BNPB: Cuaca Ekstrem Picu Banjir dan Longsor di 6 Wilayah Indonesia
Selasa, 11 November 2025 - 16:02 WIB
loading...
A
A
A
Sementara itu, di Kabupaten Garut, Jawa Barat, cuaca ekstrem terjadi pada Kamis, 6 November 2025 sekitar pukul 21.50 WIB. Hujan deras disertai angin kencang mengakibatkan sejumlah atap rumah warga dan bangunan sekolah rusak di dua kecamatan, yakni Cilawu dan Banyuresmi.
"Sebanyak 22 KK atau 84 jiwa terdampak, dengan rincian 4 rumah rusak sedang, 18 rumah rusak ringan, serta satu fasilitas pendidikan mengalami kerusakan sedang. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini," papar Aam.
Peristiwa tersebut terjadi dalam masa Status Siaga Darurat Bencana Banjir, Banjir Bandang, Cuaca Ekstrem, Gelombang Ekstrem, Abrasi, dan Tanah Longsor Provinsi Jawa Barat Tahun 2025/2026, sebagaimana ditetapkan melalui Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 360/Kep.626-BPBD/2025 yang berlaku sejak 15 September 2025 hingga 30 April 2026.
Saat ini, kondisi di wilayah terdampak telah berangsur kondusif. Warga mulai memperbaiki rumah mereka dengan pendampingan dari BPBD Kabupaten Garut dan aparat setempat.
Kejadian cuaca ekstrem juga dilaporkan di Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara, pada Senin (10/11) sekitar pukul 13.00 WIT. Hujan lebat disertai kilat, petir, dan angin kencang memicu angin puting beliung yang merusak sejumlah rumah di dua kecamatan, yakni Maba di Desa Buli dan Kota Maba di Desa Maba Pura.
Sebanyak 7 KK atau 24 jiwa terdampak, dengan 7 rumah mengalami rusak berat. BPBD Kabupaten Halmahera Timur segera berkoordinasi dengan aparat desa, Bhabinkamtibmas, dan masyarakat untuk melakukan asesmen serta pendataan kerusakan.
Hingga Senin malam, cuaca di wilayah tersebut masih dilaporkan hujan disertai angin kencang, sehingga masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem susulan.
Aam mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi seiring meningkatnya intensitas hujan di berbagai daerah.
"Masyarakat juga diharapkan menjaga kebersihan saluran air, menghindari aktivitas di sekitar tebing atau aliran sungai saat hujan deras, serta segera melapor kepada aparat desa atau BPBD setempat apabila terlihat tanda-tanda bencana seperti kenaikan debit air, longsoran kecil, atau angin kencang," imbaunya.
"Sebanyak 22 KK atau 84 jiwa terdampak, dengan rincian 4 rumah rusak sedang, 18 rumah rusak ringan, serta satu fasilitas pendidikan mengalami kerusakan sedang. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini," papar Aam.
Peristiwa tersebut terjadi dalam masa Status Siaga Darurat Bencana Banjir, Banjir Bandang, Cuaca Ekstrem, Gelombang Ekstrem, Abrasi, dan Tanah Longsor Provinsi Jawa Barat Tahun 2025/2026, sebagaimana ditetapkan melalui Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 360/Kep.626-BPBD/2025 yang berlaku sejak 15 September 2025 hingga 30 April 2026.
Saat ini, kondisi di wilayah terdampak telah berangsur kondusif. Warga mulai memperbaiki rumah mereka dengan pendampingan dari BPBD Kabupaten Garut dan aparat setempat.
Kejadian cuaca ekstrem juga dilaporkan di Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara, pada Senin (10/11) sekitar pukul 13.00 WIT. Hujan lebat disertai kilat, petir, dan angin kencang memicu angin puting beliung yang merusak sejumlah rumah di dua kecamatan, yakni Maba di Desa Buli dan Kota Maba di Desa Maba Pura.
Sebanyak 7 KK atau 24 jiwa terdampak, dengan 7 rumah mengalami rusak berat. BPBD Kabupaten Halmahera Timur segera berkoordinasi dengan aparat desa, Bhabinkamtibmas, dan masyarakat untuk melakukan asesmen serta pendataan kerusakan.
Hingga Senin malam, cuaca di wilayah tersebut masih dilaporkan hujan disertai angin kencang, sehingga masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem susulan.
Aam mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi seiring meningkatnya intensitas hujan di berbagai daerah.
"Masyarakat juga diharapkan menjaga kebersihan saluran air, menghindari aktivitas di sekitar tebing atau aliran sungai saat hujan deras, serta segera melapor kepada aparat desa atau BPBD setempat apabila terlihat tanda-tanda bencana seperti kenaikan debit air, longsoran kecil, atau angin kencang," imbaunya.
(cip)
Lihat Juga :