Pengamat Bongkar Whoosh Sudah Bermasalah secara Keuangan
Senin, 27 Oktober 2025 - 13:33 WIB
loading...
Kereta cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh sudah bermasalah secara keuangan. Indikasinya proyek Whoosh ternyata lebih murah milik Jepang daripada China. Namun, pemerintah malah beralih ke China. Foto: Dok Sindonews
A
A
A
JAKARTA - Kereta cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh sudah bermasalah secara keuangan. Indikasinya proyek Whoosh ternyata lebih murah milik Jepang daripada China. Namun, pemerintah malah beralih ke China.
“Kalau dia tidak bermasalah, maka ini bisa dibiayai KCIC," ujar Pengamat Ekonomi Anthony Budiawan dalam program Rakyat Bersuara di iNews, beberapa waktu lalu.
Baca juga: Mantan Penyidik Sebut Ada Indikasi Korupsi Whoosh, Dorong KPK Investigasi
Dia menjelaskan Jepang menawarkan nilai investasi USD6,2 miliar. Sedangkan, China lebih rendah sebesar USD5,5 miliar hingga akhirnya terpilih.
"Nah, katanya dipilih. Tapi, kita lihat pembiayaan sekitar 75 persen. Dua-duanya mengatakan 75 persen," ucapnya.
Meski angkanya jauh lebih rendah, namun China mematok bunga 2,0 persen. Sementara, Jepang hanya 0,1 persen.
"Dengan bunga per tahun 0,1 persen dan China 2,0 atau 2 persen. Kalau kita bicara 20 kali lipat. China lebih mahal. Artinya, dalam USD4,65 juta setahun. China 20 kali lipat yaitu USD82,5 juta. Bunga dalam 10 tahun 46 juta untuk Jepang dan 825 juta untuk China," sambungnya.
Menurut Anthony, komponen bunga yang sangat besar ini karena 75 persen pembiayaan harusnya dihitung sebagai biaya proyek. Di mana pun dalam evaluasi proyek harus diikuti lantaran bunga harus dibayar.
"Karena bunga harus dibayar dan kita fix bunga dibayar 10 tahun tetap. Karena kita grace period. Tidak bayar cicilan. Jadi mudah sekali untuk dihitung. Jadi kalau kita bilang biaya proyek plus bunga 10 tahun, maka Jepang lebih murah," ujarnya.
“Kalau dia tidak bermasalah, maka ini bisa dibiayai KCIC," ujar Pengamat Ekonomi Anthony Budiawan dalam program Rakyat Bersuara di iNews, beberapa waktu lalu.
Baca juga: Mantan Penyidik Sebut Ada Indikasi Korupsi Whoosh, Dorong KPK Investigasi
Dia menjelaskan Jepang menawarkan nilai investasi USD6,2 miliar. Sedangkan, China lebih rendah sebesar USD5,5 miliar hingga akhirnya terpilih.
"Nah, katanya dipilih. Tapi, kita lihat pembiayaan sekitar 75 persen. Dua-duanya mengatakan 75 persen," ucapnya.
Meski angkanya jauh lebih rendah, namun China mematok bunga 2,0 persen. Sementara, Jepang hanya 0,1 persen.
"Dengan bunga per tahun 0,1 persen dan China 2,0 atau 2 persen. Kalau kita bicara 20 kali lipat. China lebih mahal. Artinya, dalam USD4,65 juta setahun. China 20 kali lipat yaitu USD82,5 juta. Bunga dalam 10 tahun 46 juta untuk Jepang dan 825 juta untuk China," sambungnya.
Menurut Anthony, komponen bunga yang sangat besar ini karena 75 persen pembiayaan harusnya dihitung sebagai biaya proyek. Di mana pun dalam evaluasi proyek harus diikuti lantaran bunga harus dibayar.
"Karena bunga harus dibayar dan kita fix bunga dibayar 10 tahun tetap. Karena kita grace period. Tidak bayar cicilan. Jadi mudah sekali untuk dihitung. Jadi kalau kita bilang biaya proyek plus bunga 10 tahun, maka Jepang lebih murah," ujarnya.
(jon)
Lihat Juga :