Kesadaran Kolektif Ekoteologis: Perspektif Islam dalam Merespons Krisis Lingkungan di Indonesia
Selasa, 23 Desember 2025 - 14:27 WIB
loading...
Rektor Universitas Darunnajah Dr. Much Hasan Darojat. Foto/Istimewa.
A
A
A
Rektor Universitas Darunnajah Dr. Much Hasan Darojat
Krisis ekologis yang terjadi di Indonesia kini semakin mengkhawatirkan. Baru-baru ini, kita dikejutkan oleh bencana banjir bandang yang melanda beberapa provinsi, yaitu Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Bencana ini menyebabkan lebih dari seribu jiwa melayang, serta menghancurkan ribuan rumah dan infrastruktur penting.
Kerugian material diperkirakan mencapai Rp68 triliun, berdasarkan data yang dipublikasikan oleh Kompas.com. Kejadian ini hanyalah puncak dari masalah ekologis yang telah berlangsung cukup lama. Data dari berbagai sumber menunjukkan bahwa Indonesia telah kehilangan sekitar 18 juta hektar hutan alam sejak tahun 1990 hingga 2024, termasuk hutan primer, rawa gambut, dan mangrove.
Kondisi ini semakin memprihatinkan karena hanya tersisa 68,3% luas kawasan hutan dibandingkan dengan jumlah sebelumnya (Mongabay.co.id). Penyebab utama dari kerusakan ini adalah konversi lahan untuk perkebunan, pertambangan, serta perubahan fungsi hutan yang tidak memperhatikan prinsip keberlanjutan ekologis.
Dalam melihat fenomena ini, kita perlu meninjau masalah ekologis ini dari perspektif ekoteologi. Ekoteologi adalah suatu pandangan yang melihat hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan dari sisi ajaran agama, khususnya Islam. Dalam perspektif Islam, alam bukan hanya sekedar sumber daya yang bisa dimanfaatkan begitu saja, tetapi merupakan anugerah dari Allah SWT yang harus dikelola dengan penuh tanggung jawab.
Alam merupakan sumber kehidupan bagi semua makhluk hidup yang ada di bumi. Manusia dan hewan memanfaatkan alam untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, namun pada saat yang sama, alam juga memberikan manfaat bagi makhluk hidup lainnya setelah mereka mati. Alam juga berperan sebagai siklus ekosistem yang saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya.
Di Indonesia, kekayaan alam yang begitu besar merupakan anugerah yang luar biasa dari Allah SWT. Namun, pemanfaatan kekayaan ini seringkali dilakukan secara tidak bijaksana dan berlebihan. Dalam Islam, pemanfaatan alam harus dilakukan secara bertanggung jawab dan tidak merusak keseimbangan ekosistem.
Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-A’raf ayat 56: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya.” Ayat ini mengingatkan kita untuk menjaga dan memelihara alam, bukan merusaknya. Pengelolaan alam dengan bijaksana dan berkelanjutan adalah kewajiban kita sebagai khalifah di muka bumi.
Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya melestarikan lingkungan. Salah satu ajaran beliau adalah dengan menanam pohon, yang menjadi simbol nyata dari kelestarian alam. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad, Rasulullah SAW bersabda: “Siapa saja yang mendirikan bangunan atau menanam pohon tanpa kezaliman dan melewati batas, niscaya itu akan bernilai pahala yang mengalir selama bermanfaat bagi makhluk Allah yang bersifat rahman.”
Menanam pohon adalah amalan yang mulia, yang dapat bermanfaat tidak hanya bagi manusia, tetapi juga untuk makhluk hidup lainnya, seperti binatang. Apa yang kita tanam bisa dimanfaatkan oleh orang lain dan makhluk hidup lainnya, bahkan bisa menjadi sedekah jariyah bagi kita. Ini menunjukkan bahwa dalam Islam, segala aktivitas yang bermanfaat bagi kehidupan, termasuk dalam hal pengelolaan alam, akan mendapatkan pahala dari Allah SWT.
Pentingnya menjaga alam ini juga tercermin dalam bagaimana kita bersyukur atas nikmat yang Allah SWT berikan. Dalam Al-Qur’an surah Ibrahim ayat 7, Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambahkan (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih.” Ayat ini mengingatkan kita bahwa rasa syukur yang tulus akan membawa tambahan nikmat, sementara jika kita mengingkari nikmat-Nya, maka kita akan mendapatkan akibat yang buruk.
Syukur merupakan salah satu bentuk pengakuan kita terhadap segala nikmat yang Allah berikan, termasuk nikmat atas kekayaan alam yang ada di sekitar kita. Rasa syukur ini seharusnya tidak hanya diwujudkan dalam ucapan, tetapi juga dalam tindakan nyata yang bertujuan untuk menjaga dan melestarikan alam.
Syukur dalam Islam dapat diekspresikan melalui berbagai cara. Pertama, melalui lisan, kita mengucapkan al-hamdulillah (segala puji bagi Allah), yang menunjukkan bahwa segala pujian hanya layak diberikan kepada Allah SWT. Ucapan ini bisa diucapkan dalam setiap keadaan, baik ketika kita mendapatkan nikmat atau bahkan dalam menghadapi ujian hidup.
Ucapan syukur lainnya adalah subhanallah (Maha Suci Allah), yang menunjukkan pengakuan kita terhadap kebesaran-Nya. Kalimat la ilaha illallah (tiada Tuhan selain Allah) dan Allahu Akbar (Allah Maha Besar) juga merupakan ungkapan syukur yang mendalam, sebagai pengakuan terhadap keesaan dan kebesaran Allah.
Bersyukur juga dapat dilakukan dengan hati. Dalam hati, kita menerima segala takdir Allah dengan ikhlas dan berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan yang terbaik dalam setiap perbuatan. Kita juga harus menyadari bahwa setiap nikmat yang kita terima adalah karunia dari Allah, sehingga kita harus selalu bersyukur dan bertawakkal kepada-Nya dalam setiap langkah hidup kita.
Selain itu, syukur juga dapat diwujudkan dalam bentuk tindakan konkret. Salah satu cara untuk mensyukuri nikmat adalah dengan menjaga kesehatan. Sehat adalah nikmat besar yang sering kali tidak kita sadari, padahal tanpa kesehatan kita tidak dapat beraktivitas dengan baik. Oleh karena itu, kita perlu menjaga tubuh kita dengan baik, menjaga pola makan, berolahraga, dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar.
Selain itu, kita juga bisa mensyukuri nikmat dengan melestarikan alam. Salah satu caranya adalah dengan menanam pohon. Tanaman memiliki banyak manfaat, mulai dari menyediakan oksigen, menjaga keseimbangan suhu udara, hingga mencegah terjadinya erosi tanah.
Selain itu, dengan menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan, kita juga berperan aktif dalam menjaga kelestarian alam. Tindakan lainnya sebagai bentuk syukur adalah dengan membantu sesama. Di saat bencana melanda, seperti banjir yang terjadi di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara, kita bisa turut berpartisipasi dengan menyisihkan sebagian rezeki kita untuk membantu korban. Meskipun apa yang kita lakukan mungkin tidak cukup besar, namun ini adalah bentuk empati dan rasa syukur kita terhadap Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat.
Sebagai umat Islam, kita diajarkan untuk tidak hanya bersyukur dengan lisan, tetapi juga dengan perbuatan. Syukur tidak hanya ditunjukkan melalui ucapan, tetapi juga melalui tindakan nyata yang berkontribusi pada kebaikan bersama. Salah satu cara kita bersyukur atas nikmat alam adalah dengan menjadi khalifah yang baik di muka bumi.
Allah SWT memberikan kita amanah untuk menjaga alam ini dan memanfaatkannya dengan bijaksana. Pengelolaan alam yang berkelanjutan adalah tanggung jawab kita semua, bukan hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat secara umum. Amanah untuk menjaga alam ini juga harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan transparansi.
Pengelolaan yang tidak bertanggung jawab hanya akan menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Oleh karena itu, kita perlu memastikan bahwa setiap tindakan yang kita lakukan dalam memanfaatkan alam selalu mempertimbangkan dampaknya terhadap ekosistem dan makhluk hidup lainnya. Islam mengajarkan kita untuk selalu menjaga keseimbangan dan tidak berlebihan dalam menggunakan sumber daya alam.
Sebagai penutup, ekoteologi mengajarkan kita untuk selalu sadar akan pentingnya menjaga alam dan bersyukur atas nikmat yang Allah SWT berikan. Alam adalah anugerah yang harus kita kelola dengan bijaksana, sesuai dengan tuntunan agama, dan dengan prinsip keberlanjutan.
Sebagai khalifah di muka bumi, kita bertanggung jawab untuk menjaga alam ini agar tetap lestari demi kesejahteraan umat manusia dan makhluk hidup lainnya. Semoga kita semua bisa menjadi bagian dari mereka yang memiliki kesadaran kolektif untuk menjaga dan melestarikan alam demi generasi mendatang.
Krisis ekologis yang terjadi di Indonesia kini semakin mengkhawatirkan. Baru-baru ini, kita dikejutkan oleh bencana banjir bandang yang melanda beberapa provinsi, yaitu Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Bencana ini menyebabkan lebih dari seribu jiwa melayang, serta menghancurkan ribuan rumah dan infrastruktur penting.
Kerugian material diperkirakan mencapai Rp68 triliun, berdasarkan data yang dipublikasikan oleh Kompas.com. Kejadian ini hanyalah puncak dari masalah ekologis yang telah berlangsung cukup lama. Data dari berbagai sumber menunjukkan bahwa Indonesia telah kehilangan sekitar 18 juta hektar hutan alam sejak tahun 1990 hingga 2024, termasuk hutan primer, rawa gambut, dan mangrove.
Kondisi ini semakin memprihatinkan karena hanya tersisa 68,3% luas kawasan hutan dibandingkan dengan jumlah sebelumnya (Mongabay.co.id). Penyebab utama dari kerusakan ini adalah konversi lahan untuk perkebunan, pertambangan, serta perubahan fungsi hutan yang tidak memperhatikan prinsip keberlanjutan ekologis.
Dalam melihat fenomena ini, kita perlu meninjau masalah ekologis ini dari perspektif ekoteologi. Ekoteologi adalah suatu pandangan yang melihat hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan dari sisi ajaran agama, khususnya Islam. Dalam perspektif Islam, alam bukan hanya sekedar sumber daya yang bisa dimanfaatkan begitu saja, tetapi merupakan anugerah dari Allah SWT yang harus dikelola dengan penuh tanggung jawab.
Alam merupakan sumber kehidupan bagi semua makhluk hidup yang ada di bumi. Manusia dan hewan memanfaatkan alam untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, namun pada saat yang sama, alam juga memberikan manfaat bagi makhluk hidup lainnya setelah mereka mati. Alam juga berperan sebagai siklus ekosistem yang saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya.
Di Indonesia, kekayaan alam yang begitu besar merupakan anugerah yang luar biasa dari Allah SWT. Namun, pemanfaatan kekayaan ini seringkali dilakukan secara tidak bijaksana dan berlebihan. Dalam Islam, pemanfaatan alam harus dilakukan secara bertanggung jawab dan tidak merusak keseimbangan ekosistem.
Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-A’raf ayat 56: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya.” Ayat ini mengingatkan kita untuk menjaga dan memelihara alam, bukan merusaknya. Pengelolaan alam dengan bijaksana dan berkelanjutan adalah kewajiban kita sebagai khalifah di muka bumi.
Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya melestarikan lingkungan. Salah satu ajaran beliau adalah dengan menanam pohon, yang menjadi simbol nyata dari kelestarian alam. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad, Rasulullah SAW bersabda: “Siapa saja yang mendirikan bangunan atau menanam pohon tanpa kezaliman dan melewati batas, niscaya itu akan bernilai pahala yang mengalir selama bermanfaat bagi makhluk Allah yang bersifat rahman.”
Menanam pohon adalah amalan yang mulia, yang dapat bermanfaat tidak hanya bagi manusia, tetapi juga untuk makhluk hidup lainnya, seperti binatang. Apa yang kita tanam bisa dimanfaatkan oleh orang lain dan makhluk hidup lainnya, bahkan bisa menjadi sedekah jariyah bagi kita. Ini menunjukkan bahwa dalam Islam, segala aktivitas yang bermanfaat bagi kehidupan, termasuk dalam hal pengelolaan alam, akan mendapatkan pahala dari Allah SWT.
Pentingnya menjaga alam ini juga tercermin dalam bagaimana kita bersyukur atas nikmat yang Allah SWT berikan. Dalam Al-Qur’an surah Ibrahim ayat 7, Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambahkan (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih.” Ayat ini mengingatkan kita bahwa rasa syukur yang tulus akan membawa tambahan nikmat, sementara jika kita mengingkari nikmat-Nya, maka kita akan mendapatkan akibat yang buruk.
Syukur merupakan salah satu bentuk pengakuan kita terhadap segala nikmat yang Allah berikan, termasuk nikmat atas kekayaan alam yang ada di sekitar kita. Rasa syukur ini seharusnya tidak hanya diwujudkan dalam ucapan, tetapi juga dalam tindakan nyata yang bertujuan untuk menjaga dan melestarikan alam.
Syukur dalam Islam dapat diekspresikan melalui berbagai cara. Pertama, melalui lisan, kita mengucapkan al-hamdulillah (segala puji bagi Allah), yang menunjukkan bahwa segala pujian hanya layak diberikan kepada Allah SWT. Ucapan ini bisa diucapkan dalam setiap keadaan, baik ketika kita mendapatkan nikmat atau bahkan dalam menghadapi ujian hidup.
Ucapan syukur lainnya adalah subhanallah (Maha Suci Allah), yang menunjukkan pengakuan kita terhadap kebesaran-Nya. Kalimat la ilaha illallah (tiada Tuhan selain Allah) dan Allahu Akbar (Allah Maha Besar) juga merupakan ungkapan syukur yang mendalam, sebagai pengakuan terhadap keesaan dan kebesaran Allah.
Bersyukur juga dapat dilakukan dengan hati. Dalam hati, kita menerima segala takdir Allah dengan ikhlas dan berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan yang terbaik dalam setiap perbuatan. Kita juga harus menyadari bahwa setiap nikmat yang kita terima adalah karunia dari Allah, sehingga kita harus selalu bersyukur dan bertawakkal kepada-Nya dalam setiap langkah hidup kita.
Selain itu, syukur juga dapat diwujudkan dalam bentuk tindakan konkret. Salah satu cara untuk mensyukuri nikmat adalah dengan menjaga kesehatan. Sehat adalah nikmat besar yang sering kali tidak kita sadari, padahal tanpa kesehatan kita tidak dapat beraktivitas dengan baik. Oleh karena itu, kita perlu menjaga tubuh kita dengan baik, menjaga pola makan, berolahraga, dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar.
Selain itu, kita juga bisa mensyukuri nikmat dengan melestarikan alam. Salah satu caranya adalah dengan menanam pohon. Tanaman memiliki banyak manfaat, mulai dari menyediakan oksigen, menjaga keseimbangan suhu udara, hingga mencegah terjadinya erosi tanah.
Selain itu, dengan menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan, kita juga berperan aktif dalam menjaga kelestarian alam. Tindakan lainnya sebagai bentuk syukur adalah dengan membantu sesama. Di saat bencana melanda, seperti banjir yang terjadi di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara, kita bisa turut berpartisipasi dengan menyisihkan sebagian rezeki kita untuk membantu korban. Meskipun apa yang kita lakukan mungkin tidak cukup besar, namun ini adalah bentuk empati dan rasa syukur kita terhadap Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat.
Sebagai umat Islam, kita diajarkan untuk tidak hanya bersyukur dengan lisan, tetapi juga dengan perbuatan. Syukur tidak hanya ditunjukkan melalui ucapan, tetapi juga melalui tindakan nyata yang berkontribusi pada kebaikan bersama. Salah satu cara kita bersyukur atas nikmat alam adalah dengan menjadi khalifah yang baik di muka bumi.
Allah SWT memberikan kita amanah untuk menjaga alam ini dan memanfaatkannya dengan bijaksana. Pengelolaan alam yang berkelanjutan adalah tanggung jawab kita semua, bukan hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat secara umum. Amanah untuk menjaga alam ini juga harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan transparansi.
Pengelolaan yang tidak bertanggung jawab hanya akan menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Oleh karena itu, kita perlu memastikan bahwa setiap tindakan yang kita lakukan dalam memanfaatkan alam selalu mempertimbangkan dampaknya terhadap ekosistem dan makhluk hidup lainnya. Islam mengajarkan kita untuk selalu menjaga keseimbangan dan tidak berlebihan dalam menggunakan sumber daya alam.
Sebagai penutup, ekoteologi mengajarkan kita untuk selalu sadar akan pentingnya menjaga alam dan bersyukur atas nikmat yang Allah SWT berikan. Alam adalah anugerah yang harus kita kelola dengan bijaksana, sesuai dengan tuntunan agama, dan dengan prinsip keberlanjutan.
Sebagai khalifah di muka bumi, kita bertanggung jawab untuk menjaga alam ini agar tetap lestari demi kesejahteraan umat manusia dan makhluk hidup lainnya. Semoga kita semua bisa menjadi bagian dari mereka yang memiliki kesadaran kolektif untuk menjaga dan melestarikan alam demi generasi mendatang.
(nnz)
Lihat Juga :