Dua Sastrawan Dunia Salwa Bakr dan Denny JA Raih BRICS Award 2025
Senin, 01 Desember 2025 - 13:29 WIB
loading...
Dua sastrawan dari dua benua yakni, Salwa Bakr dari Mesir dan Denny JA dari Indonesia meraih penghargaan internasional BRICS Literature Award 2025. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Dua sastrawan dari dua benua yakni, Salwa Bakr dari Mesir dan Denny JA dari Indonesia meraih penghargaan internasional BRICS Literature Award 2025. Penghargaan yang baru memasuki tahun kedua ini disebut sebagai ruang baru bagi sastra Global South untuk memperoleh panggung setara di kancah dunia.
Dalam acara yang digelar pada 30 November 2025 di Khabarovsk, para diplomat, budayawan, dan penulis dari negara-negara BRICS menyaksikan pengumuman dua penghargaan utama yang diklaim sebagai alternatif terhadap dominasi penghargaan sastra Barat.
Sastrawan Mesir Salwa Bakr, penulis The Golden Chariot dan The Man from Bashmour—dua karya yang masuk daftar 100 novel Arab terbaik sepanjang masa—ditetapkan sebagai Pemenang Utama BRICS Literature Award 2025. Salwa Bakr dinilai konsisten mengangkat suara-suara terpinggirkan, terutama perempuan dan kelompok kecil yang hidup dalam bayang-bayang ketidakadilan.
Baca juga: Denny JA Serukan Penguatan Suara Global South di BRICS Award 2025
“Hari ini kita menyaksikan momen bersejarah. Kita bukan hanya mengumumkan pemenang, tetapi meletakkan batu pertama ruang budaya bersama bagi negara-negara kita,” ujar Sergey Stepashin dari Russian Book Union, Senin (1/12/2025).
Dengan penobatan ini, Salwa Bakr menjadi laureate pertama kategori utama dan menjadi penanda awal prestisius bagi BRICS Literature Award.
Sementara itu, penulis Indonesia Denny JA menerima Special Prize for Innovation in Literature, penghargaan khusus yang diberikan kepada satu penulis dunia yang dinilai membawa terobosan bentuk dan genre sastra.
Dari sepuluh finalis dari Brazil, Ethiopia, China, Iran, dan negara lain, hanya satu dipilih untuk kategori inovasi—dan penghargaan itu diberikan kepada Denny JA atas kontribusinya menciptakan dan mengembangkan genre Puisi Esai.
Baca juga: Denny JA Dapat Penghargaan Sastra Global untuk Pengembangan Puisi Esai
Genre ini memadukan puisi, narasi, dan data faktual untuk mengangkat luka sosial ke dalam bentuk kesusastraan. Puisi esai telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan dianggap membuka pendekatan baru dalam membaca sejarah sosial dan kemanusiaan.
“Saya bangga Indonesia ikut diakui. Tanpa ia sadari, Denny telah mengangkat profil Indonesia di mata dunia,” ujar Sastri Bakry, Koordinator BRICS Literature Network Indonesia.
Penyelenggara menegaskan bahwa kedua penghargaan ini memiliki makna berbeda namun saling melengkapi. Penghargaan utama menandai karya paling kuat tahun ini, sementara penghargaan inovasi menegaskan keberanian terobosan bentuk sastra.
“BRICS hadir sebagai alternatif atas Nobel Sastra yang kian politis. Kami ingin mengembalikan sastra pada nilai-nilai Global South—kebijaksanaan, keadilan, dan solidaritas,” ujar Dmitry Kuznetsov, Kepala Sekretariat Penghargaan.
Dalam kerangka tersebut, Salwa Bakr dipandang mewakili suara perempuan dan kaum tertindas, sedangkan Denny JA mewakili dinamika inovasi dan perspektif Asia Tenggara.
Dua namaSalwa Bakr dan Denny JA kini berdiri berdampingan sebagai simbol dua kekuatan sastra: kualitas karya dan terobosan bentuk. BRICS Award menegaskan ambisi membangun lanskap sastra dunia yang lebih inklusif dan mencerminkan suara mayoritas penduduk bumi—Asia, Afrika, dan Amerika Latin.
Pengakuan terhadap Puisi Esai disebut langka dalam sejarah sastra modern. Hanya sedikit genre yang diakui secara internasional, seperti magical realism, absurdism, dan surrealism. Dengan diraihnya penghargaan inovasi ini, Indonesia untuk pertama kalinya memiliki genre yang diakui secara formal di panggung dunia.
Penghargaan untuk karya dinilai akan dikenang setiap tahun. Namun penghargaan untuk genre akan hidup dalam sejarah sastra jangka panjang.
Dalam acara yang digelar pada 30 November 2025 di Khabarovsk, para diplomat, budayawan, dan penulis dari negara-negara BRICS menyaksikan pengumuman dua penghargaan utama yang diklaim sebagai alternatif terhadap dominasi penghargaan sastra Barat.
Sastrawan Mesir Salwa Bakr, penulis The Golden Chariot dan The Man from Bashmour—dua karya yang masuk daftar 100 novel Arab terbaik sepanjang masa—ditetapkan sebagai Pemenang Utama BRICS Literature Award 2025. Salwa Bakr dinilai konsisten mengangkat suara-suara terpinggirkan, terutama perempuan dan kelompok kecil yang hidup dalam bayang-bayang ketidakadilan.
Baca juga: Denny JA Serukan Penguatan Suara Global South di BRICS Award 2025
“Hari ini kita menyaksikan momen bersejarah. Kita bukan hanya mengumumkan pemenang, tetapi meletakkan batu pertama ruang budaya bersama bagi negara-negara kita,” ujar Sergey Stepashin dari Russian Book Union, Senin (1/12/2025).
Dengan penobatan ini, Salwa Bakr menjadi laureate pertama kategori utama dan menjadi penanda awal prestisius bagi BRICS Literature Award.
Sementara itu, penulis Indonesia Denny JA menerima Special Prize for Innovation in Literature, penghargaan khusus yang diberikan kepada satu penulis dunia yang dinilai membawa terobosan bentuk dan genre sastra.
Dari sepuluh finalis dari Brazil, Ethiopia, China, Iran, dan negara lain, hanya satu dipilih untuk kategori inovasi—dan penghargaan itu diberikan kepada Denny JA atas kontribusinya menciptakan dan mengembangkan genre Puisi Esai.
Baca juga: Denny JA Dapat Penghargaan Sastra Global untuk Pengembangan Puisi Esai
Genre ini memadukan puisi, narasi, dan data faktual untuk mengangkat luka sosial ke dalam bentuk kesusastraan. Puisi esai telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan dianggap membuka pendekatan baru dalam membaca sejarah sosial dan kemanusiaan.
“Saya bangga Indonesia ikut diakui. Tanpa ia sadari, Denny telah mengangkat profil Indonesia di mata dunia,” ujar Sastri Bakry, Koordinator BRICS Literature Network Indonesia.
Penyelenggara menegaskan bahwa kedua penghargaan ini memiliki makna berbeda namun saling melengkapi. Penghargaan utama menandai karya paling kuat tahun ini, sementara penghargaan inovasi menegaskan keberanian terobosan bentuk sastra.
“BRICS hadir sebagai alternatif atas Nobel Sastra yang kian politis. Kami ingin mengembalikan sastra pada nilai-nilai Global South—kebijaksanaan, keadilan, dan solidaritas,” ujar Dmitry Kuznetsov, Kepala Sekretariat Penghargaan.
Dalam kerangka tersebut, Salwa Bakr dipandang mewakili suara perempuan dan kaum tertindas, sedangkan Denny JA mewakili dinamika inovasi dan perspektif Asia Tenggara.
Dua namaSalwa Bakr dan Denny JA kini berdiri berdampingan sebagai simbol dua kekuatan sastra: kualitas karya dan terobosan bentuk. BRICS Award menegaskan ambisi membangun lanskap sastra dunia yang lebih inklusif dan mencerminkan suara mayoritas penduduk bumi—Asia, Afrika, dan Amerika Latin.
Pengakuan terhadap Puisi Esai disebut langka dalam sejarah sastra modern. Hanya sedikit genre yang diakui secara internasional, seperti magical realism, absurdism, dan surrealism. Dengan diraihnya penghargaan inovasi ini, Indonesia untuk pertama kalinya memiliki genre yang diakui secara formal di panggung dunia.
Penghargaan untuk karya dinilai akan dikenang setiap tahun. Namun penghargaan untuk genre akan hidup dalam sejarah sastra jangka panjang.
(cip)
Lihat Juga :