China dan Jepang Makin Panas, Pakar Apresiasi Sikap Netralitas Indonesia
Rabu, 10 Desember 2025 - 09:35 WIB
loading...
A
A
A
Menghadapi situasi yang makin memanas di kawasan Asia Timur, Johanes menilai sikap netralitas serta strategi bebas dan aktif yang diterapkan Indonesia patut diapresiasi. Dukungan terhadap salah satu kubu mana pun tak sejalan dengan kepentingan Indonesia, karena negara-negara dapat berubah seiring perubahan waktu.
“China dulu dikenal sebagai negara yang menekankan kerendahan hati (low profile), tetapi sejak kepemimpinan Presiden Xi Jinping, China berubah menjadi lebih asertif, bahkan cenderung agresif. Apa yang akan terjadi bila China menjadi semakin dominan tanpa adanya kekuatan penyeimbang?” kata Johanes.
Dekan Fakultas Strategi Pertahanan (FSP) Universitas Pertahanan Mayjen TNI Oktaheroe Ramsi mengakui adanya peningkatan kompleksitas keamanan di kawasan Asia Pasifik sebagai akibat dari rivalitas antara China dan Jepang yang sedang berlangsung.
Dalam pandangannya, peningkatan ketegangan itu berpotensi membawa implikasi penting bagi Indonesia, salah satunya karena baik di Taiwan maupun Jepang terdapat Warga Negara Indonesia (WNI) dalam jumlah cukup besar. “Di Taiwan, misalnya jumlah resmi penduduk asal Indonesia sekitar 300.000 jiwa, tetapi terdapat juga WNI dengan status tidak legal di sana dengan jumlah mencapai 400.000 jiwa,” ujar Oktaheroe.
Selain permasalahan mengenai WNI, implikasi lain yang berpotensi timbul adalah gangguan jalur pelayaran strategis dan rantai pasok global serta potensi perluasan dinamika konflik menjadi konflik proksi di kawasan Asia Tenggara.
Dia menilai Indonesia harus tetap menjaga netralitas dengan berpegang pada prinsip non-blok, serta menjalin persahabatan dengan semua pihak. Dia juga mendorong Indonesia memanfaatkan peran sentral ASEAN sebagai stabilizer kawasan.
Selain itu, Perwira Tinggi TNI yang pernah mengenyam pendidikan pascasarjana di Rajaratnam School of International Studies (RSIS) Singapura itu juga berpandangan bahwa Indonesia perlu merumuskan perspektif strategi pertahanan yang bertujuan antara lain meningkatkan kemampuan pencegahan di kawasan melalui domain maritim dan udara.
Dia menegaskan pentingnya Indonesia membangun postur pertahanan yang fleksibel dan berbasis ancaman, serta penyesuaian doktrin dan struktur organisasi untuk menghadapi rivalitas antara China dan Jepang.
Waasintel TNI Laksamana Pertama TNI Oka Wirayudhatama menuturkan arti strategis Taiwan dalam kancah geopolitik di Asia Timur. “Lokasi Taiwan berada dalam rantai pertahanan pertama China dalam menghadapi kekuatan yang mungkin menyerang negara itu,” tuturnya.
Taiwan menjadi semacam zona penyangga (buffer zone) bagi ekspansi Angkatan Laut (AL) Tentara Pembebasan Rakyat milik China (TPR). “Tanpa menguasai Taiwan, AL TPR tak bisa melanjutkan ekspansinya menuju wilayah Pasifik Barat,” ucapnya Oka.
“China dulu dikenal sebagai negara yang menekankan kerendahan hati (low profile), tetapi sejak kepemimpinan Presiden Xi Jinping, China berubah menjadi lebih asertif, bahkan cenderung agresif. Apa yang akan terjadi bila China menjadi semakin dominan tanpa adanya kekuatan penyeimbang?” kata Johanes.
Dekan Fakultas Strategi Pertahanan (FSP) Universitas Pertahanan Mayjen TNI Oktaheroe Ramsi mengakui adanya peningkatan kompleksitas keamanan di kawasan Asia Pasifik sebagai akibat dari rivalitas antara China dan Jepang yang sedang berlangsung.
Dalam pandangannya, peningkatan ketegangan itu berpotensi membawa implikasi penting bagi Indonesia, salah satunya karena baik di Taiwan maupun Jepang terdapat Warga Negara Indonesia (WNI) dalam jumlah cukup besar. “Di Taiwan, misalnya jumlah resmi penduduk asal Indonesia sekitar 300.000 jiwa, tetapi terdapat juga WNI dengan status tidak legal di sana dengan jumlah mencapai 400.000 jiwa,” ujar Oktaheroe.
Selain permasalahan mengenai WNI, implikasi lain yang berpotensi timbul adalah gangguan jalur pelayaran strategis dan rantai pasok global serta potensi perluasan dinamika konflik menjadi konflik proksi di kawasan Asia Tenggara.
Dia menilai Indonesia harus tetap menjaga netralitas dengan berpegang pada prinsip non-blok, serta menjalin persahabatan dengan semua pihak. Dia juga mendorong Indonesia memanfaatkan peran sentral ASEAN sebagai stabilizer kawasan.
Selain itu, Perwira Tinggi TNI yang pernah mengenyam pendidikan pascasarjana di Rajaratnam School of International Studies (RSIS) Singapura itu juga berpandangan bahwa Indonesia perlu merumuskan perspektif strategi pertahanan yang bertujuan antara lain meningkatkan kemampuan pencegahan di kawasan melalui domain maritim dan udara.
Dia menegaskan pentingnya Indonesia membangun postur pertahanan yang fleksibel dan berbasis ancaman, serta penyesuaian doktrin dan struktur organisasi untuk menghadapi rivalitas antara China dan Jepang.
Waasintel TNI Laksamana Pertama TNI Oka Wirayudhatama menuturkan arti strategis Taiwan dalam kancah geopolitik di Asia Timur. “Lokasi Taiwan berada dalam rantai pertahanan pertama China dalam menghadapi kekuatan yang mungkin menyerang negara itu,” tuturnya.
Taiwan menjadi semacam zona penyangga (buffer zone) bagi ekspansi Angkatan Laut (AL) Tentara Pembebasan Rakyat milik China (TPR). “Tanpa menguasai Taiwan, AL TPR tak bisa melanjutkan ekspansinya menuju wilayah Pasifik Barat,” ucapnya Oka.
Lihat Juga :