Kuliah Umum di SPPB UI, Ibas Dorong Kebangsaan Progresif
Minggu, 02 November 2025 - 15:31 WIB
loading...
Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas memberikan kuliah umum bersama SPPB Universitas Indonesia (UI) di Institute for Advancement of Science Technology & Humanity (IASTH) UI, Salemba, Jakarta, beberapa waktu lalu. Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas memberikan kuliah umum bersama Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) Universitas Indonesia, beberapa waktu lalu. Dalam paparannya yang bertajuk “Dari Ide ke Aksi: Refleksi Kebangsaan, Kepemimpinan, dan Tantangan Global”, Ibas menekankan pentingnya menjadikan semangat kebangsaan sebagai kekuatan yang hidup dan relevan dengan zaman.
Ide kebangsaan harus diterjemahkan menjadi kebijakan publik yang berdampak langsung bagi masyarakat dengan landasan moral, ilmu pengetahuan, dan kemajuan teknologi. Hal tersebut disampaikan Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI itu dalam diskusi publik bertemakan “Kebangsaan Progresif: Membangun Indonesia Melalui Gagasan dalam Menghadapi Tantangan Global” di Institute for Advancement of Science Technology & Humanity (IASTH) UI, Kampus Salemba, Jakarta.
Baca juga: Ibas Dukung Presiden Prabowo Gembleng Kabinet Merah Putih di Akmil: Sesuai 4 Pilar Kebangsaan!
Dalam diskusinya di hadapan para akademika dan mahasiswa, lulusan Program Doktor S3 dari IPB University tersebut menyampaikan dunia telah berubah dan peta tantangan pun bergeser. Dia menyoroti krisis energi, pangan, dan iklim, disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan, serta munculnya polarisasi sosial dan krisis kepercayaan.
“Saya tidak bicara atas nama wakil rakyat saja atau sebagai politisi, tapi dari sisi dunia. Hari ini kita melihat bagaimana disinformasi dan distrust terjadi antara negara, rakyat, dan pemimpin. Masyarakat dibanjiri berita positif dan negatif, namun tidak sedikit pula yang menimbulkan ketidakpercayaan publik kepada pemimpin,” ungkap Ibas.
Ibas yang juga lulusan Rajaratnam School of International Studies dari Nanyang Technological University di Singapura ini menjelaskan bahwa dalam teori complex interdependence bahwa dunia kini saling bergantung secara ekonomi, teknologi, dan informasi.
“Kekuatan tidak lagi hanya dibutuhkan oleh pemerintah saja. Kita berharap pemerintah semakin kuat dan berdaya untuk memastikan negara kesatuan dan demokrasi Indonesia dapat benar-benar dijaga. Kita juga harus terus terlibat dalam upaya perdamaian dunia, tidak hanya bicara soal ketahanan nasional, tetapi juga kesiapan kita berperan aktif di dunia internasional,” ujarnya.
Menurut dia, peran tersebut harus dibarengi dengan kehadiran ilmu, inovasi, dan data. Ibas kemudian menekankan nasionalisme lama yang bersifat defensif dan berakar pada sejarah kini perlu bergeser menjadi kebangsaan progresif. “Yaitu yang terbuka, reflektif, dan ilmiah. Nasionalisme kini harus menatap dunia, bukan menolak dunia,” ucapnya.
“Kebangsaan tidak hanya dibicarakan, tapi dikerjakan,” sambungnya.
Menurut Dewan Penasihat Kadin tersebut, ini dapat diwujudkan melalui pendidikan karakter digital, diplomasi kebudayaan, dan riset strategis berbasis IPTEK. Dia mengutip pesan Presiden Ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bahwa “Kita tidak bisa mengubah arah angin, tapi kita bisa menyesuaikan layar.”
Ibas lalu menyoroti pentingnya kepemimpinan yang visioner di tengah dinamika global. “Dunia kini menuntut strategic foresight, pemimpin yang progresif, visioner, kolaboratif, dan adaptif,” katanya.
Dia menegaskan harapannya agar Indonesia menjadi subjek, bukan objek dunia. Tantangannya adalah bagaimana Indonesia dapat berdaulat digital, melakukan transisi energi, dan menjaga stabilitas maritim. Adapun solusi yang dia tawarkan meliputi kolaborasi diplomatik, inovasi sumber daya manusia dan riset, serta penguatan ketahanan sosial-ekonomi.
“Pemimpin tidak hanya reaktif, tapi antisipatif. Harus inspiratif, bukan instruktif,” kata anggota DPR dari Dapil Jawa Timur VII tersebut.
Menutup kegiatan tersebut, Ibas menyampaikan refleksi penting yang dia tujukan kepada Universitas Indonesia agar dapat menjadi pusat pemikiran strategis dan solusi kebangsaan.
“Pertama, bagaimana konsep kebangsaan progresif dapat diintegrasikan dalam diplomasi luar negeri Indonesia? Kedua, bagaimana kita menciptakan strategic leaders dalam ranah diplomasi internasional? Dan ketiga, bagaimana kampus dapat menjadi ekosistem digital, moral, dan intelektual dalam politik nasional?” katanya.
Sesi diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Antusiasme peserta terlihat dari berbagai tanggapan dan apresiasi yang disampaikan. “Terima kasih kepada Pak Ibas yang telah memberikan semangat kepada para mahasiswa, termasuk kami tentang bagaimana cara memberikan kontribusi terbesar bagi pembangunan negara tercinta Indonesia ini,” ujar Direktur Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) UI Prof Dr Supriatna.
Dari kalangan mahasiswa, Ketua Umum FORMA SPPB UI Rosabella Izza turut menyampaikan harapannya, “Terima kasih banyak, Pak Ibas. Mungkin ke depannya kami bisa bersilaturahmi ke MPR/DPR RI,” katanya.
Sementara, Rishan, mahasiswa pascasarjana lainnya yang memenangkan hadiah karena ketanggapannya menjawab pertanyaan Ibas dalam sesi kuis mengaku luar biasa dengan materi yang disampaikan Ibas. “Sangat berkesan bagi kami. Semoga bermanfaat ke depannya,” ucapnya.
Ide kebangsaan harus diterjemahkan menjadi kebijakan publik yang berdampak langsung bagi masyarakat dengan landasan moral, ilmu pengetahuan, dan kemajuan teknologi. Hal tersebut disampaikan Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI itu dalam diskusi publik bertemakan “Kebangsaan Progresif: Membangun Indonesia Melalui Gagasan dalam Menghadapi Tantangan Global” di Institute for Advancement of Science Technology & Humanity (IASTH) UI, Kampus Salemba, Jakarta.
Baca juga: Ibas Dukung Presiden Prabowo Gembleng Kabinet Merah Putih di Akmil: Sesuai 4 Pilar Kebangsaan!
Dalam diskusinya di hadapan para akademika dan mahasiswa, lulusan Program Doktor S3 dari IPB University tersebut menyampaikan dunia telah berubah dan peta tantangan pun bergeser. Dia menyoroti krisis energi, pangan, dan iklim, disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan, serta munculnya polarisasi sosial dan krisis kepercayaan.
“Saya tidak bicara atas nama wakil rakyat saja atau sebagai politisi, tapi dari sisi dunia. Hari ini kita melihat bagaimana disinformasi dan distrust terjadi antara negara, rakyat, dan pemimpin. Masyarakat dibanjiri berita positif dan negatif, namun tidak sedikit pula yang menimbulkan ketidakpercayaan publik kepada pemimpin,” ungkap Ibas.
Ibas yang juga lulusan Rajaratnam School of International Studies dari Nanyang Technological University di Singapura ini menjelaskan bahwa dalam teori complex interdependence bahwa dunia kini saling bergantung secara ekonomi, teknologi, dan informasi.
“Kekuatan tidak lagi hanya dibutuhkan oleh pemerintah saja. Kita berharap pemerintah semakin kuat dan berdaya untuk memastikan negara kesatuan dan demokrasi Indonesia dapat benar-benar dijaga. Kita juga harus terus terlibat dalam upaya perdamaian dunia, tidak hanya bicara soal ketahanan nasional, tetapi juga kesiapan kita berperan aktif di dunia internasional,” ujarnya.
Menurut dia, peran tersebut harus dibarengi dengan kehadiran ilmu, inovasi, dan data. Ibas kemudian menekankan nasionalisme lama yang bersifat defensif dan berakar pada sejarah kini perlu bergeser menjadi kebangsaan progresif. “Yaitu yang terbuka, reflektif, dan ilmiah. Nasionalisme kini harus menatap dunia, bukan menolak dunia,” ucapnya.
“Kebangsaan tidak hanya dibicarakan, tapi dikerjakan,” sambungnya.
Menurut Dewan Penasihat Kadin tersebut, ini dapat diwujudkan melalui pendidikan karakter digital, diplomasi kebudayaan, dan riset strategis berbasis IPTEK. Dia mengutip pesan Presiden Ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bahwa “Kita tidak bisa mengubah arah angin, tapi kita bisa menyesuaikan layar.”
Ibas lalu menyoroti pentingnya kepemimpinan yang visioner di tengah dinamika global. “Dunia kini menuntut strategic foresight, pemimpin yang progresif, visioner, kolaboratif, dan adaptif,” katanya.
Dia menegaskan harapannya agar Indonesia menjadi subjek, bukan objek dunia. Tantangannya adalah bagaimana Indonesia dapat berdaulat digital, melakukan transisi energi, dan menjaga stabilitas maritim. Adapun solusi yang dia tawarkan meliputi kolaborasi diplomatik, inovasi sumber daya manusia dan riset, serta penguatan ketahanan sosial-ekonomi.
“Pemimpin tidak hanya reaktif, tapi antisipatif. Harus inspiratif, bukan instruktif,” kata anggota DPR dari Dapil Jawa Timur VII tersebut.
Menutup kegiatan tersebut, Ibas menyampaikan refleksi penting yang dia tujukan kepada Universitas Indonesia agar dapat menjadi pusat pemikiran strategis dan solusi kebangsaan.
“Pertama, bagaimana konsep kebangsaan progresif dapat diintegrasikan dalam diplomasi luar negeri Indonesia? Kedua, bagaimana kita menciptakan strategic leaders dalam ranah diplomasi internasional? Dan ketiga, bagaimana kampus dapat menjadi ekosistem digital, moral, dan intelektual dalam politik nasional?” katanya.
Sesi diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Antusiasme peserta terlihat dari berbagai tanggapan dan apresiasi yang disampaikan. “Terima kasih kepada Pak Ibas yang telah memberikan semangat kepada para mahasiswa, termasuk kami tentang bagaimana cara memberikan kontribusi terbesar bagi pembangunan negara tercinta Indonesia ini,” ujar Direktur Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) UI Prof Dr Supriatna.
Dari kalangan mahasiswa, Ketua Umum FORMA SPPB UI Rosabella Izza turut menyampaikan harapannya, “Terima kasih banyak, Pak Ibas. Mungkin ke depannya kami bisa bersilaturahmi ke MPR/DPR RI,” katanya.
Sementara, Rishan, mahasiswa pascasarjana lainnya yang memenangkan hadiah karena ketanggapannya menjawab pertanyaan Ibas dalam sesi kuis mengaku luar biasa dengan materi yang disampaikan Ibas. “Sangat berkesan bagi kami. Semoga bermanfaat ke depannya,” ucapnya.
(jon)
Lihat Juga :