Menghormati Perbedaan Tak Serta Merta Runtuhkan Akidah

Selasa, 09 Desember 2025 - 19:20 WIB
loading...
Menghormati Perbedaan...
Ketua Umum Asosiasi Dai-Daiyah Indonesia (ADDAI), Dr Moch. Syarif Hidayatullah menghormati langkah Kemenag menggelar rangkaian perayaan Natal 2025. Foto/Ist
A A A
JAKARTA - Kementerian Agama (Kemenag) akan menggelar perayaan Natal bersama tahun ini. Natal bersama ini perdana digelar Kemenag sejak Indonesia merdeka. Hal ini disampaikan Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar saat menghadiri acara Natal Tiberias 2025 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Sabtu 6 Desember 2025.

Menag mengatakan perayaan Natal bersama oleh Kemenag ini menekankan bahwa tidak boleh ada sekat di antara sesama anak bangsa. Dia menilai keberagaman yang menjadikan Indonesia sebagai lukisan Tuhan yang indah tidak boleh dirusak dengan ketidakharmonisan.

Baca juga: Kunjungi Vihara Punna Karya, Stafsus Menag Tekankan Pelayanan Keumatan yang Inklusif

Menanggapi rencana itu, Ketua Umum Asosiasi Dai-Daiyah Indonesia (ADDAI), Dr Moch. Syarif Hidayatullah menghormati langkah Kemenag menggelar rangkaian perayaan Natal 2025 yang diberi tajuk Christmas – Love in God, Harmony Together. Hal ini diusung untuk memperkuat toleransi, persaudaraan dan kebersamaan di tengah keberagaman Indonesia.



Menurut Syarif, sebagai muslim penting untuk menyadari bahwa bangsa Indonesia hidup di lingkungan yang plural, beragam. Sehingga, harus menghormati satu sama lain dan menjaga toleransi antar umar beragama untuk membangun hidup yang harmonis.

“Menghormati orang lain, menghormati kepercayaan orang lain dan lain sebagainya, itu kepentingannya adalah agar kehidupan ini bisa berjalan dengan harmoni,” ucap Moch. Syarif Hidayatullah saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (9/12/2025).

Tentu sebagai otoritas negara, lanjutnya, Kementerian Agama harus mengayomi dan merangkul semua agama yang ada di Indonesia. Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu menganggap ini suatu hal yang berlebihan. Apalagi sampai mengadu domba dan membuat perpecahan antar sesama.

Baca juga: Interfaith Harmony Camp 2025 Ditutup, Harmoni Umat Beragama Harus Dirawat

Syarif mencontohkan, bagaimana Nabi Muhammad dan para sahabatnya menghormati keyakinan orang lain saat memasuki Madinah. Kala itu Madinah terdiri dari berbagai suku maupun kabilah, bukan seperti Madinah saat ini yang sudah homogen. Namun, dengan kearifan dan kepemimpinan yang luhur, Nabi mampu menjaga persatuan antar suku dan golongan di Madinah.

“Melalui Piagam Madinah, misalnya, Nabi memperlakukan orang-orang dengan kepercayaan yang berbeda itu diberikan ruang untuk ekspresi dalam keberagamaan mereka,” kata Syarif.

Apalagi, Syarif menambahkan, kalau persoalannya hanya terkait dengan muamalah (interaksi sosial), sebagai warga negara Indonesia penting untuk saling menghargai demi membangun kehidupan yang damai. Banyak dalam riwayat, kisah Nabi dan para sahabat yang bermuamalah dengan non-muslim.

“Kalau yang sifatnya muamalah, kita malah sebagai Muslim tidak dilarang untuk berbuat baik kepada orang yang agamanya berbeda, keyakinan dan kepercayaannya berbeda,” tegas Syarif.

Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini menyakini dengan menghormati keyakinan orang lain, berinteraksi dengan non muslim tidak serta-merta meruntuhkan akidah seorang muslim.

Menurut Syarif, konsep toleransi adalah menghormati sesuatu yang berbeda. Seseorang tidak punya hak untuk tidak menghormati, tidak menghargai apa yang menjadi keyakinan, kepercayaan, dan ibadah orang lain. Batasan dalam toleransi, Syarif melanjutkan, kita tidak mengamalkan, mempercayai apa yang menjadi keyakinan, kepercayaan, dan menjadi bagian dari ibadah orang lain.

“Yang tidak boleh adalah kita mengikuti, menjalankan ritual, kepercayaan, dan akidah orang lain. Itu batas yang memang tidak bisa dilanggar dalam konteks akidah,” terang Syarif.

Dia menepis anggapan negatif bahwa Islam tidak toleran, dan tidak ramah kepada pemeluk agama lain. Sejatinya, Islam yang diajarkan Nabi Muhammad adalah hikmah penuh kasih sayang dan rahmat bagi semesta alam.

Oleh karena itu, Syarif menegaskan pentingnya moderasi beragama. Menurutnya, kelompok ekstrem ini kerap memaknai agama secara kaku dan tekstualis. Misalnya hanya melihat hitam dan putih, surga atau neraka. Maka penting untuk memahami ayat, memahami hadis dengan sudut pandang penjelasan yang beragam dari para ulama.

“Mereka ini seringkali tekstualis,” ungkap sosok yang kerap melakukan deradikalisasi kepada para narapidana terorisme ini.

“Di balik teks itu, beyond the text itu kadang diabaikan atau terabaikan. Ayatnya bunyinya A misalkan, tapi pemahaman para ulama terhadap ayat itu juga beragam, tidak tunggal," tambah Syarif.

Untuk itu, Syarif menambahkan, perlu adanya pengembangan kurikulum moderasi beragama di institusi pendidikan. Sehingga, pelajaran agama tidak lagi berfokus pada hafalan, tapi kepemahaman.

“Bagaimana ayat tertentu itu dipahami oleh para ulama, dan bagaimana apa, kita nih dalam mengamalkan, menerapkan dalam situasi yang beragam seperti saat ini,” ujarnya.
(shf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Fenomena Matahari Tepat...
Fenomena Matahari Tepat di Atas Kakbah, Kemenag Verifikasi Arah Kiblat di 725.669 Titik
Madam Halimah Yacob...
Madam Halimah Yacob Membuka Harmony in Diversity Award Perdana di Jakarta
Kemenag Siapkan Konten...
Kemenag Siapkan Konten Edukasi untuk Cegah Penyebaran LGBTQ
354 Pencari Jodoh Padati...
354 Pencari Jodoh Padati Golek Garwo Kemenag
Stafsus Menag: Kunjungan...
Stafsus Menag: Kunjungan Presiden Jerman ke Istiqlal Perkuat Diplomasi Agama RI-Jerman
Kemenag Dorong Waisak...
Kemenag Dorong Waisak 2026 di Borobudur Jadi Ruang Spiritualitas dan Perdamaian
Penghargaan Regional...
Penghargaan Regional Dorong Penguatan Dialog, Kepercayaan, dan Kepemimpinan di Asia Tenggara
Usulan Tambahan Anggaran...
Usulan Tambahan Anggaran Rp5,783 T untuk Tunjangan Profesi Guru dan Dosen Kemenag Disetujui Kemenkeu
Rawat Toleransi, Rampeani...
Rawat Toleransi, Rampeani Rachman Perindo Realisasikan Aspirasi Jemaat Gereja di Mimika
Rekomendasi
Hasil Piala AFF 2026:...
Hasil Piala AFF 2026: Vietnam Pesta 7 Gol ke Gawang Timor Leste
Suami Istri Pemilik...
Suami Istri Pemilik Hanania Travel Ditetapkan Jadi Tersangka Penipuan Jemaah Umrah
Pertamina Foundation...
Pertamina Foundation Tanamkan Peduli Lingkungan Usia Dini
Berita Terkini
Eks Jubir KPK Febri...
Eks Jubir KPK Febri Diansyah Resmi Jadi Kuasa Hukum Febrie Adriansyah
Eks Jampidsus Febrie...
Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Ditahan di Rutan KPK: Gak Pakai Rompi Ye!
Breaking News! Febrie...
Breaking News! Febrie Adriansyah Ditahan Kejagung
Eks Jampidsus Febrie...
Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Belum Selesai Diperiksa, 2 Mobil Tahanan Siaga di Kejagung
Pemeriksaan Febrie Adriansyah...
Pemeriksaan Febrie Adriansyah di Kejagung, Eks Penyidik KPK: Penahanan Penting agar Penyidikan Tak Diintervensi
Kritisi Rapat Pleno...
Kritisi Rapat Pleno IX AMPI, Wasekjen Leriadi: Produknya Cacat Hukum
Infografis
Skuad Timnas Spanyol...
Skuad Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Real Madrid
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved