Mendagri Tito Karnavian Ungkap Kunci Hadapi Kompetisi Global
Minggu, 09 November 2025 - 22:46 WIB
loading...
Mendagri Tito Karnavian menyampaikan kunci dalam menghadapi kompetisi global yakni pembangunan SDM. Hal itu disampaikan Tito dalam kapasitasnya sebagai Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Sriwijaya, Palembang. Foto: Ist
A
A
A
PALEMBANG - Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyampaikan kunci dalam menghadapi kompetisi global yakni pembangunan sumber daya manusia. Hal itu disampaikan Tito dalam kapasitasnya sebagai Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Sriwijaya beberapa waktu lalu.
Indonesia memiliki modal yang cukup besar untuk menjadi negara maju. Kelengkapan sumber daya yang dimiliki Tanah Air nyaris sepadan dengan negara-negara dominan seperti Amerika Serikat, Rusia, dan India. Namun, keunggulan SDA tidak akan berarti tanpa SDM berkualitas.
Baca juga: Tito Ingatkan Kepala Daerah Jangan Pamer Kekayaan
“Jangan terlalu bangga dengan kekayaan alam. Negara itu maju bukan karena SDA, tapi karena SDM. Kunci utama adalah pendidikan,” ujar Tito dikutip Minggu (9/11/2025).
Dia mengatakan, bonus demografi sebesar 68,95 persen dari total populasi Indonesia yang berada di usia produktif (15–64 tahun) harus dipersiapkan dengan baik melalui pendidikan dan kesehatan agar mampu menjadi motor penggerak Indonesia Emas 2045.
Dalam pengalamannya menempuh studi di Nanyang Technological University (NTU) Singapura, mantan Kapolri itu menyaksikan bagaimana negara kecil tanpa sumber daya alam dapat menjelma menjadi kekuatan ekonomi dunia melalui investasi besar di sektor pendidikan.
Dia mencontohkan visi Lee Kuan Yew yang secara konsisten mengirim pelajar terbaik ke universitas top dunia dan memberi mereka jalur karier strategis setelah kembali ke negaranya.
Singapura bisa seperti sekarang karena Lee Kuan Yew menaruh pendidikan di posisi utama. “Dia membangun SDM unggul dan komunitas intelektual yang menjadi tulang punggung negara,” ujar Tito dalam orasi Ilmiah yang berlangsung sekitar 2 jam itu.
Tito menilai arah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sejalan dengan visi penguatan SDM. Program seperti Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, dan beasiswa untuk bidang strategis terutama kedokteran dinilai sebagai langkah penting dalam menyiapkan SDM berkualitas yang mampu menopang populasi Indonesia yang kini mencapai 286,7 juta jiwa.
Dosen Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran Arfin Sudirman menilai orasi Tito sangat relevan untuk menjawab tantangan global. Kekayaan alam melimpah tidak akan bernilai tanpa SDM unggul dan penguasaan teknologi tinggi.
“Negara dengan SDA berlimpah akan sulit maju tanpa SDM berkualitas. Pemerintah perlu political will untuk menjadikan kebijakan berbasis riset dan ilmu pengetahuan,” ujarnya.
Menurut Arfin, penguatan SDM dan teknologi akan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap negara-negara maju serta meningkatkan daya saing dalam peta ekonomi global yang semakin ketat.
Dia juga menekankan pentingnya penguasaan bahasa Inggris sejak dini serta menghidupkan kembali program keluarga berencana agar fokus pembangunan SDM lebih diarahkan pada kualitas, bukan kuantitas.
Indonesia memiliki modal yang cukup besar untuk menjadi negara maju. Kelengkapan sumber daya yang dimiliki Tanah Air nyaris sepadan dengan negara-negara dominan seperti Amerika Serikat, Rusia, dan India. Namun, keunggulan SDA tidak akan berarti tanpa SDM berkualitas.
Baca juga: Tito Ingatkan Kepala Daerah Jangan Pamer Kekayaan
“Jangan terlalu bangga dengan kekayaan alam. Negara itu maju bukan karena SDA, tapi karena SDM. Kunci utama adalah pendidikan,” ujar Tito dikutip Minggu (9/11/2025).
Dia mengatakan, bonus demografi sebesar 68,95 persen dari total populasi Indonesia yang berada di usia produktif (15–64 tahun) harus dipersiapkan dengan baik melalui pendidikan dan kesehatan agar mampu menjadi motor penggerak Indonesia Emas 2045.
Dalam pengalamannya menempuh studi di Nanyang Technological University (NTU) Singapura, mantan Kapolri itu menyaksikan bagaimana negara kecil tanpa sumber daya alam dapat menjelma menjadi kekuatan ekonomi dunia melalui investasi besar di sektor pendidikan.
Dia mencontohkan visi Lee Kuan Yew yang secara konsisten mengirim pelajar terbaik ke universitas top dunia dan memberi mereka jalur karier strategis setelah kembali ke negaranya.
Singapura bisa seperti sekarang karena Lee Kuan Yew menaruh pendidikan di posisi utama. “Dia membangun SDM unggul dan komunitas intelektual yang menjadi tulang punggung negara,” ujar Tito dalam orasi Ilmiah yang berlangsung sekitar 2 jam itu.
Tito menilai arah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sejalan dengan visi penguatan SDM. Program seperti Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, dan beasiswa untuk bidang strategis terutama kedokteran dinilai sebagai langkah penting dalam menyiapkan SDM berkualitas yang mampu menopang populasi Indonesia yang kini mencapai 286,7 juta jiwa.
Dosen Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran Arfin Sudirman menilai orasi Tito sangat relevan untuk menjawab tantangan global. Kekayaan alam melimpah tidak akan bernilai tanpa SDM unggul dan penguasaan teknologi tinggi.
“Negara dengan SDA berlimpah akan sulit maju tanpa SDM berkualitas. Pemerintah perlu political will untuk menjadikan kebijakan berbasis riset dan ilmu pengetahuan,” ujarnya.
Menurut Arfin, penguatan SDM dan teknologi akan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap negara-negara maju serta meningkatkan daya saing dalam peta ekonomi global yang semakin ketat.
Dia juga menekankan pentingnya penguasaan bahasa Inggris sejak dini serta menghidupkan kembali program keluarga berencana agar fokus pembangunan SDM lebih diarahkan pada kualitas, bukan kuantitas.
(jon)
Lihat Juga :