Survei LSI Denny JA: Soeharto Presiden yang Paling Disukai Masyarakat
Sabtu, 08 November 2025 - 17:51 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: PP Persis Dukung Soeharto Diberi Gelar Pahlawan Nasional
Rezim otoriternya mulai terlupakan, sementara kenangan tentang keteraturan, harga yang stabil, dan pembangunan desa justru menguat. Dengan merujuk teori psikologi kognitif Daniel Kahneman, LSI menjelaskan bias ini adalah mekanisme alamiah otak yang menyaring memori negatif.
"Kenangan kolektif bangsa terhadap era tertentu bisa berubah seiring waktu, terlepas dari fakta sejarah yang kompleks," katanya.
Menurut analisis LSI Denny JA, fenomena tingginya kesukaan terhadap Soeharto bukan hanya soal nostalgia. Terdapat tiga faktor utama yang membuat publik masih menaruh simpati pada sang mantan presiden. Pertama ingatan konkret dan nyata.
“Sekolah, irigasi, pasar, dan infrastruktur yang dibangun pada masa Soeharto masih dapat disentuh hingga kini. Masyarakat menilai hasil, bukan wacana,” ujar Denny.
Kedua, citra paternal dan stabilitas. Di mana Soeharto dianggap sebagai sosok ayah bangsa karena tegas, protektif, dan efektif. Dalam era modern yang serba gaduh, citra kepemimpinan seperti itu menimbulkan rasa aman.
Ketiga, keteraturan ekonomi dan sosial. Dalam masa kini yang penuh ketidakpastian ekonomi, publik merindukan masa ketika harga-harga terasa stabil dan kehidupan lebih tertata. "Ingatan tentang keteraturan menjadi semacam selimut emosional bangsa,” tambahnya.
Menanggapi wacana apakah Soeharto layak diberi gelar Pahlawan Nasional, Denny JA menekankan pentingnya membaca sejarah secara utuh, bukan hitam putih. “Pak Harto punya jasa besar, menstabilkan ekonomi pasca-hiperinflasi, memperkuat pembangunan, dan mengentaskan jutaan orang dari kemiskinan. Tapi sejarah juga mencatat sisi gelapnya represi politik, pelanggaran HAM, dan praktik KKN yang mengakar,” ucapnya.
Rezim otoriternya mulai terlupakan, sementara kenangan tentang keteraturan, harga yang stabil, dan pembangunan desa justru menguat. Dengan merujuk teori psikologi kognitif Daniel Kahneman, LSI menjelaskan bias ini adalah mekanisme alamiah otak yang menyaring memori negatif.
"Kenangan kolektif bangsa terhadap era tertentu bisa berubah seiring waktu, terlepas dari fakta sejarah yang kompleks," katanya.
Menurut analisis LSI Denny JA, fenomena tingginya kesukaan terhadap Soeharto bukan hanya soal nostalgia. Terdapat tiga faktor utama yang membuat publik masih menaruh simpati pada sang mantan presiden. Pertama ingatan konkret dan nyata.
“Sekolah, irigasi, pasar, dan infrastruktur yang dibangun pada masa Soeharto masih dapat disentuh hingga kini. Masyarakat menilai hasil, bukan wacana,” ujar Denny.
Kedua, citra paternal dan stabilitas. Di mana Soeharto dianggap sebagai sosok ayah bangsa karena tegas, protektif, dan efektif. Dalam era modern yang serba gaduh, citra kepemimpinan seperti itu menimbulkan rasa aman.
Ketiga, keteraturan ekonomi dan sosial. Dalam masa kini yang penuh ketidakpastian ekonomi, publik merindukan masa ketika harga-harga terasa stabil dan kehidupan lebih tertata. "Ingatan tentang keteraturan menjadi semacam selimut emosional bangsa,” tambahnya.
Menanggapi wacana apakah Soeharto layak diberi gelar Pahlawan Nasional, Denny JA menekankan pentingnya membaca sejarah secara utuh, bukan hitam putih. “Pak Harto punya jasa besar, menstabilkan ekonomi pasca-hiperinflasi, memperkuat pembangunan, dan mengentaskan jutaan orang dari kemiskinan. Tapi sejarah juga mencatat sisi gelapnya represi politik, pelanggaran HAM, dan praktik KKN yang mengakar,” ucapnya.
Lihat Juga :