Survei LSI Denny JA: Soeharto Presiden yang Paling Disukai Masyarakat
Sabtu, 08 November 2025 - 17:51 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Denny JA, penghargaan pahlawan nasional, jika kelak diberikan, bukanlah bentuk pemutihan kesalahan, melainkan pengakuan atas paradoks manusia. “Kita bisa berterima kasih atas jembatan yang menolong banyak orang menyeberang, sambil tetap mencatat retakannya di hilir sejarah,” ujar Denny.
“Ketika kita menilai Soeharto tanpa kacamata merah muda, dunia tampak lebih kontras: terang dan gelap berdampingan sebagaimana adanya. Ia bukan malaikat yang tak pernah salah, tetapi juga bukan bayangan yang tak punya jasa,” sambungnya
Menurut Denny JA sejarah bukan album potret berisi gambar terbaik. Sejarah adalah film panjang, cahaya dan bayangan, tawa dan tangis, salah dan betul, berkejaran di layar yang sama.
Menurutnya, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang tanpa dosa, melainkan bangsa yang mampu menatap masa lalunya dengan jujur. Lalu, ia mengakui luka, menghargai jasa, dan melangkah maju dengan kebijaksanaan sejarahnya sendiri.
Denny JA menambahkan, temuan ini mencerminkan dialog batin bangsa terhadap sosok kepemimpinan ideal. Di tengah gejolak zaman, publik tampaknya mendamba keseimbangan antara ketegasan, keadilan, dan empati.
Dalam cermin sejarah itu, nama Soeharto hadir bukan sekadar nostalgia, tetapi perenungan atas arah Indonesia ke depan.
“Ketika kita menilai Soeharto tanpa kacamata merah muda, dunia tampak lebih kontras: terang dan gelap berdampingan sebagaimana adanya. Ia bukan malaikat yang tak pernah salah, tetapi juga bukan bayangan yang tak punya jasa,” sambungnya
Menurut Denny JA sejarah bukan album potret berisi gambar terbaik. Sejarah adalah film panjang, cahaya dan bayangan, tawa dan tangis, salah dan betul, berkejaran di layar yang sama.
Menurutnya, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang tanpa dosa, melainkan bangsa yang mampu menatap masa lalunya dengan jujur. Lalu, ia mengakui luka, menghargai jasa, dan melangkah maju dengan kebijaksanaan sejarahnya sendiri.
Denny JA menambahkan, temuan ini mencerminkan dialog batin bangsa terhadap sosok kepemimpinan ideal. Di tengah gejolak zaman, publik tampaknya mendamba keseimbangan antara ketegasan, keadilan, dan empati.
Dalam cermin sejarah itu, nama Soeharto hadir bukan sekadar nostalgia, tetapi perenungan atas arah Indonesia ke depan.
(cip)
Lihat Juga :