Rektor: Praja IPDN Harus Bisa Beradaptasi di Era Globalisasi
Sabtu, 08 November 2025 - 19:16 WIB
loading...
Rektor IPDN, Dr Halilul Khairi bersama pakar Geopolitik, Pertahanan dan Keamanan Internasional, Prof Dr Connie Rahakundini Bakrie saat kuliah umum di Kampung IPDN, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. Foto/Ist
A
A
A
SUMEDANG - Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) harus bisa beradaptasi di era globalisasi, paham situasi dan konflik global dunia. Hal itu disampaikan Rektor IPDN, Dr Halilul Khairi saat kuliah umum yang menghadirkan langsung pakar Geopolitik, Pertahanan dan Keamanan Internasional, Prof Dr Connie Rahakundini Bakrie.
Halilul Khairi mengatakan kehadiran Prof Connie yang juga menjabat Guru Besar di Saint Petersburg State University, Rusia merupakan kesempatan emas yang didapat praja IPDN sebagai pelayanan masyarakat, di mana mereka nantinya harus mampu beradaptasi di era globalisasi.
Baca juga: IPDN Gelar Peringatan 7 Dekade KAA, Wamendagri: Diplomasi Akademik di Kancah Global
“Praja harus paham situasi global dan posisi Indonesia saat ini. Karena kalian dipersiapkan untuk masuk ke jejaring Internasional, membawa Indonesia di kancah Internasional,” ujarnya di Kampus IPDN Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, dikutip Sabtu (8/11/2025).
Selain prinsip-prinsip lokal dan akar budaya nasional yang kuat praja juga harus mampu bersaing secara global. Oleh karena itu, Rektor IPDN menambahkan tes Toefl menjadi syarat masuk dan lulus IPDN, juga menyisipkan materi-materi pengetahuan global/internasional bagi praja IPDN seperti saat ini.
Sementara itu, dalam kuliah umumnya Prof Connie mengangkat tema “Meneguhkan Kembali Otonomi Strategis Indonesia dari Gerakan Non Blok Menuju Bricks dan Kemitraan Eurasia Raya”. Dia mengingatkan bahwa generasi muda sekarang adalah generasi yang hidup di masa penuh pilihan tapi juga penuh ujian.
Baca juga: Pelaku Ledakan SMAN 72 Jakarta Dikenal Tertutup dan Jarang Bergaul, Sempat Terekam CCTV
“Kalian (praja) harus benar-benar menjaga nurani dan kesadaran karena zaman ini teknologi bisa menjadi berkah tapi juga bisa menjadi jebakan. Kekuasaan bisa menjadi alat kemajuan atau malah menjadi sumber kejatuhan. Jadi kalau nanti kalian menjadi pemimpin, kalian harus berdiri dengan kesadaran, kehormatan dan kedaulatan. Karena nanti kejayaan Indonesia berikutnya tidak akan lahir dari Jakarta tapi bangkit dari daerah-daerah, dari tanah tempat kalian berdiri dan memerintah,” ujarnya.
Posisi Indonesia di masa depan sangat bergantung pada kemampuan mengharmoniskan identitas maritim, dirgantara kemandirian ekonomi serta diplomasi berperadaban guna membentuk keseimbangan kekuatan baru.
“Inilah tugas kalian sebagai calon pemimpin. Dari tempat ini harus lahir doktrin kepemimpinan berkesadaran yang berpijak pada desentralisasi dan berakar pada TEPIDOIL," tuturnya.
TEPIDOIL adalah pilar strategis yang terdiri atas Territory, Economy, People, Ideology, Defense, Organization, Infrastructure dan Leadership. Selanjutnya, praja harus sedini mungkin diberikan doktrin tentang kepemimpinan berkesadaran, yakni pemimpin yang dapat berpikir strategis sebagai negarawan, berperasaan lembut sebagai agamawan, bertindak berani sebagai patriot dan berjiwa sebagai pelayanan rakyat.
Tak hanya itu, Prof Connie juga memaparkan beberapa contoh ancaman maritim dan bawah laut serta perang airspace dan maya yang dihadapi Indonesia yang juga perlu diketahui praja IPDN sebagai calon pemimpin nantinya.
“Kepadatan pelayanan dunia menjadikan kawasan Selat Malaka target perebutan pengaruh ekonomi dan militer, dibawah Samudra bersemayam submarine, fiber optic cable dan sistem komunikasi dunia yang menjadi target sabotase, data dan citra udara menjadi senjata intelijen geopolitik, setiap radar dan pesawat nirawak adalah mata yang mengintai kedaulatan dan masih banyak lagi. Itu harus kalian pahami dan kalian pelajari sedini mungkin,” ujarnya.
Halilul Khairi mengatakan kehadiran Prof Connie yang juga menjabat Guru Besar di Saint Petersburg State University, Rusia merupakan kesempatan emas yang didapat praja IPDN sebagai pelayanan masyarakat, di mana mereka nantinya harus mampu beradaptasi di era globalisasi.
Baca juga: IPDN Gelar Peringatan 7 Dekade KAA, Wamendagri: Diplomasi Akademik di Kancah Global
“Praja harus paham situasi global dan posisi Indonesia saat ini. Karena kalian dipersiapkan untuk masuk ke jejaring Internasional, membawa Indonesia di kancah Internasional,” ujarnya di Kampus IPDN Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, dikutip Sabtu (8/11/2025).
Selain prinsip-prinsip lokal dan akar budaya nasional yang kuat praja juga harus mampu bersaing secara global. Oleh karena itu, Rektor IPDN menambahkan tes Toefl menjadi syarat masuk dan lulus IPDN, juga menyisipkan materi-materi pengetahuan global/internasional bagi praja IPDN seperti saat ini.
Sementara itu, dalam kuliah umumnya Prof Connie mengangkat tema “Meneguhkan Kembali Otonomi Strategis Indonesia dari Gerakan Non Blok Menuju Bricks dan Kemitraan Eurasia Raya”. Dia mengingatkan bahwa generasi muda sekarang adalah generasi yang hidup di masa penuh pilihan tapi juga penuh ujian.
Baca juga: Pelaku Ledakan SMAN 72 Jakarta Dikenal Tertutup dan Jarang Bergaul, Sempat Terekam CCTV
“Kalian (praja) harus benar-benar menjaga nurani dan kesadaran karena zaman ini teknologi bisa menjadi berkah tapi juga bisa menjadi jebakan. Kekuasaan bisa menjadi alat kemajuan atau malah menjadi sumber kejatuhan. Jadi kalau nanti kalian menjadi pemimpin, kalian harus berdiri dengan kesadaran, kehormatan dan kedaulatan. Karena nanti kejayaan Indonesia berikutnya tidak akan lahir dari Jakarta tapi bangkit dari daerah-daerah, dari tanah tempat kalian berdiri dan memerintah,” ujarnya.
Posisi Indonesia di masa depan sangat bergantung pada kemampuan mengharmoniskan identitas maritim, dirgantara kemandirian ekonomi serta diplomasi berperadaban guna membentuk keseimbangan kekuatan baru.
“Inilah tugas kalian sebagai calon pemimpin. Dari tempat ini harus lahir doktrin kepemimpinan berkesadaran yang berpijak pada desentralisasi dan berakar pada TEPIDOIL," tuturnya.
TEPIDOIL adalah pilar strategis yang terdiri atas Territory, Economy, People, Ideology, Defense, Organization, Infrastructure dan Leadership. Selanjutnya, praja harus sedini mungkin diberikan doktrin tentang kepemimpinan berkesadaran, yakni pemimpin yang dapat berpikir strategis sebagai negarawan, berperasaan lembut sebagai agamawan, bertindak berani sebagai patriot dan berjiwa sebagai pelayanan rakyat.
Tak hanya itu, Prof Connie juga memaparkan beberapa contoh ancaman maritim dan bawah laut serta perang airspace dan maya yang dihadapi Indonesia yang juga perlu diketahui praja IPDN sebagai calon pemimpin nantinya.
“Kepadatan pelayanan dunia menjadikan kawasan Selat Malaka target perebutan pengaruh ekonomi dan militer, dibawah Samudra bersemayam submarine, fiber optic cable dan sistem komunikasi dunia yang menjadi target sabotase, data dan citra udara menjadi senjata intelijen geopolitik, setiap radar dan pesawat nirawak adalah mata yang mengintai kedaulatan dan masih banyak lagi. Itu harus kalian pahami dan kalian pelajari sedini mungkin,” ujarnya.
(shf)
Lihat Juga :