Kemenhut Identifikasi Kerusakan Lingkungan di Hulu DAS Batang Toru dan DAS Sibuluan
Minggu, 07 Desember 2025 - 18:51 WIB
loading...
Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan (Ditjen Gakkum) Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengidentifikasi penyebab banjir di sejumlah provinsi di Pulau Sumatera. Foto/Dok Kemenhut
A
A
A
JAKARTA - Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan (Ditjen Gakkum) Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengidentifikasi penyebab banjir di sejumlah provinsi di Pulau Sumatera. Salah satunya, adanya kerusakan lingkungan di hulu DAS Batang Toru dan Sibuluan.
"Hasil analisis awal yang diperkuat verifikasi lapangan, menunjukkan bahwa selain curah hujan ekstrem, terdapat indikasi kerusakan lingkungan di hulu DAS Batang Toru dan DAS Sibuluan di Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan," kata Dirjen Gakkuk Kehutanan Dwi Januanto Nugroho dalam keterangan tertulis yang dikutip, Minggu (7/12/2025).
Dengan rusaknya lingkungan di hulu DAS, Dwi menilai, mengurangi kemampuan tanah dalam menyerap air hujan. Dengan begitu, air hujan mengalir ke hilir memicu banjir dan longsor.
Baca juga: Eks Sekjen Kemenhut: Pelepasan 1,6 Juta Hektare Hutan Murni Tata Ruang, Bukan Sawit
"Kerusakan tutupan hutan di lereng dan hulu DAS diduga menurunkan kemampuan tanah menyerap air sehingga hujan ekstrem lebih cepat berubah menjadi aliran permukaan (run-off) yang kuat, memicu banjir dan longsor," tuturnya.
Identifikasi kerusakan lingkungan pada hulu DAS, diyakini dengan adanha temuan kayu gelondongan yang terbawa arus banjir. Dwi menduga, kayu itu hasil aktivitas pembukaan lahan dan penebangan yang tidak sesuai ketentuan.
“Kami melihat pola yang jelas: di mana ada kerusakan hutan di hulu akibat aktivitas ilegal, disitu potensi bencana di hilir meningkat drastis. Aktivitas di PHAT yang seharusnya legal, terindikasi disalahgunakan menjadi kedok untuk pembalakan liar yang merambah ke kawasan hutan negara di sekitarnya," ujar Dwi.
"Ini adalah kejahatan luar biasa yang mengorbankan keselamatan rakyat,” pungkasnya.
"Hasil analisis awal yang diperkuat verifikasi lapangan, menunjukkan bahwa selain curah hujan ekstrem, terdapat indikasi kerusakan lingkungan di hulu DAS Batang Toru dan DAS Sibuluan di Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan," kata Dirjen Gakkuk Kehutanan Dwi Januanto Nugroho dalam keterangan tertulis yang dikutip, Minggu (7/12/2025).
Dengan rusaknya lingkungan di hulu DAS, Dwi menilai, mengurangi kemampuan tanah dalam menyerap air hujan. Dengan begitu, air hujan mengalir ke hilir memicu banjir dan longsor.
Baca juga: Eks Sekjen Kemenhut: Pelepasan 1,6 Juta Hektare Hutan Murni Tata Ruang, Bukan Sawit
"Kerusakan tutupan hutan di lereng dan hulu DAS diduga menurunkan kemampuan tanah menyerap air sehingga hujan ekstrem lebih cepat berubah menjadi aliran permukaan (run-off) yang kuat, memicu banjir dan longsor," tuturnya.
Identifikasi kerusakan lingkungan pada hulu DAS, diyakini dengan adanha temuan kayu gelondongan yang terbawa arus banjir. Dwi menduga, kayu itu hasil aktivitas pembukaan lahan dan penebangan yang tidak sesuai ketentuan.
“Kami melihat pola yang jelas: di mana ada kerusakan hutan di hulu akibat aktivitas ilegal, disitu potensi bencana di hilir meningkat drastis. Aktivitas di PHAT yang seharusnya legal, terindikasi disalahgunakan menjadi kedok untuk pembalakan liar yang merambah ke kawasan hutan negara di sekitarnya," ujar Dwi.
"Ini adalah kejahatan luar biasa yang mengorbankan keselamatan rakyat,” pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :