Forum Edupsy Series 1.0, Sudirman Said: Pemimpin Indonesia Harus juga Pendidik
Selasa, 11 November 2025 - 19:38 WIB
loading...
Rektor Universitas Harkat Negeri Sudirman Said menekankan peran vital pendidik yakni sebagai pemimpin. Demikian pula sebaliknya, pada hakikatnya pemimpin sekaligus juga seorang pendidik. Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - Rektor Universitas Harkat Negeri Sudirman Said menekankan peran vital pendidik yakni sebagai pemimpin. Demikian pula sebaliknya, pada hakikatnya pemimpin sekaligus juga seorang pendidik.
“Pendidik adalah pemimpin, dan alangkah hebatnya bila para pemimpin Indonesia juga berperilaku sebagai pendidik,” ujar Sudirman di depan forum Edupsy Series 1.0 di Universitas Harkat Negeri, Selasa (11/11/2025).
Menurut dia, kepemimpinan sejati bukan bertolak dari jabatan atau kekuasaan melainkan dari pengaruh yang ditumbuhkan oleh kepercayaan dan keteladanan. Pemimpin yang mendidik adalah mereka yang menggerakkan tanpa memaksa yang membangkitkan semangat tanpa menakut-nakuti.
Baca juga: Sudirman Said: Elite Politik Perlu Eling lan Waspada
Sejatinya pemimpin dan pendidik memiliki misi yang sama yakni menumbuhkan potensi terbaik manusia. “Pemimpin sejati diikuti bukan karena posisi, tetapi karena teladan dan inspirasi," ucapnya.
Sudirman menyinggung para pendiri bangsa yang sebagian besar berawal sebagai guru. "Coba cermati, Ki Hajar Dewantara, pendiri Taman Siswa, gencar memperjuangkan kemerdekaan berpikir. KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari mengajarkan nilai-nilai keislaman melalui pendidikan. Tan Malaka, RA Kartini, RA Kardinah, Bung Hatta, hingga Jenderal Soedirman, semua pernah mengajar, menulis, atau mendidik, bahkan sebelum mereka memimpin bangsa," ungkapnya.
Bangsa ini lahir dari ruang pendidikan. Para pendiri Republik tidak hanya memimpin (di depan), tapi juga membimbing (di tengah) bahkan mendorong (di belakang) bangsanya untuk berpikir dan bergerak ke arah merdeka.
Dengan mengutip riset James Kouzes dan Barry Posner (1993), Sudirman menegaskan bahwa kepemimpinan bukanlah bakat bawaan melainkan sesuatu yang bisa dipelajari, diasah, dan dikembangkan.
Dia menyebut lima praktik kepemimpinan yang menandai pemimpin efektif yakni memberi teladan, menginspirasi visi bersama, berani keluar dari zona nyaman, memberdayakan orang lain, serta menyemangati hati dan jiwa mereka yang dipimpin. Semua itu sejatinya adalah ciri khas pendidik.
Guru yang baik bukan mengontrol, tapi menumbuhkan. Bukan memerintah, tapi menggerakkan. "Dalam konteks inilah kepemimpinan dan pendidikan berkelindan dalam satu napas yaitu membentuk manusia yang merdeka, tangguh, dan berkarakter," ujar penggagas Forum Warga Negara ini.
Sudirman juga menyinggung perlunya para pendidik dan pejabat publik menanamkan nilai-nilai kepemimpinan intrinsik. Maksudnya adalah kepemimpinan yang melampaui otoritas formal dan bersandar pada integritas, kejujuran, serta tanggung jawab.
Dia mencontohkan Jenderal Soedirman yang pada usia 29 tahun diangkat menjadi panglima tertinggi karena keteladanannya, padahal berlatar guru sekolah Muhammadiyah. “Kekuatan sejati seorang pemimpin terletak pada kepribadian dan komitmennya, bukan pada pangkatnya,” ujarnya.
Sudirman mengatakan, perguruan tinggi ini tengah membangun ekosistem pembelajaran keterampilan teknis (hard skills) yang antara lain melalui teaching factory maupun penguatan keterampilan nonteknis (soft skills). Tak ketinggalan, pemanfaatan teknologi pembelajaran jarak jauh untuk memperluas akses pendidikan.
Bagi dia, universitas itu bukan sekadar pencetak tenaga kerja, tapi pencetak pemimpin yang punya daya juang, empati, dan tanggung jawab sosial.
Terakhir, Sudirman menegaskan suatu panggilan moral. Kepemimpinan adalah proses mendidik dan pendidikan adalah seni memimpin. Dalam dunia yang kian kompetitif dan serbacepat, bangsa ini butuh lebih banyak pemimpin yang berkarakter guru yakni sabar, reflektif, dan percaya bahwa perubahan sejati ditempuh melalui proses panjang menumbuhkan manusia, bukan menundukkan manusia.
“Pendidik adalah pemimpin, dan alangkah hebatnya bila para pemimpin Indonesia juga berperilaku sebagai pendidik,” ujar Sudirman di depan forum Edupsy Series 1.0 di Universitas Harkat Negeri, Selasa (11/11/2025).
Menurut dia, kepemimpinan sejati bukan bertolak dari jabatan atau kekuasaan melainkan dari pengaruh yang ditumbuhkan oleh kepercayaan dan keteladanan. Pemimpin yang mendidik adalah mereka yang menggerakkan tanpa memaksa yang membangkitkan semangat tanpa menakut-nakuti.
Baca juga: Sudirman Said: Elite Politik Perlu Eling lan Waspada
Sejatinya pemimpin dan pendidik memiliki misi yang sama yakni menumbuhkan potensi terbaik manusia. “Pemimpin sejati diikuti bukan karena posisi, tetapi karena teladan dan inspirasi," ucapnya.
Sudirman menyinggung para pendiri bangsa yang sebagian besar berawal sebagai guru. "Coba cermati, Ki Hajar Dewantara, pendiri Taman Siswa, gencar memperjuangkan kemerdekaan berpikir. KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari mengajarkan nilai-nilai keislaman melalui pendidikan. Tan Malaka, RA Kartini, RA Kardinah, Bung Hatta, hingga Jenderal Soedirman, semua pernah mengajar, menulis, atau mendidik, bahkan sebelum mereka memimpin bangsa," ungkapnya.
Bangsa ini lahir dari ruang pendidikan. Para pendiri Republik tidak hanya memimpin (di depan), tapi juga membimbing (di tengah) bahkan mendorong (di belakang) bangsanya untuk berpikir dan bergerak ke arah merdeka.
Dengan mengutip riset James Kouzes dan Barry Posner (1993), Sudirman menegaskan bahwa kepemimpinan bukanlah bakat bawaan melainkan sesuatu yang bisa dipelajari, diasah, dan dikembangkan.
Dia menyebut lima praktik kepemimpinan yang menandai pemimpin efektif yakni memberi teladan, menginspirasi visi bersama, berani keluar dari zona nyaman, memberdayakan orang lain, serta menyemangati hati dan jiwa mereka yang dipimpin. Semua itu sejatinya adalah ciri khas pendidik.
Guru yang baik bukan mengontrol, tapi menumbuhkan. Bukan memerintah, tapi menggerakkan. "Dalam konteks inilah kepemimpinan dan pendidikan berkelindan dalam satu napas yaitu membentuk manusia yang merdeka, tangguh, dan berkarakter," ujar penggagas Forum Warga Negara ini.
Sudirman juga menyinggung perlunya para pendidik dan pejabat publik menanamkan nilai-nilai kepemimpinan intrinsik. Maksudnya adalah kepemimpinan yang melampaui otoritas formal dan bersandar pada integritas, kejujuran, serta tanggung jawab.
Dia mencontohkan Jenderal Soedirman yang pada usia 29 tahun diangkat menjadi panglima tertinggi karena keteladanannya, padahal berlatar guru sekolah Muhammadiyah. “Kekuatan sejati seorang pemimpin terletak pada kepribadian dan komitmennya, bukan pada pangkatnya,” ujarnya.
Sudirman mengatakan, perguruan tinggi ini tengah membangun ekosistem pembelajaran keterampilan teknis (hard skills) yang antara lain melalui teaching factory maupun penguatan keterampilan nonteknis (soft skills). Tak ketinggalan, pemanfaatan teknologi pembelajaran jarak jauh untuk memperluas akses pendidikan.
Bagi dia, universitas itu bukan sekadar pencetak tenaga kerja, tapi pencetak pemimpin yang punya daya juang, empati, dan tanggung jawab sosial.
Terakhir, Sudirman menegaskan suatu panggilan moral. Kepemimpinan adalah proses mendidik dan pendidikan adalah seni memimpin. Dalam dunia yang kian kompetitif dan serbacepat, bangsa ini butuh lebih banyak pemimpin yang berkarakter guru yakni sabar, reflektif, dan percaya bahwa perubahan sejati ditempuh melalui proses panjang menumbuhkan manusia, bukan menundukkan manusia.
(jon)
Lihat Juga :