Pengamat: Fitnah ke Keluarga Jokowi Strategi Politik Jelang Pilpres 2029

Kamis, 23 Oktober 2025 - 12:51 WIB
loading...
Pengamat: Fitnah ke...
Gelombang narasi negatif atau fitnah terhadap mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) beserta keluarganya dinilai merupakan strategi politik menjelang Pilpres 2029. Foto/Dok SindoNews
A A A
JAKARTA - Pengamat Hukum dan Politik Pieter C. Zulkifli menilai gelombang narasi negatif atau fitnah terhadap mantan Presiden Joko Widodo ( Jokowi ) beserta keluarganya merupakan strategi politik menjelang Pilpres 2029 . Dalam catatan analisis politiknya, Pieter menyoroti munculnya pola sistematis pembunuhan karakter yang berpotensi mencederai demokrasi.

Dia mengingatkan bila fitnah dibiarkan menjadi alat politik, maka yang hancur bukan hanya reputasi individu melainkan kepercayaan publik terhadap negara. "Gelombang fitnah terhadap mantan Presiden Jokowi dan keluarga diduga bukan sekadar kritik, tapi strategi politik menjelang Pilpres 2029," kata Pieter Zulkifli dalam keterangannya, Kamis (23/10/2025).

Mantan Ketua Komisi III DPR ini berpendapat bahwa sepuluh tahun kepemimpinan Jokowi adalah fase paling dinamis dalam sejarah modern Indonesia. Dalam periode itu, bangsa ini menyaksikan percepatan pembangunan infrastruktur, transformasi digital, dan ketegasan diplomasi luar negeri yang menegaskan kedaulatan.

Baca juga: Di Sidang Kabinet 1 Tahun Pemerintahan, Prabowo Puji Teknik Jokowi Kendalikan Inflasi



Namun, kata dia, begitu kekuasaan berpindah tangan justru muncul gelombang narasi yang berupaya menggugat seluruh capaian tersebut dengan fitnah dan disinformasi yang sistematis. Dia mencontohkan ijazah palsu menjadi contoh kasus paling mencolok bagaimana tuduhan tanpa dasar bisa berkembang liar di ruang publik.

Padahal, kata dia, berulang kali Mahkamah Konstitusi (MK), perguruan tinggi, dan lembaga hukum menyatakan tidak ada kejanggalan, namun isu itu terus dihidupkan seolah-olah kebenaran bisa ditentukan oleh opini bukan fakta hukum. Menurut dia, fenomena ini juga menunjukkan betapa mudahnya ruang digital dikapitalisasi oleh kepentingan politik yang ingin menggiring persepsi publik.

Dia mengatakan, setiap keberhasilan selalu punya bayangan. Pieter Zulkifli mengatakan ketika kekuasaan mendekati akhir, muncul kelompok yang ingin menulis ulang sejarah dengan tinta negatif. Mereka tidak bicara data, tetapi menebar narasi bahwa semua pencapaian hanyalah pencitraan.

Baca juga: Survei CISA: 74,8 Persen Publik Puas dengan Kinerja Wapres Gibran



Tak hanya itu, dia menilai di era media sosial, satu unggahan viral bisa menghapus kerja keras satu dekade. Menurutnya, inilah tantangan terbesar pemerintahan pasca-Jokowi, yakni menjaga rasionalitas publik agar tidak larut dalam gelombang disinformasi yang diproduksi secara sistemik.

Pieter Zulkifli berpandangan bila fakta menunjukkan di bawah kepemimpinan Jokowi, ekonomi Indonesia tumbuh rata-rata 5 persen per tahun meski dunia dilanda pandemi dan krisis energi global (BPS, 2024). Kemudian, pembangunan infrastruktur juga dilakukan dengan masif mulai dari jalan tol, bendungan, hingga kawasan industri baru yang menjadi fondasi pemerataan ekonomi.

Sementara itu, kebijakan hilirisasi mineral memperlihatkan arah baru kemandirian nasional. "Tidak berlebihan bila Bank Dunia menyebut Indonesia sebagai salah satu negara dengan policy resilience terbaik di kawasan (World Bank, 2023)," katanya.

Pieter juga mengatakan semasa kepemimpinan Jokowi wibawa Indonesia meningkat di kancah global. Jokowi disebut tampil sebagai pemimpin Asia Tenggara yang berani berbicara lugas kepada kekuatan besar dunia, termasuk Amerika Serikat dan China.

Dia bahkan menegaskan bila Jokowi menjadi satu-satunya pemimpin Asia yang berani melakukan misi perdamaian ke Kyiv dan Moskow ketika krisis Rusia-Ukraina memanas. Di tengah tekanan politik global, Jokowi disebut tidak gentar menegaskan bahwa Indonesia adalah bangsa yang merdeka dan berdaulat dalam mengambil sikap.

Namun kini, kata dia, ketika masa jabatan telah usai, muncul gelombang fitnah baru yang diarahkan bukan hanya kepada Jokowi melainkan juga kepada keluarganya. Dari isu bisnis, relasi politik, hingga gosip pribadi, semuanya diorkestrasi dengan pola yang terukur.

Dia mengungkapkan banyak pengamat menilai ini bukan sekadar kritik, melainkan character assassination yang didesain untuk mematikan peluang politik keluarga Jokowi di 2029. "Pertanyaannya: mengapa mereka begitu takut? Apakah karena elektabilitas keluarga Jokowi, terutama Gibran Rakabuming Raka, masih tinggi dalam berbagai survei nasional?" kata Pieter Zulkifli.

"Ataukah karena kekuatan moral dan kedekatan Jokowi dengan rakyat masih dianggap ancaman bagi peta politik lama yang oligarkis? Jika benar demikian, maka fitnah dan disinformasi itu tak lain adalah bentuk ketakutan terhadap persaingan sehat dalam demokrasi," sambung Pieter.

Menurutnya, harus diakui ada agenda tertentu yang bermain di balik narasi-narasi destruktif itu. Dia menuturkan ada sebuah kekuatan politik yang berupaya menciptakan opini publik negatif agar Jokowi dan keluarga tersingkir dari gelanggang politik 2029.

"Taktik yang digunakan klasik: adu domba, framing media, dan eksploitasi sentimen publik melalui buzzer dan akun anonim. Mereka ingin menanamkan kesan bahwa Jokowi adalah masa lalu, padahal kontribusinya masih nyata dan relevan," katanya.

Untuk itu, Pieter mengingatkan Indonesia tidak boleh dibiarkan menjadi panggung politik yang dikuasai kebohongan dan dendam kekuasaan. Demokrasi hanya akan matang jika semua pihak bersedia bersaing secara sehat, bukan dengan cara menjatuhkan karakter lawan.

"Fitnah mungkin bisa mengubah persepsi sesaat, tapi sejarah akan menilai siapa yang bekerja dan siapa yang hanya berisik," imbuhnya.

Dia berpendapat ujian terbesar pasca-Jokowi bukan soal siapa yang berkuasa, melainkan bagaimana bangsa ini menjaga akal sehatnya. Publik harus cerdas memilah informasi, media harus berani menegakkan etika, dan elite politik seharusnya malu menggunakan kebohongan sebagai alat perebutan simpati.

"Karena pada akhirnya, demokrasi yang sejati berdiri di atas kebenaran bukan kebencian," pungkasnya.
(rca)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Refly Harun Desak PN...
Refly Harun Desak PN Jakarta Timur Bolehkan Siaran Langsung Sidang Dokter Tifa
Roy Suryo Siapkan Rekaman...
Roy Suryo Siapkan Rekaman Video Penangkapannya sebagai Bukti Praperadilan
Roy Suryo Ngamuk Sidang...
Roy Suryo Ngamuk Sidang Praperadilannya Disusupi Termul
Sidang Praperadilan...
Sidang Praperadilan Roy Suryo Dimulai, Hakim Ungkap Jadwal Setiap Persidangan
Praperadilan Roy Suryo...
Praperadilan Roy Suryo Persoalkan Penangkapan, Penahanan, Penggeledahan, hingga Pencekalan
Roy Suryo Hadiri Sidang...
Roy Suryo Hadiri Sidang Perdana Praperadilan: Tidak Ada Upaya untuk Memperlambat Peristiwa Utamanya
Sidang Lanjutan Praperadilan...
Sidang Lanjutan Praperadilan Roy Suryo, Polda Metro Jaya Bacakan Jawaban
Sidang Perdana Praperadilan...
Sidang Perdana Praperadilan Roy Suryo di PN Jaksel Digelar Hari Ini
Kunjungi Lampung Tengah,...
Kunjungi Lampung Tengah, Jokowi Jajan Es Kopi dan Keripik Pisang di Sentra UMKM
Rekomendasi
Cara Mudah Cek Kelulusan...
Cara Mudah Cek Kelulusan UM PTKIN 2026 yang Diumumkan Sore Ini
Sensus Ekonomi 2026...
Sensus Ekonomi 2026 Jadi Navigasi Pembangunan Nasional
Pemerintah Perkuat Kopdes...
Pemerintah Perkuat Kopdes Merah Putih untuk Bangun Papua
Berita Terkini
Nadiem Makarim Hadapi...
Nadiem Makarim Hadapi Sidang Vonis Korupsi Chromebook, Puluhan Ojol Gelar Aksi di Luar Pengadilan
Dito Ariotedjo Lebih...
Dito Ariotedjo Lebih Langsing saat Penuhi Panggilan KPK Hari Ini: Finish Hyrox Under 2 Jam
Sidang Praperadilan,...
Sidang Praperadilan, Roy Suryo Geleng-geleng Kepala Dengar Jawaban Polda Metro Jaya
Rapat Paripurna DPR...
Rapat Paripurna DPR Setujui 7 Anggota Komisi Informasi Pusat 2026-2030, Ini Daftarnya
Mantan Menpora Dito...
Mantan Menpora Dito Ariotedjo Kembali Diperiksa KPK Jadi Saksi Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji
Berkas Vonis Nadiem...
Berkas Vonis Nadiem Makarim di Kasus Chromebook Setebal 1.146 Halaman
Infografis
Jelang Jokowi Lengser,...
Jelang Jokowi Lengser, Utang Indonesia ke China Tembus Rp372 T
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved