Ilmuwan Dorong Dialog Global soal Inovasi dan Kebijakan Tembakau Berbasis Sains
Kamis, 06 November 2025 - 19:15 WIB
loading...
Mantan Direktur Penelitian, Kebijakan, dan Kerja Sama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Prof Tikki Pangestu menyoroti lambatnya adopsi strategi pengurangan risiko tembakau (Tobacco Harm Reduction/THR). Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - Mantan Direktur Penelitian, Kebijakan, dan Kerja Sama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Prof Tikki Pangestu menyoroti lambatnya adopsi strategi pengurangan risiko tembakau (Tobacco Harm Reduction/THR) meskipun terdapat bukti ilmiah mengenai potensi manfaat produk tembakau alternatif.
Produk-produk seperti rokok elektronik, produk tembakau yang dipanaskan, dan kantong nikotin, ditawarkan sebagai pilihan rendah risiko kesehatan bagi perokok dewasa yang ingin beralih dari kebiasaannya.
Hal itu saat Tikki berbicara dalam sesi panel Symposium 6: Strengthening Health Resilience in the Era of Global Challenges di acara International Military Medicine Symposium & Workshop (IMEDIC) 2025.
Baca juga: Hasil Riset Terbaru, Ilmuwan: Tembakau Ubah Tulang Manusia
Dia mengungkapkan keheranannya mengapa inovasi teknologi tembakau ini belum dimanfaatkan secara maksimal untuk mengatasi epidemi merokok global. "Mengapa produk-produk inovatif baru ini belum digunakan secara luas sebagai strategi pengurangan bahaya yang penting untuk mengakhiri epidemi merokok? Hal ini tetap menjadi tantangan besar bagi negara-negara di seluruh dunia yang mengadopsi produk-produk baru ini," ujarnya, belum lama ini.
Menurut dia, ada lima hambatan utama yang menyebabkan lambatnya implementasi THR yang berdampak pada upaya menurunkan prevalensi merokok di berbagai negara.
Pertama, sikap WHO yang sangat antipengurangan bahaya tembakau. Jika WHO mengambil posisi menolak, negara-negara cenderung mengikuti arahan mereka.
Kedua, regulasi yang terfragmentasi dan tidak proporsional yang memengaruhi keterjangkauan, aksesibilitas, dan keamanan produk tembakau alternatif. Ketiga, maraknya misinformasi tentang bahaya dan manfaatnya serta penggunaan bukti secara selektif yang memengaruhi WHO hingga pembuat kebijakan.
“Hambatan keempat adalah pengecualian terhadap industri. Umumnya terdapat ketidakpercayaan terhadap motif industri karena warisan citra buruk di masa lalu,” tuturnya.
Kelima, upaya mengalihkan perdebatan dari usaha berhenti merokok menjadi fokus pada nikotin dan kecanduan serta risiko bagi generasi muda.
"Pengguna vape dewasa 15 kali lebih banyak dibandingkan anak muda. Jadi mengapa fokusnya beralih dari membantu perokok dewasa yang ingin berhenti ke anak muda yang merupakan minoritas? Sangat sedikit bukti bahwa mereka akhirnya menjadi perokok," ucap Tikki.
Dia menilai lima hambatan tersebut melahirkan konsekuensi yang tidak diinginkan dari kebijakan publik yang tidak proporsional hingga meningkatnya perdagangan gelap produk tembakau alternatif di negara-negara yang melarangnya.
Mengatasi itu, Tikki menguraikan tiga strategi utama atau yang menurutnya krusial bagi masa depan kebijakan kesehatan global berbasis bukti.
Pertama, diperlukan kemauan politik dan kepemimpinan yang kuat untuk mengubah posisi WHO melalui dialog lebih konstruktif, inklusif, dan terbuka tentang nilai serta potensi produk tembakau alternatif bagi kesehatan masyarakat.
Kedua, memobilisasi dukungan lintas pemangku kepentingan termasuk konsumen dewasa, investor, media, akademisi, asosiasi profesional, asuransi kesehatan, hingga penegak hukum untuk memperkuat advokasi kebijakan yang mendukung inovasi pengurangan bahaya tembakau.
Ketiga, membangun kepercayaan dan kolaborasi jangka panjang antara sektor publik, akademisi, dan industri. Tikki menyoroti contoh positif dari Inggris melalui program Switch to Stop yang menyediakan akses kepada produk tembakau alternatif bagi satu juta perokok sebagai bagian dari strategi kesehatan nasional.
Karena itu, dialog global tentang pengurangan bahaya tembakau seharusnya berfokus pada solusi berbasis sains dan kolaborasi lintas sektor agar setiap inovasi dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk mengurangi risiko penyakit dan meningkatkan kualitas hidup.
Produk-produk seperti rokok elektronik, produk tembakau yang dipanaskan, dan kantong nikotin, ditawarkan sebagai pilihan rendah risiko kesehatan bagi perokok dewasa yang ingin beralih dari kebiasaannya.
Hal itu saat Tikki berbicara dalam sesi panel Symposium 6: Strengthening Health Resilience in the Era of Global Challenges di acara International Military Medicine Symposium & Workshop (IMEDIC) 2025.
Baca juga: Hasil Riset Terbaru, Ilmuwan: Tembakau Ubah Tulang Manusia
Dia mengungkapkan keheranannya mengapa inovasi teknologi tembakau ini belum dimanfaatkan secara maksimal untuk mengatasi epidemi merokok global. "Mengapa produk-produk inovatif baru ini belum digunakan secara luas sebagai strategi pengurangan bahaya yang penting untuk mengakhiri epidemi merokok? Hal ini tetap menjadi tantangan besar bagi negara-negara di seluruh dunia yang mengadopsi produk-produk baru ini," ujarnya, belum lama ini.
Menurut dia, ada lima hambatan utama yang menyebabkan lambatnya implementasi THR yang berdampak pada upaya menurunkan prevalensi merokok di berbagai negara.
Pertama, sikap WHO yang sangat antipengurangan bahaya tembakau. Jika WHO mengambil posisi menolak, negara-negara cenderung mengikuti arahan mereka.
Kedua, regulasi yang terfragmentasi dan tidak proporsional yang memengaruhi keterjangkauan, aksesibilitas, dan keamanan produk tembakau alternatif. Ketiga, maraknya misinformasi tentang bahaya dan manfaatnya serta penggunaan bukti secara selektif yang memengaruhi WHO hingga pembuat kebijakan.
“Hambatan keempat adalah pengecualian terhadap industri. Umumnya terdapat ketidakpercayaan terhadap motif industri karena warisan citra buruk di masa lalu,” tuturnya.
Kelima, upaya mengalihkan perdebatan dari usaha berhenti merokok menjadi fokus pada nikotin dan kecanduan serta risiko bagi generasi muda.
"Pengguna vape dewasa 15 kali lebih banyak dibandingkan anak muda. Jadi mengapa fokusnya beralih dari membantu perokok dewasa yang ingin berhenti ke anak muda yang merupakan minoritas? Sangat sedikit bukti bahwa mereka akhirnya menjadi perokok," ucap Tikki.
Dia menilai lima hambatan tersebut melahirkan konsekuensi yang tidak diinginkan dari kebijakan publik yang tidak proporsional hingga meningkatnya perdagangan gelap produk tembakau alternatif di negara-negara yang melarangnya.
Mengatasi itu, Tikki menguraikan tiga strategi utama atau yang menurutnya krusial bagi masa depan kebijakan kesehatan global berbasis bukti.
Pertama, diperlukan kemauan politik dan kepemimpinan yang kuat untuk mengubah posisi WHO melalui dialog lebih konstruktif, inklusif, dan terbuka tentang nilai serta potensi produk tembakau alternatif bagi kesehatan masyarakat.
Kedua, memobilisasi dukungan lintas pemangku kepentingan termasuk konsumen dewasa, investor, media, akademisi, asosiasi profesional, asuransi kesehatan, hingga penegak hukum untuk memperkuat advokasi kebijakan yang mendukung inovasi pengurangan bahaya tembakau.
Ketiga, membangun kepercayaan dan kolaborasi jangka panjang antara sektor publik, akademisi, dan industri. Tikki menyoroti contoh positif dari Inggris melalui program Switch to Stop yang menyediakan akses kepada produk tembakau alternatif bagi satu juta perokok sebagai bagian dari strategi kesehatan nasional.
Karena itu, dialog global tentang pengurangan bahaya tembakau seharusnya berfokus pada solusi berbasis sains dan kolaborasi lintas sektor agar setiap inovasi dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk mengurangi risiko penyakit dan meningkatkan kualitas hidup.
(jon)
Lihat Juga :