Profil Rahmah El Yunusiyyah, Tokoh Perempuan Minangkabau yang Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional
Senin, 10 November 2025 - 12:22 WIB
loading...
A
A
A
Karena pengaruhnya dalam dunia ketentaraan dan pergerakan di Sumatera Tengah, pada 1949 ia dipenjara dan disekap di rumah seorang polisi Belanda di Padang. Rahmah baru dilepas setelah mendapatkan undangan dari panitia Konferensi Pendidikan di Yogyakarta. Setelah konferensi selesai, ia mengikuti Kongres Kaum Muslimin Indonesia di Jakarta dan kembali ke Padang Panjang setelah penyerahan kedaulatan.
Pada tahun 1955, ia terpilih sebagai anggota DPRS dari Partai Masyumi. Ia duduk di lembaga itu hingga tahun 1957. Pada tahun 1955, Rektor Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, Syekh Abdurrahman Taj berkunjung ke Indonesia. Dia menyempatkan diri datang ke Diniyah Putri. Sebagai penghargaan, ia mengundang Rahmah ke Al-Azhar, Kairo, Mesir, untuk berbagi pengalaman.
Pada tahun 1957, Rahmah menunaikan ibadah haji dan berkunjung ke Universitas Al-Azhar. Di sana ia disambut sebagai Syaikhah, gelar kehormatan agama tertinggi yang diberikan kepada perempuan. Pemberian gelar ini belum pernah diberikan kepada siapa pun sebelumnya. Gelar yang baru disandangnya itu setara dengan gelar Syekh Mahmoud Syalthout, salah seorang mantan rektor Al-Azhar.
Upaya pengembangan pendidikan yang dilakukan Rahmah selanjutnya adalah merintis program pendidikan tingkat perguruan tinggi. Sejak 1964, Rahmah merintis pendirian Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Dakwah. Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 22 November 1967, kedua fakultas tersebut diresmikan Gubernur Sumatera Barat Harun Zain.
Rahmah meninggal dunia pada 26 Februari 1969. Meski telah tiada, perjuangannya mengangkat harkat kaum perempuan tetap diapresiasi berbagai kalangan. Semoga, perjuangan Rahmah El-Yunusiah bisa menginspirasi kaum perempuan Indonesia yang hidup di era modern ini.
Pada tahun 1955, ia terpilih sebagai anggota DPRS dari Partai Masyumi. Ia duduk di lembaga itu hingga tahun 1957. Pada tahun 1955, Rektor Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, Syekh Abdurrahman Taj berkunjung ke Indonesia. Dia menyempatkan diri datang ke Diniyah Putri. Sebagai penghargaan, ia mengundang Rahmah ke Al-Azhar, Kairo, Mesir, untuk berbagi pengalaman.
Pada tahun 1957, Rahmah menunaikan ibadah haji dan berkunjung ke Universitas Al-Azhar. Di sana ia disambut sebagai Syaikhah, gelar kehormatan agama tertinggi yang diberikan kepada perempuan. Pemberian gelar ini belum pernah diberikan kepada siapa pun sebelumnya. Gelar yang baru disandangnya itu setara dengan gelar Syekh Mahmoud Syalthout, salah seorang mantan rektor Al-Azhar.
Upaya pengembangan pendidikan yang dilakukan Rahmah selanjutnya adalah merintis program pendidikan tingkat perguruan tinggi. Sejak 1964, Rahmah merintis pendirian Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Dakwah. Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 22 November 1967, kedua fakultas tersebut diresmikan Gubernur Sumatera Barat Harun Zain.
Rahmah meninggal dunia pada 26 Februari 1969. Meski telah tiada, perjuangannya mengangkat harkat kaum perempuan tetap diapresiasi berbagai kalangan. Semoga, perjuangan Rahmah El-Yunusiah bisa menginspirasi kaum perempuan Indonesia yang hidup di era modern ini.
(zik)
Lihat Juga :