Peringati HDI 2025, Kemendikdasmen Perkuat Layanan Pendidikan Inklusif bagi Murid Disabilitas
Kamis, 04 Desember 2025 - 16:25 WIB
loading...
Mendikdasmen Abdul Mu’ti mengungkapkan rasa bangganya melihat anak-anak berkebutuhan khusus menampilkan kemampuan dan talenta mereka saat peringatan HDI 2005 di Yogyakarta. Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berkomitmen memperkuat layanan pendidikan inklusif bagi murid penyandang disabilitas di Peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2025. Melalui berbagai program dan kebijakan yang terus diperbarui, Kemendikdasmen memastikan setiap anak dapat memiliki kesempatan dan ruang untuk berkembang.
Peringatan HDI 2025 yang mengangkat tema “Partisipasi Semesta Menguatkan Layanan Pendidikan untuk Penyandang Disabilitas” diselenggarakan Kemendikdasmen di Yogyakarta, Rabu, 3 Desember 2025.
Baca juga: Kemendikdasmen Luncurkan Aplikasi Pengusulan Revitalisasi Sekolah
Tema tersebut dimaknai upaya untuk meningkatkan layanan pendidikan inklusif harus dibangun melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengungkapkan rasa bangganya melihat anak-anak berkebutuhan khusus menampilkan kemampuan dan talenta mereka.
“Ini adalah bagian dari upaya kita bersama untuk memberikan perhatian, kesempatan, ruang, dan akomodasi bagi anak-anak berkebutuhan khusus agar dapat tumbuh dan berkembang sesuai bakat dan minat masing-masing,” ujarnya, Kamis (4/12/2025).
Abdul Mu’ti menegaskan sesuai amanat konstitusi, negara berkomitmen memberikan layanan pendidikan bermutu bagi seluruh anak, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus. Sebagai bagian dari langkah konkret memperkuat layanan pendidikan inklusif, Kemendikdasmen meluncurkan Tujuh Pilar Kebijakan Akomodasi Layak bagi Peserta Didik Penyandang Disabilitas.
Baca juga: Peringatan Hari Disabilitas Internasional Jadi Momentum Kesetaraan HAM
“Kebijakan ini hadir untuk memastikan setiap daerah dan satuan pendidikan mampu menyediakan dukungan yang dibutuhkan murid penyandang disabilitas agar dapat belajar secara optimal,” katanya.
Tujuh pilar tersebut meliputi identifikasi kebutuhan individual murid; pengembangan kapasitas Unit Layanan Disabilitas (ULD) dan guru; adaptasi kurikulum dan pembelajaran; penyediaan sarana prasarana dan teknologi pendukung; penguatan pembiayaan; dukungan komunitas dan ekosistem masyarakat; dan pengawasan implementasi layanan akomodasi layak.
“Peringatan Hari Disabilitas Internasional ini bukan sekadar formalitas. Ini adalah awal untuk kita memberikan layanan yang lebih baik lagi agar anak-anak kita dapat memperoleh hak-hak mereka. Mereka adalah bagian dari masyarakat kita yang memiliki kemampuan dan bakat, dan mereka kita dampingi bersama-sama untuk mencapai cita-cita mereka yang sangat mulia,” tegasnya.
Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian menyebut keberhasilan pendidikan yang bersifat inklusif hanya akan tercapai melalui kolaborasi yang menyeluruh lintas sektor. Hetifah berharap momentum HDI 2025 dapat mempercepat perluasan layanan pendidikan yang inklusif, adil, dan bermutu.
“Tema partisipasi semesta mengajak kita melibatkan seluruh lingkungan sosial pemerintah, DPR, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi penyandang disabilitas, komunitas, sekolah, hingga orang tua. Bagi anak-anakku peserta didik, tentu pendidikan bukan hanya tentang kemampuan akademik, tapi tentang menemukan ruang untuk mengembangkan bakat dan potensi diri kalian semua,” paparnya.
Dirjen Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus, Tatang Muttaqin, melaporkan rangkaian kegiatan HDI 2025 diawali dengan Senam Anak Indonesia Hebat bersama murid SLB, peresmian revitalisasi SLB, serta gelar wicara dengan narasumber-narasumber hebat yang membagi praktik baik dalam memberikan layanan bagi penyandang disabilitas.
Seluruh rangkaian dirancang untuk meningkatkan kesadaran publik, meningkatkan partisipasi semesta dalam memberikan akomodasi yang layak, serta memperkuat komitmen kolaborasi multipihak.
“Melalui rangkaian kegiatan ini, kami berharap kolaborasi multipihak semakin kuat dalam mewujudkan layanan pendidikan yang inklusif dan menghargai keragaman bagi seluruh penyandang disabilitas di tanah air,” ucapnya.
Dengan peluncuran Tujuh Pilar Akomodasi Layak pada HDI 2025, Kemendikdasmen berharap upaya pemenuhan hak pendidikan bagi penyandang disabilitas semakin komprehensif dan berkelanjutan. Pendidikan inklusif hadir untuk memastikan setiap anak Indonesia, tanpa kecuali, dapat belajar, berkembang, dan meraih masa depan terbaiknya.
Peringatan HDI 2025 yang mengangkat tema “Partisipasi Semesta Menguatkan Layanan Pendidikan untuk Penyandang Disabilitas” diselenggarakan Kemendikdasmen di Yogyakarta, Rabu, 3 Desember 2025.
Baca juga: Kemendikdasmen Luncurkan Aplikasi Pengusulan Revitalisasi Sekolah
Tema tersebut dimaknai upaya untuk meningkatkan layanan pendidikan inklusif harus dibangun melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengungkapkan rasa bangganya melihat anak-anak berkebutuhan khusus menampilkan kemampuan dan talenta mereka.
“Ini adalah bagian dari upaya kita bersama untuk memberikan perhatian, kesempatan, ruang, dan akomodasi bagi anak-anak berkebutuhan khusus agar dapat tumbuh dan berkembang sesuai bakat dan minat masing-masing,” ujarnya, Kamis (4/12/2025).
Abdul Mu’ti menegaskan sesuai amanat konstitusi, negara berkomitmen memberikan layanan pendidikan bermutu bagi seluruh anak, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus. Sebagai bagian dari langkah konkret memperkuat layanan pendidikan inklusif, Kemendikdasmen meluncurkan Tujuh Pilar Kebijakan Akomodasi Layak bagi Peserta Didik Penyandang Disabilitas.
Baca juga: Peringatan Hari Disabilitas Internasional Jadi Momentum Kesetaraan HAM
“Kebijakan ini hadir untuk memastikan setiap daerah dan satuan pendidikan mampu menyediakan dukungan yang dibutuhkan murid penyandang disabilitas agar dapat belajar secara optimal,” katanya.
Tujuh pilar tersebut meliputi identifikasi kebutuhan individual murid; pengembangan kapasitas Unit Layanan Disabilitas (ULD) dan guru; adaptasi kurikulum dan pembelajaran; penyediaan sarana prasarana dan teknologi pendukung; penguatan pembiayaan; dukungan komunitas dan ekosistem masyarakat; dan pengawasan implementasi layanan akomodasi layak.
“Peringatan Hari Disabilitas Internasional ini bukan sekadar formalitas. Ini adalah awal untuk kita memberikan layanan yang lebih baik lagi agar anak-anak kita dapat memperoleh hak-hak mereka. Mereka adalah bagian dari masyarakat kita yang memiliki kemampuan dan bakat, dan mereka kita dampingi bersama-sama untuk mencapai cita-cita mereka yang sangat mulia,” tegasnya.
Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian menyebut keberhasilan pendidikan yang bersifat inklusif hanya akan tercapai melalui kolaborasi yang menyeluruh lintas sektor. Hetifah berharap momentum HDI 2025 dapat mempercepat perluasan layanan pendidikan yang inklusif, adil, dan bermutu.
“Tema partisipasi semesta mengajak kita melibatkan seluruh lingkungan sosial pemerintah, DPR, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi penyandang disabilitas, komunitas, sekolah, hingga orang tua. Bagi anak-anakku peserta didik, tentu pendidikan bukan hanya tentang kemampuan akademik, tapi tentang menemukan ruang untuk mengembangkan bakat dan potensi diri kalian semua,” paparnya.
Dirjen Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus, Tatang Muttaqin, melaporkan rangkaian kegiatan HDI 2025 diawali dengan Senam Anak Indonesia Hebat bersama murid SLB, peresmian revitalisasi SLB, serta gelar wicara dengan narasumber-narasumber hebat yang membagi praktik baik dalam memberikan layanan bagi penyandang disabilitas.
Seluruh rangkaian dirancang untuk meningkatkan kesadaran publik, meningkatkan partisipasi semesta dalam memberikan akomodasi yang layak, serta memperkuat komitmen kolaborasi multipihak.
“Melalui rangkaian kegiatan ini, kami berharap kolaborasi multipihak semakin kuat dalam mewujudkan layanan pendidikan yang inklusif dan menghargai keragaman bagi seluruh penyandang disabilitas di tanah air,” ucapnya.
Dengan peluncuran Tujuh Pilar Akomodasi Layak pada HDI 2025, Kemendikdasmen berharap upaya pemenuhan hak pendidikan bagi penyandang disabilitas semakin komprehensif dan berkelanjutan. Pendidikan inklusif hadir untuk memastikan setiap anak Indonesia, tanpa kecuali, dapat belajar, berkembang, dan meraih masa depan terbaiknya.
(shf)
Lihat Juga :