PB DDI Imbau Waspadai Propaganda Jihad Persatuan Global ISIS
Rabu, 05 November 2025 - 23:29 WIB
loading...
Sekjen Besar PB DDI, Muh. Suaib Tahir mengimbau masyarakat agar mewaspadai seruan jihad yang kembali disuarakan oleh kelompok teroris ISIS melalui jaringan medianya. FOTO/IST
A
A
A
JAKARTA - Pengurus Besar Darud Dakwah wal Irsyad (PB DDI) mengimbau masyarakat agar mewaspadai seruan jihad yang kembali disuarakan oleh kelompok teroris ISIS melalui jaringan medianya. Seruan tersebut disampaikan dengan mengusung narasi "persatuan global" dan ajakan berjihad ke sejumlah negara yang tengah dilanda konflik, salah satunya Sudan.
Sekretaris Jenderal PB DDI, Muh. Suaib Tahir menilai bahwa narasi "persatuan global" yang digaungkan ISIS merupakan bentuk manipulasi ideologis untuk menarik simpatisan baru dan memperkuat eksistensinya di wilayah konflik.
"ISIS dan jaringannya meyakini pentingnya global community. Bagi mereka, khilafah adalah wujud dari persatuan global. Karena itu, mereka menganggap umat Islam harus berada dalam satu sistem yang sama seperti pada masa lalu," ujar Suaib dalam keterangan dikutip, Rabu (5/11/2025).
Lebih lanjut, Suaib menjelaskan, dalam pandangan ISIS dan kelompok sejenisnya, gagasan nasionalisme dianggap sebagai penghalang bagi terbentuknya "persaudaraan global". Bagi mereka, pembagian umat Islam berdasarkan wilayah negara seperti Indonesia, Arab Saudi, atau Malaysia dinilai bertentangan dengan cita-cita persatuan umat.
"Menurut mereka, kondisi seperti itu tidak ideal dan harus disatukan kembali di bawah satu sistem global. Karena itu, mereka mendorong orang untuk ikut berperang di wilayah konflik seperti Sudan," ungkapnya.
Namun, Suaib menegaskan bahwa realitas di lapangan jauh berbeda dari narasi yang disampaikan ISIS. Ia mengungkapkan, warga Asia yang tergiur ajakan tersebut tidak akan menemukan bentuk "persatuan global" sebagaimana dijanjikan.
"Dalam struktur ISIS, orang Asia tidak menempati posisi strategis. Mereka umumnya hanya menjadi kombatan di lapangan dan mudah digantikan jika gugur. Jadi, persaudaraan global yang mereka gaungkan tidak pernah benar-benar terwujud," ujarnya.
Suaib juga menyoroti lemahnya solidaritas sosial di antara masyarakat negara-negara Timur Tengah yang disebabkan oleh absennya konsensus kebangsaan yang kuat. Kondisi ini, menurutnya, menjadi salah satu faktor yang memicu konflik berkepanjangan dan perang saudara di kawasan tersebut.
"Rasa kesukuan yang dominan tanpa adanya konsensus kebangsaan yang kokoh kerap memicu perpecahan. Akibatnya, banyak negara di kawasan tersebut tidak memiliki institusi kenegaraan yang stabil, dan rakyat menjadi korban," jelasnya.
Berbeda dengan kondisi di Timur Tengah, Indonesia dinilai memiliki kekuatan persatuan yang lebih solid karena berlandaskan Empat Pilar Kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Menurut Suaib, pilar-pilar tersebut telah terbukti mampu mempersatukan keragaman suku, agama, dan budaya di Indonesia.
"Meskipun Indonesia terdiri atas berbagai suku, namun setiap golongan tidak saling mengasingkan. Konsensus kebangsaan yang kuat dan dipahami oleh masyarakat membuat integrasi sosial berjalan baik," tuturnya.
"Generasi muda merupakan modal utama bangsa. Namun jika mereka tidak memahami Empat Pilar Kebangsaan, hal itu bisa menjadi ancaman disintegrasi. Negara yang tidak memahami jati dirinya akan mudah dipecah-belah, sedangkan Indonesia memiliki dasar kebangsaan yang kuat untuk menghadapinya," katanya.
Sekretaris Jenderal PB DDI, Muh. Suaib Tahir menilai bahwa narasi "persatuan global" yang digaungkan ISIS merupakan bentuk manipulasi ideologis untuk menarik simpatisan baru dan memperkuat eksistensinya di wilayah konflik.
"ISIS dan jaringannya meyakini pentingnya global community. Bagi mereka, khilafah adalah wujud dari persatuan global. Karena itu, mereka menganggap umat Islam harus berada dalam satu sistem yang sama seperti pada masa lalu," ujar Suaib dalam keterangan dikutip, Rabu (5/11/2025).
Lebih lanjut, Suaib menjelaskan, dalam pandangan ISIS dan kelompok sejenisnya, gagasan nasionalisme dianggap sebagai penghalang bagi terbentuknya "persaudaraan global". Bagi mereka, pembagian umat Islam berdasarkan wilayah negara seperti Indonesia, Arab Saudi, atau Malaysia dinilai bertentangan dengan cita-cita persatuan umat.
"Menurut mereka, kondisi seperti itu tidak ideal dan harus disatukan kembali di bawah satu sistem global. Karena itu, mereka mendorong orang untuk ikut berperang di wilayah konflik seperti Sudan," ungkapnya.
Namun, Suaib menegaskan bahwa realitas di lapangan jauh berbeda dari narasi yang disampaikan ISIS. Ia mengungkapkan, warga Asia yang tergiur ajakan tersebut tidak akan menemukan bentuk "persatuan global" sebagaimana dijanjikan.
"Dalam struktur ISIS, orang Asia tidak menempati posisi strategis. Mereka umumnya hanya menjadi kombatan di lapangan dan mudah digantikan jika gugur. Jadi, persaudaraan global yang mereka gaungkan tidak pernah benar-benar terwujud," ujarnya.
Suaib juga menyoroti lemahnya solidaritas sosial di antara masyarakat negara-negara Timur Tengah yang disebabkan oleh absennya konsensus kebangsaan yang kuat. Kondisi ini, menurutnya, menjadi salah satu faktor yang memicu konflik berkepanjangan dan perang saudara di kawasan tersebut.
"Rasa kesukuan yang dominan tanpa adanya konsensus kebangsaan yang kokoh kerap memicu perpecahan. Akibatnya, banyak negara di kawasan tersebut tidak memiliki institusi kenegaraan yang stabil, dan rakyat menjadi korban," jelasnya.
Berbeda dengan kondisi di Timur Tengah, Indonesia dinilai memiliki kekuatan persatuan yang lebih solid karena berlandaskan Empat Pilar Kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Menurut Suaib, pilar-pilar tersebut telah terbukti mampu mempersatukan keragaman suku, agama, dan budaya di Indonesia.
"Meskipun Indonesia terdiri atas berbagai suku, namun setiap golongan tidak saling mengasingkan. Konsensus kebangsaan yang kuat dan dipahami oleh masyarakat membuat integrasi sosial berjalan baik," tuturnya.
Generasi Muda Harus Perkuat Wawasan Kebangsaan
Suaib mengingatkan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga keutuhan bangsa. Ia menilai, pemahaman terhadap nilai-nilai kebangsaan perlu terus ditanamkan agar generasi muda tidak mudah terpengaruh oleh ideologi transnasional yang dapat mengancam persatuan nasional."Generasi muda merupakan modal utama bangsa. Namun jika mereka tidak memahami Empat Pilar Kebangsaan, hal itu bisa menjadi ancaman disintegrasi. Negara yang tidak memahami jati dirinya akan mudah dipecah-belah, sedangkan Indonesia memiliki dasar kebangsaan yang kuat untuk menghadapinya," katanya.
(abd)
Lihat Juga :