Kapolri, Irwasum, hingga Dankor Brimob Bacakan Renungan Nilai Ksatria Bhayangkara
Rabu, 26 November 2025 - 16:07 WIB
loading...
A
A
A
Seluruh rangkaian menegaskan Polri memasuki babak baru perubahan yang menempatkan integritas, keberanian moral, dan pelayanan masyarakat sebagai fondasi utama.
Sementara, Irwasum Komjen Pol Wahyu Widada membacakan naskah renungan ksatria Bhayangkara yang berbunyi:
Jika Komjen Pol (P) Moeh. Jasin hidup hari ini, jika ia melihat kita malam ini, apa ia akan tersenyum? Atau ia akan mengingatkan kita, bahwa kehormatan Polri bukan diukur dari pangkat, tapi dari ketulusan dalam melayani rakyat?
Saudaraku...
Malam ini, kita dipanggil oleh sejarah. Dipanggil oleh nurani. Dipanggil oleh api kecil yang dulu dijaga Komjen Pol (P) Moeh. Jasin, dan kini kita warisi.
Mari kita bertanya jujur pada diri masing-masing:
Apakah tindakan kita sudah bersih?
Apakah keputusan kita berani?
Apakah rakyat merasakan kita melayani?
Apakah masyarakat mencintai dan mempercayai kita?
Ataukah api itu mulai redup dalam diri kita?
Tidak ada yang sempurna di dunia ini- tapi ada satu hal yang tidak boleh padam: Keinginan untuk memperbaiki diri.
Sementara itu, Dankor Brimob Polri juga membacakan naskah renungan ksatria Bhayangkara, yaitu;
Saudara-saudaraku... Para penjaga negeri...
Dalam hening malam ini, mari kita bertanya pada diri sendiri: Apa yang membuat kita berdiri di sini? Apa yang membuat kita tetap mengenakan seragam ini, meski tekanan datang, kritik menghantam, dan tugas semakin berat?
Jawabannya bukan pangkat. Bukan fasilitas. Bukan penghargaan.
Jawabannya adalah kepercayaan. Kepercayaan rakyat. Kepercayaan bangsa. Kepercayaan sejarah.
Malam ini, mari kita ingat kembali seorang Polisi yang memilih jalan terberat... Polisi yang tidak mencari aman... Tidak mencari selamat... Tapi mencari kebenaran.
Komjen Pol (P) Moeh. Jasin Ketika Jepang menawarkan kekuasaan, ia berkata, "Polisi bukan alat penjajah." Kalimat itu sederhana... Tapi di baliknya ada keberanian yang hanya dimiliki seorang ksatria.
Sementara, Irwasum Komjen Pol Wahyu Widada membacakan naskah renungan ksatria Bhayangkara yang berbunyi:
Jika Komjen Pol (P) Moeh. Jasin hidup hari ini, jika ia melihat kita malam ini, apa ia akan tersenyum? Atau ia akan mengingatkan kita, bahwa kehormatan Polri bukan diukur dari pangkat, tapi dari ketulusan dalam melayani rakyat?
Saudaraku...
Malam ini, kita dipanggil oleh sejarah. Dipanggil oleh nurani. Dipanggil oleh api kecil yang dulu dijaga Komjen Pol (P) Moeh. Jasin, dan kini kita warisi.
Mari kita bertanya jujur pada diri masing-masing:
Apakah tindakan kita sudah bersih?
Apakah keputusan kita berani?
Apakah rakyat merasakan kita melayani?
Apakah masyarakat mencintai dan mempercayai kita?
Ataukah api itu mulai redup dalam diri kita?
Tidak ada yang sempurna di dunia ini- tapi ada satu hal yang tidak boleh padam: Keinginan untuk memperbaiki diri.
Sementara itu, Dankor Brimob Polri juga membacakan naskah renungan ksatria Bhayangkara, yaitu;
Saudara-saudaraku... Para penjaga negeri...
Dalam hening malam ini, mari kita bertanya pada diri sendiri: Apa yang membuat kita berdiri di sini? Apa yang membuat kita tetap mengenakan seragam ini, meski tekanan datang, kritik menghantam, dan tugas semakin berat?
Jawabannya bukan pangkat. Bukan fasilitas. Bukan penghargaan.
Jawabannya adalah kepercayaan. Kepercayaan rakyat. Kepercayaan bangsa. Kepercayaan sejarah.
Malam ini, mari kita ingat kembali seorang Polisi yang memilih jalan terberat... Polisi yang tidak mencari aman... Tidak mencari selamat... Tapi mencari kebenaran.
Komjen Pol (P) Moeh. Jasin Ketika Jepang menawarkan kekuasaan, ia berkata, "Polisi bukan alat penjajah." Kalimat itu sederhana... Tapi di baliknya ada keberanian yang hanya dimiliki seorang ksatria.
(cip)
Lihat Juga :