Reza Indragiri: Kita Gagap Sekaligus Terlambat Menangani Perundungan
Jum'at, 14 November 2025 - 16:44 WIB
loading...
A
A
A
"Teman-temannya merendahkan, melecehkan, menghinadinakan, merusak martabatnya, dan seterusnya, tapi dia tidak berdaya," katanya.
Kemudian, siswa tersebut memilih untuk mencoba mengadukan beban hatinya kepada keluarga atau berkeluh kesah kepada sekolah. Semestinya sekolah atau keluarga jadi penolong, memberikan bantuan.
Namun, kata Reza, justru anak atau korban yang berkeluh kesah ini dikatakan 'cemen kau', 'gitu aja', 'mendramatisasi keadaan', 'yang namanya senda gurau itu biasa aja dalam pertemanan'. Atau, muncul pula kalimat yang bunyinya agak indah seperti, 'maafkanlah, cobalah tetap bersabar, nanti waktu yang akan mengobatimu', 'itu kewajaran dalam pertemanan', 'mereka yang hari ini membencimu, suatu saat akan bisa menjadi mencintaimu'.
"Kalimat-kalimat yang terdengar indah, tapi sadar atau tidak sadar, pihak yang seharusnya memberikan pertolongan, justru melakukan viktimisasi kedua," ujarnya.
Kemudian, anak tersebut bingung. Dia coba lapor ke polisi. "Polisi kurang lebih sikapnya sama, sebagian, mengatakan "Alah, masalah sepele aja. Kita masalah sudah numpuk nih, laporan numpuk, cobalah selesaikan sendiri. Damailah". Laporan tidak diterima. Sadar tidak sadar, ternyata otoritas penegakan hukum pada titik itu melakukan viktimisasi ketiga," kata Reza.
Kemudian, siswa tersebut memilih untuk mencoba mengadukan beban hatinya kepada keluarga atau berkeluh kesah kepada sekolah. Semestinya sekolah atau keluarga jadi penolong, memberikan bantuan.
Namun, kata Reza, justru anak atau korban yang berkeluh kesah ini dikatakan 'cemen kau', 'gitu aja', 'mendramatisasi keadaan', 'yang namanya senda gurau itu biasa aja dalam pertemanan'. Atau, muncul pula kalimat yang bunyinya agak indah seperti, 'maafkanlah, cobalah tetap bersabar, nanti waktu yang akan mengobatimu', 'itu kewajaran dalam pertemanan', 'mereka yang hari ini membencimu, suatu saat akan bisa menjadi mencintaimu'.
"Kalimat-kalimat yang terdengar indah, tapi sadar atau tidak sadar, pihak yang seharusnya memberikan pertolongan, justru melakukan viktimisasi kedua," ujarnya.
Kemudian, anak tersebut bingung. Dia coba lapor ke polisi. "Polisi kurang lebih sikapnya sama, sebagian, mengatakan "Alah, masalah sepele aja. Kita masalah sudah numpuk nih, laporan numpuk, cobalah selesaikan sendiri. Damailah". Laporan tidak diterima. Sadar tidak sadar, ternyata otoritas penegakan hukum pada titik itu melakukan viktimisasi ketiga," kata Reza.
Lihat Juga :