Di COP30, Ketua DPD RI dan Para Pakar Global Bahas Strategi Transportasi Rendah Karbon
Sabtu, 15 November 2025 - 14:56 WIB
loading...
Ketua DPD RI Sultan Baktiar Najamudin di COP30 Buildings and Cooling Pavilion, International Code Council, PV-C82, Blue Zone, Belem, Brasil. Foto/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Ketua DPD RI Sultan Baktiar Najamudin menegaskan bahwa Indonesia harus segera melakukan transformasi besar-besaran di sektor transportasi perkotaan untuk menekan lonjakan emisi karbon. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi keynote speech pada event United Nations Environment Programme (UNEP) dalam sesi “Transport and Logistic: Driving Down Carbon in Cities” di COP30 Buildings and Cooling Pavilion, International Code Council, PV-C82, Blue Zone, Belem, Brasil, Rabu (12/11/2025)
Sultan mengungkapkan ketidakseimbangan komposisi kendaraan serta minimnya transportasi publik telah menyebabkan pemborosan bahan bakar 79,2 juta kiloliter per tahun dan memicu polusi udara 30,49 juta ton serta emisi gas rumah kaca 295,12 juta ton CO₂e setiap tahun. Menurut dia, kondisi itu menjadi lonceng bahaya bagi kota-kota besar.
Dirinya pun menyoroti kualitas udara Jakarta yang hampir seluruh parameter pencemarnya telah melampaui standar WHO dan standar nasional. Akibat polusi tersebut, warga ibu kota harus menanggung biaya kesehatan hingga Rp51,2 triliun per tahun, terutama untuk penyakit pernapasan seperti asma dan ISPA.
Baca juga: Indonesia Perjuangkan Aturan Pasar Karbon yang Adil dan Inklusif di COP30 Belem
Sultan berpendapat, emisi sektor transportasi bukan hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga memperburuk intensitas bencana global akibat fenomena El Niño dan La Niña, seperti banjir, longsor, badai, serta meningkatnya suhu ekstrem yang memicu urban heat island.
Meski upaya pengendalian emisi telah berjalan sejak Protokol Kyoto hingga agenda pembangunan berkelanjutan, Sultan menilai tantangan urbanisasi, pertumbuhan penduduk, dan industrialisasi membuat kebijakan reduksi karbon di kawasan perkotaan menjadi semakin mendesak.
Dia juga menyoroti kebijakan mobilitas DKI Jakarta melalui strategi Avoid–Shift–Improve, termasuk pembatasan kendaraan pribadi, peralihan ke kendaraan listrik dan transportasi umum, serta penerapan kebijakan baru seperti tarif parkir progresif, electronic road pricing, dan pajak berbasis emisi.
Sultan mengatakan kebijakan itu telah memberi efek berantai dan mulai direplikasi kota-kota lain di Indonesia hingga Asia Pasifik. Integrasi BRT, LRT, MRT, elektrifikasi bus pengumpan, serta layanan first-last mile dinilai menjadi landasan sistem mobilitas rendah karbon.
Dirinya menekankan bahwa pembangunan fisik harus dibarengi perubahan gaya hidup masyarakat. Digitalisasi transportasi, termasuk ride-sharing dan ride-hailing, disebut menjadi pendorong efisiensi dan inklusivitas mobilitas perkotaan.
“Indonesia telah memulai langkah konkret menuju pembangunan kota yang tangguh dan berkelanjutan. Transformasi ini tidak hanya soal teknologi, tetapi juga perubahan perilaku menuju net-zero carbon,” ujar Sultan.
Sultan menutup pidatonya dengan menyerukan kolaborasi lintas negara dan lintas sektor. “Mari kita terus bergerak bersama membangun kota yang lebih tangguh bagi generasi mendatang,” pungkasnya.
Hadir juga pembicara lainnya dalam diskusi panel tersebut, antara lain: Hala Omar, Manajer Keberlanjutan di Dar, Gabriel Feriancic, Manajer Negara (Country Manager) TYLin untuk Brasil, Marcel Martin, Manajer Umum ICCT untuk Brasil, Ricardo Assumpção, Kepala Keberlanjutan (Chief Sustainability Officer) dan Pimpinan Bidang Keberlanjutan untuk Amerika Latin, Gabriela Elizondo Azuela, Manajer Praktik di ESMAP, Bank Dunia, Luciane Ferreira Monteiro Machado, Wakil Direktur Pelaksana Bidang Persiapan Proyek serta Luke Upchurch, Direktur Pelaksana Komunikasi di C40 Cities.
Sultan mengungkapkan ketidakseimbangan komposisi kendaraan serta minimnya transportasi publik telah menyebabkan pemborosan bahan bakar 79,2 juta kiloliter per tahun dan memicu polusi udara 30,49 juta ton serta emisi gas rumah kaca 295,12 juta ton CO₂e setiap tahun. Menurut dia, kondisi itu menjadi lonceng bahaya bagi kota-kota besar.
Dirinya pun menyoroti kualitas udara Jakarta yang hampir seluruh parameter pencemarnya telah melampaui standar WHO dan standar nasional. Akibat polusi tersebut, warga ibu kota harus menanggung biaya kesehatan hingga Rp51,2 triliun per tahun, terutama untuk penyakit pernapasan seperti asma dan ISPA.
Baca juga: Indonesia Perjuangkan Aturan Pasar Karbon yang Adil dan Inklusif di COP30 Belem
Sultan berpendapat, emisi sektor transportasi bukan hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga memperburuk intensitas bencana global akibat fenomena El Niño dan La Niña, seperti banjir, longsor, badai, serta meningkatnya suhu ekstrem yang memicu urban heat island.
Meski upaya pengendalian emisi telah berjalan sejak Protokol Kyoto hingga agenda pembangunan berkelanjutan, Sultan menilai tantangan urbanisasi, pertumbuhan penduduk, dan industrialisasi membuat kebijakan reduksi karbon di kawasan perkotaan menjadi semakin mendesak.
Dia juga menyoroti kebijakan mobilitas DKI Jakarta melalui strategi Avoid–Shift–Improve, termasuk pembatasan kendaraan pribadi, peralihan ke kendaraan listrik dan transportasi umum, serta penerapan kebijakan baru seperti tarif parkir progresif, electronic road pricing, dan pajak berbasis emisi.
Sultan mengatakan kebijakan itu telah memberi efek berantai dan mulai direplikasi kota-kota lain di Indonesia hingga Asia Pasifik. Integrasi BRT, LRT, MRT, elektrifikasi bus pengumpan, serta layanan first-last mile dinilai menjadi landasan sistem mobilitas rendah karbon.
Dirinya menekankan bahwa pembangunan fisik harus dibarengi perubahan gaya hidup masyarakat. Digitalisasi transportasi, termasuk ride-sharing dan ride-hailing, disebut menjadi pendorong efisiensi dan inklusivitas mobilitas perkotaan.
“Indonesia telah memulai langkah konkret menuju pembangunan kota yang tangguh dan berkelanjutan. Transformasi ini tidak hanya soal teknologi, tetapi juga perubahan perilaku menuju net-zero carbon,” ujar Sultan.
Sultan menutup pidatonya dengan menyerukan kolaborasi lintas negara dan lintas sektor. “Mari kita terus bergerak bersama membangun kota yang lebih tangguh bagi generasi mendatang,” pungkasnya.
Hadir juga pembicara lainnya dalam diskusi panel tersebut, antara lain: Hala Omar, Manajer Keberlanjutan di Dar, Gabriel Feriancic, Manajer Negara (Country Manager) TYLin untuk Brasil, Marcel Martin, Manajer Umum ICCT untuk Brasil, Ricardo Assumpção, Kepala Keberlanjutan (Chief Sustainability Officer) dan Pimpinan Bidang Keberlanjutan untuk Amerika Latin, Gabriela Elizondo Azuela, Manajer Praktik di ESMAP, Bank Dunia, Luciane Ferreira Monteiro Machado, Wakil Direktur Pelaksana Bidang Persiapan Proyek serta Luke Upchurch, Direktur Pelaksana Komunikasi di C40 Cities.
(rca)
Lihat Juga :