Ziarah Makam Kotagede dan Jejak Perjuangan Sultan HB II Menuju Pahlawan Nasional
Sabtu, 20 Desember 2025 - 16:46 WIB
loading...
A
A
A
Narasi historis dan ritual ziarah ini menjadi relevan dalam konteks pengajuan gelar Pahlawan Nasional untuk Sri Sultan Hamengku Buwono II. Hal itu bukan tanpa dasar, mengingat Konsistensi Sultan HB II adalah sosok Anti-Kolonialisme.
Perlawanan Sultan HB II tidak hanya sebatas penolakan, tetapi juga pemaksaan turun takhta hingga pengasingan oleh Belanda dan Inggris. Ini memenuhi kriteria sebagai tokoh yang memimpin dan/atau melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik/bentuk perjuangan lain untuk merebut/mempertahankan kemerdekaan.
Ketegasan Sultan HB II diyakini memberikan inspirasi bagi perlawanan selanjutnya, termasuk Perang Jawa yang dipimpin oleh keponakannya, Pangeran Diponegoro.
Kegiatan ziarah dan peringatan, termasuk oleh Warga Pagerejo, Wonosobo bersama trah (keturunan) Sultan HB II, menunjukkan adanya pengakuan dan upaya melestarikan nilai-nilai perjuangan beliau di tengah masyarakat, yang mendukung legitimasi pengajuan gelar tersebut.
Sekdes Pagerotan Pagerejo, Wonosobo, Tuwat Muhandoyo menyampaikan peserta ziarah sekitar 71 orang mas terdiri dari pemdes RT RW tomas toga, kepemudaan pagerotan pagerejo.
"Harapan dari warga desa pagerejo, semua usulan mengenai Sultan HB II baik nama jalan dan Pahlawan Nasional segera terwujud, dan manuskrip dan barang berharga yang dulu di rampas oleh Inggris segera dikembalikan untuk mengenang dan membawa Nama harum beliau sebagai pejuang pada masa itu, untuk memajukan desa Pagerejo Kertek Wonosobo dan Yogyakarta pada umumnya," jelas Tuwat.
Sementara itu, Romo Aning, atau Raden Mas Kukuh Hertaning, seorang tokoh yang memiliki peran penting sebagai Pengageng Kebudayaan Keraton Yogyakarta mengatakan Makam Kotagede menjadi saksi bisu perjuangan seorang raja yang berjiwa berani mempertahankan martabat kerajaannya di tengah kepungan kolonial, menjadikannya layak untuk diangkat sebagai Pahlawan Nasional atas jasa dan pengorbanannya.
"Untuk acara ziarah kemarin yakni warga Masyarakat Pagerejo sebagai bagian dari sejarah perjalanan Sri Sultan HB II ( tempat kelahiran), turut serta mendoakan para Leluhur Mataram dan juga Eyang Sri Sultan HB II, doa dan harapan, semoga para arwah ini mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya, dan memohon agar perjalanan Sri Sultan HB utk menjadi Pahlawan Nasional berjalan lancar dan terwujud," jelas Romo Aning.
Romo Aningmenuturkan untuk berziarah ke Pesareyan Kagungan Dalem Kotagede (makam Raja-raja Mataram, untuk pria diwajibkan memakai busana Jawa (pranakan) sedangkan untuk wanita memakai busana Kemben Semekan
Romo Aning juga ikut menyuarakan pandangannya mengenai Sultan Hamengkubuwono II (HB II) dalam berbagai kesempatan. Terutama terkait sejarah dan upaya pengembalian jati diri Nusantara serta pengajuan Sultan HB II sebagai Pahlawan Nasional.
Perlawanan Sultan HB II tidak hanya sebatas penolakan, tetapi juga pemaksaan turun takhta hingga pengasingan oleh Belanda dan Inggris. Ini memenuhi kriteria sebagai tokoh yang memimpin dan/atau melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik/bentuk perjuangan lain untuk merebut/mempertahankan kemerdekaan.
Ketegasan Sultan HB II diyakini memberikan inspirasi bagi perlawanan selanjutnya, termasuk Perang Jawa yang dipimpin oleh keponakannya, Pangeran Diponegoro.
Kegiatan ziarah dan peringatan, termasuk oleh Warga Pagerejo, Wonosobo bersama trah (keturunan) Sultan HB II, menunjukkan adanya pengakuan dan upaya melestarikan nilai-nilai perjuangan beliau di tengah masyarakat, yang mendukung legitimasi pengajuan gelar tersebut.
Sekdes Pagerotan Pagerejo, Wonosobo, Tuwat Muhandoyo menyampaikan peserta ziarah sekitar 71 orang mas terdiri dari pemdes RT RW tomas toga, kepemudaan pagerotan pagerejo.
"Harapan dari warga desa pagerejo, semua usulan mengenai Sultan HB II baik nama jalan dan Pahlawan Nasional segera terwujud, dan manuskrip dan barang berharga yang dulu di rampas oleh Inggris segera dikembalikan untuk mengenang dan membawa Nama harum beliau sebagai pejuang pada masa itu, untuk memajukan desa Pagerejo Kertek Wonosobo dan Yogyakarta pada umumnya," jelas Tuwat.
Sementara itu, Romo Aning, atau Raden Mas Kukuh Hertaning, seorang tokoh yang memiliki peran penting sebagai Pengageng Kebudayaan Keraton Yogyakarta mengatakan Makam Kotagede menjadi saksi bisu perjuangan seorang raja yang berjiwa berani mempertahankan martabat kerajaannya di tengah kepungan kolonial, menjadikannya layak untuk diangkat sebagai Pahlawan Nasional atas jasa dan pengorbanannya.
"Untuk acara ziarah kemarin yakni warga Masyarakat Pagerejo sebagai bagian dari sejarah perjalanan Sri Sultan HB II ( tempat kelahiran), turut serta mendoakan para Leluhur Mataram dan juga Eyang Sri Sultan HB II, doa dan harapan, semoga para arwah ini mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya, dan memohon agar perjalanan Sri Sultan HB utk menjadi Pahlawan Nasional berjalan lancar dan terwujud," jelas Romo Aning.
Romo Aningmenuturkan untuk berziarah ke Pesareyan Kagungan Dalem Kotagede (makam Raja-raja Mataram, untuk pria diwajibkan memakai busana Jawa (pranakan) sedangkan untuk wanita memakai busana Kemben Semekan
Romo Aning juga ikut menyuarakan pandangannya mengenai Sultan Hamengkubuwono II (HB II) dalam berbagai kesempatan. Terutama terkait sejarah dan upaya pengembalian jati diri Nusantara serta pengajuan Sultan HB II sebagai Pahlawan Nasional.
Lihat Juga :