Tolak Soeharto Dapat Gelar Pahlawan, Megawati Dinilai Belum Berdamai dengan Sejarah

Sabtu, 08 November 2025 - 21:20 WIB
loading...
Tolak Soeharto Dapat...
Pernyataan Ketum PDIP sekaligus Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri yang menolak pemberian gelar pahlawan nasional kepada Presiden ke-2 RI Soeharto disayangkan. Foto/SindoNews
A A A
JAKARTA - Pernyataan Ketua Umum PDIP sekaligus Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri yang menolak pemberian gelar pahlawan nasional kepada Presiden ke-2 RI, Soeharto sangat disayangkan. Megawati seharusnya dapat menempatkan diri sebagai seorang negarawan yang menghormati jasa para pendahulunya, bukan hanya melihat persoalan ini dari sudut pandang politik.

Direktur Citra Institute Yusak Farhan mengatakan, seharusnya Megawati tidak mengeluarkan pernyataan itu. “Sikap Megawati justru menunjukkan bangsa kita belum sepenuhnya bisa berdamai dengan masa lalu. Megawati seharusnya tidak melihat usulan Soeharto sebagai pahlawan nasional dari sudut pandang seorang politisi, tapi sebagai seorang negarawan atau mantan presiden yang menghormati para pendahulunya,” ujarnya, Sabtu (8/11/2025).

Yusak menilai sikap ngambek politik yang terus dipertahankan Megawati justru dapat memperlambat proses rekonsiliasi nasional yang sedang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto. “Sikap ngambek Mega yang terus-terusan bisa menghambat rekonsiliasi nasional,” tegasnya.

Baca juga: Megawati Terkenang Soekarno Ditolak Dimakamkan di TMP oleh Soeharto

Yusak menilai penolakan Megawati atas dasar luka sejarah keluarga Soekarno dapat menimbulkan risiko munculnya kembali politik dendam di tengah masyarakat. “Sikap Mega bisa menghambat rekonsiliasi nasional dan melanggengkan politik dendam atas masa lalu,” ujarnya.

Semangat rekonsiliasi yang dibangun Prabowo berlandaskan visi besar untuk memperkuat persatuan bangsa, bukan kepentingan politik jangka pendek. “Saya kira politik rekonsiliasi Prabowo dibangun berdasarkan visi besar persatuan nasional, bukan rekonsiliasi jangka pendek yang digerakkan karena motif kekuasaan,” tutur Yusak.



Menurut Yusak, keteladanan dalam menghargai tokoh masa lalu tanpa kehilangan sikap kritis telah dicontohkan oleh beberapa pemimpin, seperti Gus Dur, Taufiq Kiemas, hingga Presiden Prabowo Subianto.

Baca juga: Hadirkan Pemerataan Pembangunan hingga Papua, Soeharto Dinilai Layak Jadi Pahlawan Nasional

“Sikap terbaik dalam menghargai tokoh masa lalu sudah ditunjukkan dalam kepemimpinan Prabowo. Dari awal dilantik, Prabowo terbuka dan merangkul semua kelompok, termasuk Mega dan PDIP. Hanya PDIP-nya saja yang tidak mau kan,” ujarnya.

Yusak menegaskan menjadikan Soeharto sebagai pahlawan nasional tidak berarti menghapus sisi kritis terhadap masa pemerintahannya. “Menjadikan Soeharto sebagai pahlawan nasional tidak berarti menghilangkan nalar kritis kita terhadap kepemimpinan Soeharto. Saya kira kita harus fair dan proporsional,” jelasnya.

Yusak juga menilai tidak adil apabila jasa Soeharto di bidang pembangunan diabaikan hanya karena kontroversi politik masa lalunya. “Tentu tidak adil jika melihat Soeharto hanya dari sisi keburukannya,” ujarnya.

Meski Soeharto naik ke tampuk kekuasaan bukan melalui pemilu, ia mampu membangun fondasi ekonomi nasional yang kuat melalui program pembangunan jangka panjang seperti Repelita.

“Soeharto menjadi Presiden memang bukan karena hasil pemilu, melainkan akibat krisis politik nasional yang membuatnya naik ke tampuk kekuasaan. Tapi kepemimpinan Soeharto juga berhasil melaksanakan berbagai program pembangunan terencana melalui Repelita yang mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” jelas Yusak.

Yusak menyebut usulan pemberian gelar pahlawan nasional kepada Soeharto sudah melalui proses panjang sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). “Usulan Soeharto sebagai pahlawan nasional sudah melalui proses yang panjang, bahkan sejak era SBY,” katanya.

Pengakuan terhadap jasa Soeharto justru dapat menjadi simbol kebesaran bangsa Indonesia yang mampu menempatkan sejarah secara adil tanpa membawa dendam. “Kalau kita ribut dan dendam terus atas masa lalu, sampai kapan bangsa kita bisa menjadi dewasa. Kita harus bisa menempatkan sejarah secara adil,” tegas Yusak.

Menurutnya, meski gaya kepemimpinan Soeharto kerap disebut otoriter, jasa dan perannya dalam menyelamatkan bangsa pasca tragedi 1965 tidak bisa diabaikan.

“Meskipun kepemimpinan politiknya sangat otoriter, tapi Soeharto telah meletakkan fondasi penting bagi pembangunan ekonomi. Soeharto turut bekerja dalam upaya penyelamatan bangsa dari potensi disintegrasi pascatragedi 1965,” ucapnya.
(cip)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Berjasa Besar bagi Bahasa...
Berjasa Besar bagi Bahasa dan Budaya, Sutan Takdir Alisjahbana Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
Wamensesneg: Presiden...
Wamensesneg: Presiden Sangat Paham dan Menghargai Kebebasan Akademik di Kampus
Latsarmil Manajer Kopdes...
Latsarmil Manajer Kopdes Dievaluasi, Istana: Insyaaallah, Tidak Terjadi Korban Lagi
LPI Minta Program Prioritas...
LPI Minta Program Prioritas Nasional Dievaluasi Agar Sesuai Arahan Presiden
Prabowo Ungkap Kunci...
Prabowo Ungkap Kunci Negara Sukses: Berani Akui Kekurangan hingga Cari Solusi
Prabowo Terima Usulan...
Prabowo Terima Usulan Rektor, Keuntungan BUMN untuk Riset dan Inovasi
Prabowo Targetkan Pangkas...
Prabowo Targetkan Pangkas 1.000 BUMN Jadi Tinggal Tersisa 250
Ketum IPSI Sambut Komitmen...
Ketum IPSI Sambut Komitmen Presiden Prabowo soal Pelatnas Jangka Panjang, Optimistis Pencak Silat Mendunia
Presiden Prabowo Berikan...
Presiden Prabowo Berikan Bantuan Alat Drumben untuk SDN Tegalega Sukabumi
Rekomendasi
Dampak Pembiayaan PNM...
Dampak Pembiayaan PNM Diakui, Kini Melayani 23 Juta Nasabah Perempuan Prasejahtera
GSDC 2026 di ICE BSD...
GSDC 2026 di ICE BSD Perkuat Posisi Indonesia dalam Industri MICE Berkelanjutan
Para Pemimpin Yahudi...
Para Pemimpin Yahudi Ultra-Ortodoks Sebut Tentara Guru Dosa-dosa Terberat dan Israel Najis
Berita Terkini
Badan Siber PP GP Ansor...
Badan Siber PP GP Ansor Kritik Ketertutupan Pembahasan RUU Keamanan dan Ketahanan Siber
OTT Kuansing, Bupati...
OTT Kuansing, Bupati Suhardiman Amby dan Sekda Zulkarnain Menyerahkan Diri ke KPK
Apartemen Disita Jelang...
Apartemen Disita Jelang Sidang Ijazah Jokowi, Dokter Tifa Buka Suara
Tepis Isu Pecah Kongsi...
Tepis Isu Pecah Kongsi dengan Dokter Tifa, Roy Suryo: Saling Membersamai
Nilai Hakim Abaikan...
Nilai Hakim Abaikan Fakta Persidangan, Nadiem Makarim Bakal Lapor ke KY
Tim Hukum Jokowi Endus...
Tim Hukum Jokowi Endus Strategi Pecah Sidang Roy Suryo dan Dokter Tifa
Infografis
10 Penyakit yang Dapat...
10 Penyakit yang Dapat Disembuhkan dengan Daun Sirih
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved