Banjir Sumatera Dipicu Siklon Tropis Ekstrem, Pakar Tanah IPB: Bukan Sawit
Senin, 08 Desember 2025 - 09:26 WIB
loading...
A
A
A
Basuki mengungkapkan masyarakat Indonesia belum familier dengan fenomena siklon tropis , karena kejadian serupa jarang terjadi di wilayah Indonesia, terutama di lintang kurang dari 5 derajat. Negara seperti Jepang, Taiwan, dan Vietnam Utara sudah terbiasa menghadapi taifun sehingga sistem mitigasinya matang. ”Untuk Indonesia, ini kejadian luar biasa. Jadi untuk menghindari dampak siklon tropis adalah tidak ada lain adalah prediksi, peramalan dan mengungsi,” jelasnya.
Menanggapi anggapan bahwa sawit menjadi pemicu banjir maupun longsor, Basuki menegaskan bahwa kebun sawit tidak dibangun di lereng curam. Lereng yang digunakan hanya sampai sekitar 15–20%. Di atas itu, sawit memang bisa tumbuh, tetapi tidak ekonomis untuk dikelola.
Oleh karena itu, ia menegaskan, tidak logis mengaitkan sawit dengan longsor di daerah lereng. Selain itu, praktik budidaya sawit modern banyak dipantau melalui berbagai sistem sertifikasi untuk menjaga kepatuhan terhadap standar lingkungan.
Selain itu, berdasarkan data historis, perkebunan sawit modern umumnya tumbuh di eks kebun karet rakyat, belukar, atau wilayah bekas Hak Pengusahaan Hutan (HPH), bukan dibuka dari hutan primer. Menurutnya, sejumlah stigma yang sering diarahkan kepada sawit umumnya tidak berlandas pada data ilmiah. “Mulai dari sawit boros air, sawit penyebab banjir, dan lain-lain. Banyak sekali mispersepsi,” ujar Basuki.
Dari sisi lingkungan, sawit tetap memiliki fungsi ekologis lebih baik dibanding tanah terbuka atau belukar. Dengan laju fotosintesis tinggi, sawit berpotensi menjadi carbon sink yang efektif. “Penyerapan karbon kebun sawit jauh lebih tinggi dibanding hutan primer,” katanya.
Menanggapi anggapan bahwa sawit menjadi pemicu banjir maupun longsor, Basuki menegaskan bahwa kebun sawit tidak dibangun di lereng curam. Lereng yang digunakan hanya sampai sekitar 15–20%. Di atas itu, sawit memang bisa tumbuh, tetapi tidak ekonomis untuk dikelola.
Oleh karena itu, ia menegaskan, tidak logis mengaitkan sawit dengan longsor di daerah lereng. Selain itu, praktik budidaya sawit modern banyak dipantau melalui berbagai sistem sertifikasi untuk menjaga kepatuhan terhadap standar lingkungan.
Selain itu, berdasarkan data historis, perkebunan sawit modern umumnya tumbuh di eks kebun karet rakyat, belukar, atau wilayah bekas Hak Pengusahaan Hutan (HPH), bukan dibuka dari hutan primer. Menurutnya, sejumlah stigma yang sering diarahkan kepada sawit umumnya tidak berlandas pada data ilmiah. “Mulai dari sawit boros air, sawit penyebab banjir, dan lain-lain. Banyak sekali mispersepsi,” ujar Basuki.
Dari sisi lingkungan, sawit tetap memiliki fungsi ekologis lebih baik dibanding tanah terbuka atau belukar. Dengan laju fotosintesis tinggi, sawit berpotensi menjadi carbon sink yang efektif. “Penyerapan karbon kebun sawit jauh lebih tinggi dibanding hutan primer,” katanya.
Lihat Juga :