Setahun Asta Cita, Prabowo Berhasil Wujudkan Politik Bebas Aktif di Kancah Global
Kamis, 30 Oktober 2025 - 06:08 WIB
loading...
A
A
A
Pengajar Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Atep Abdurofiq menyoroti kapasitas Presiden Prabowo dalam memandu pertahanan nasional dari sisi geoekonomi. Posisi sentral Indonesia pemanfaatan SDA sangatlah penting. Bagaimana pengelolaan ini tidak menjadi kutukan. “Indonesia sedang on the track dengan memanfaatkan daya tawar critical mineral dan hilirisasi,” kata Atep.
Anggota Komisi XI DPR Hasanuddin Wahid melihat dari sisi penyeimbangan antara hard power, soft power dan smart power. Indonesia secara hard power telah membangun industri pertahanan dan peningkatan alutsista. “Kita harus kasih kepercayaan penuh kepada institusi militer kita,” kata Hasan.
Secara soft power, diplomasi politik Presiden Prabowo memiliki pengalaman panjang dan tahu betul bagaimana memainkan peran di kancah global. “Pola interaksi yang dimainkan Presiden adalah pengalaman dijajah,” kata Hasan.
Hasan menyatakan apa yang telah dilakukan perlu diimbangi dengan pengembangan smart power. “Saat ini kita belum melakukannya secara terukur dan sistematis. Tanpa tiga hal ini, kita sulit untuk menjadi negara disegani,” kata Hasan
Dari sisi informasi, perlahan tapi pasti Indonesia telah memimpin percepatan kualitas dunia digital dalam program-program transformasi digital. “Tak hanya terkait dengan aplikasi, tetapi juga penguatan SDM dan infrastruktur. Termasuk pengembangan kelembagaan pada TNI, Polri dan intelijen terkait perkembangan dunia siber,” pungkas Simon.
Sementara itu, Staf Ahli KSAL Bidang Keamanan Laut Dwi Sulaksono mengungkap militer selalu berupaya untuk melindungi bangsa dan negara dengan segala kekuatan yang ada, karena itu perlu diperkuat. Indonesia telah mempersiapkan pembelian dan pembaruan persenjataan secara konsisten, terutama kapal laut dan membangun integrasi sistem persenjataan TNI.
“Kalau kita mau membangun perdamaian, kita harus siap perang,” kata Dwi Laksono. “Inilah yang sedang dipersiapkan. Dan kita membutuhkan input sebagaimana buku yang ditulis oleh Dr. Ngasiman Djoyonegoro ini,” kata Dwi Sulaksono
Anggota Komisi XI DPR Hasanuddin Wahid melihat dari sisi penyeimbangan antara hard power, soft power dan smart power. Indonesia secara hard power telah membangun industri pertahanan dan peningkatan alutsista. “Kita harus kasih kepercayaan penuh kepada institusi militer kita,” kata Hasan.
Secara soft power, diplomasi politik Presiden Prabowo memiliki pengalaman panjang dan tahu betul bagaimana memainkan peran di kancah global. “Pola interaksi yang dimainkan Presiden adalah pengalaman dijajah,” kata Hasan.
Hasan menyatakan apa yang telah dilakukan perlu diimbangi dengan pengembangan smart power. “Saat ini kita belum melakukannya secara terukur dan sistematis. Tanpa tiga hal ini, kita sulit untuk menjadi negara disegani,” kata Hasan
Dari sisi informasi, perlahan tapi pasti Indonesia telah memimpin percepatan kualitas dunia digital dalam program-program transformasi digital. “Tak hanya terkait dengan aplikasi, tetapi juga penguatan SDM dan infrastruktur. Termasuk pengembangan kelembagaan pada TNI, Polri dan intelijen terkait perkembangan dunia siber,” pungkas Simon.
Sementara itu, Staf Ahli KSAL Bidang Keamanan Laut Dwi Sulaksono mengungkap militer selalu berupaya untuk melindungi bangsa dan negara dengan segala kekuatan yang ada, karena itu perlu diperkuat. Indonesia telah mempersiapkan pembelian dan pembaruan persenjataan secara konsisten, terutama kapal laut dan membangun integrasi sistem persenjataan TNI.
“Kalau kita mau membangun perdamaian, kita harus siap perang,” kata Dwi Laksono. “Inilah yang sedang dipersiapkan. Dan kita membutuhkan input sebagaimana buku yang ditulis oleh Dr. Ngasiman Djoyonegoro ini,” kata Dwi Sulaksono
(cip)
Lihat Juga :