalankan dengan dzikir, ketenangan batin, dan nilai-nilai spiritualitas yang diwariskan para muassis,” demikian pernyataan panitia penyelenggara.
Melalui kegiatan ini, PBNU berharap kader NU semakin memahami bahwa Nahdlatul Ulama lahir bukan semata dari kesepakatan formal, melainkan dari restu para guru, isyarat spiritual, dan ketulusan ulama dalam membangun jam’iyah yang berkhidmat untuk umat dan bangsa.
(shf)
Lihat Juga :