Venezuela dan Ilusi Kedaulatan di Hadapan Negara Adidaya: Pelajaran Penting bagi Indonesia
Minggu, 04 Januari 2026 - 09:41 WIB
loading...
A
A
A
Jika benar Venezuela mengalami operasi militer langsung tanpa mandat internasional yang jelas, maka ini akan menjadi salah satu contoh paling gamblang bahwa tatanan dunia berbasis aturan (rules-based order) sedang mengalami erosi serius.
Pemerintah AS menuding Venezuela sebagai “negara narkoba”, menuduh pemilu dimanipulasi, dan menyatakan pemerintah Maduro sebagai ancaman regional.
Tuduhan-tuduhan ini, benar atau tidak, memiliki fungsi politik yang penting: membangun legitimasi moral atas tindakan keras.
Sejarah menunjukkan bahwa intervensi militer jarang disampaikan secara telanjang sebagai perebutan kepentingan strategis. Ia hampir selalu dibingkai sebagai misi moral.
Irak, Panama, dan Libya adalah contoh bagaimana narasi keamanan dan kemanusiaan digunakan untuk membenarkan tindakan sepihak. Venezuela kini tampak berada dalam pola yang sama.
Ironisnya, sehari sebelum klaim penangkapan itu muncul, Maduro justru menyatakan keterbukaan untuk berdialog dengan Amerika Serikat. Namun dalam politik kekuatan, niat dialog sering kali tidak cukup ketika satu pihak merasa memiliki keunggulan absolut.
Peristiwa ini juga menandai kemungkinan kembalinya era unilateralisme ekstrem, di mana negara kuat merasa tidak perlu menunggu konsensus global. Lembaga internasional seperti PBB berisiko semakin terpinggirkan, sementara hukum internasional menjadi selektif dalam penerapannya.
Jika tren ini berlanjut, maka dunia akan semakin tidak aman bagi negara-negara berkembang. Bukan karena mereka salah, tetapi karena mereka tidak cukup kuat untuk menolak tekanan.
Narasi Moral sebagai Alat Kekuasaan
Pemerintah AS menuding Venezuela sebagai “negara narkoba”, menuduh pemilu dimanipulasi, dan menyatakan pemerintah Maduro sebagai ancaman regional.
Tuduhan-tuduhan ini, benar atau tidak, memiliki fungsi politik yang penting: membangun legitimasi moral atas tindakan keras.
Sejarah menunjukkan bahwa intervensi militer jarang disampaikan secara telanjang sebagai perebutan kepentingan strategis. Ia hampir selalu dibingkai sebagai misi moral.
Irak, Panama, dan Libya adalah contoh bagaimana narasi keamanan dan kemanusiaan digunakan untuk membenarkan tindakan sepihak. Venezuela kini tampak berada dalam pola yang sama.
Ironisnya, sehari sebelum klaim penangkapan itu muncul, Maduro justru menyatakan keterbukaan untuk berdialog dengan Amerika Serikat. Namun dalam politik kekuatan, niat dialog sering kali tidak cukup ketika satu pihak merasa memiliki keunggulan absolut.
Kembali ke Era Unilateralisme
Peristiwa ini juga menandai kemungkinan kembalinya era unilateralisme ekstrem, di mana negara kuat merasa tidak perlu menunggu konsensus global. Lembaga internasional seperti PBB berisiko semakin terpinggirkan, sementara hukum internasional menjadi selektif dalam penerapannya.
Jika tren ini berlanjut, maka dunia akan semakin tidak aman bagi negara-negara berkembang. Bukan karena mereka salah, tetapi karena mereka tidak cukup kuat untuk menolak tekanan.
Pelajaran Strategis bagi Indonesia
Lihat Juga :