Dosen IPB: Raja Juli Lebih Terbuka dan Saintifik dalam Pengelolaan Lingkungan
Selasa, 21 Oktober 2025 - 19:38 WIB
loading...
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dinilai menunjukkan gaya kepemimpinan yang lebih terbuka dan berbasis pada pendekatan ilmiah dalam pengelolaan sektor kehutanan. Foto/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dinilai menunjukkan gaya kepemimpinan yang lebih terbuka dan berbasis pada pendekatan ilmiah dalam pengelolaan sektor kehutanan. Hal tersebut menurut Dosen Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Institut Pertanian Bogor (IPB) Muhammad Agil.
Agil menyampaikan hal itu merespons hasil Survei IndoStrategi yang menempatkan Raja Juli Antoni dalam daftar 10 menteri dengan kinerja terbaik di Kabinet Merah Putih. Agil berpendapat bahwa keterbukaan Raja Juli menjadi salah satu faktor penting yang membedakannya dengan pejabat sebelumnya.
“Kebetulan dari beberapa menteri, saya aktif di kehutanan. Pak Raja Juli Antoni ini dari pengelolaan Kemenhut ini lebih terbuka terhadap input dari luar, kaitannya dengan konservasi atau kelestarian alam. Beliau menghargai kemanfaatan yang bersifat dasarnya saintifik,” ujarnya dihubungi wartawan, Selasa (22/10/2025).
Baca juga: Muhammadiyah Bangga Dua Kadernya Masuk 10 Menteri Berkinerja Terbaik
Dia memberikan contoh pengalaman pribadinya ketika bertemu Raja Juli saat kegiatan pembukaan ring ketiga untuk Badak Sumatera di Way Kambas. Dalam kesempatan itu, ia menyaksikan langsung bagaimana Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu bersikap inklusif dan menghargai pandangan dari berbagai pihak, termasuk tenaga lapangan dan akademisi.
Agil menilai keterbukaan tersebut juga terlihat dari cara Raja Juli berdialog. Agil melihat Raja Juli tidak segan untuk mengakui bila ada hal yang belum diketahuinya dan justru aktif meminta penjelasan dari para ahli.
“Seorang menteri sangat terbuka ketika diskusi dengan sejumlah pihak dan petugas lapangan. Pada saat Pak Raja Juli Antoni tidak tahu, dia mengakui belum tahu mengenai sesuatu hal. Kadang beliau juga meminta penjelasan. Sehingga orang tidak sungkan bertemu dengan beliau,” tuturnya.
Dirinya pun membandingkan suasana itu dengan era sebelumnya di bawah kepemimpinan Menteri Siti Nurbaya. Menurutnya, kala itu pendekatan birokrasi cenderung lebih tertutup dan membuat sebagian pihak merasa enggan berinteraksi langsung. “Berbeda dengan zaman Ibu Siti Nurbaya, orang sungkan mau ketemu,” ungkapnya.
Agil berharap keterbukaan yang ditunjukkan Raja Juli dapat mempercepat transformasi kehutanan menuju tata kelola yang lebih partisipatif dan berbasis riset ilmiah. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk menjawab tantangan besar konservasi dan perubahan iklim yang dihadapi Indonesia saat ini.
Agil menyampaikan hal itu merespons hasil Survei IndoStrategi yang menempatkan Raja Juli Antoni dalam daftar 10 menteri dengan kinerja terbaik di Kabinet Merah Putih. Agil berpendapat bahwa keterbukaan Raja Juli menjadi salah satu faktor penting yang membedakannya dengan pejabat sebelumnya.
“Kebetulan dari beberapa menteri, saya aktif di kehutanan. Pak Raja Juli Antoni ini dari pengelolaan Kemenhut ini lebih terbuka terhadap input dari luar, kaitannya dengan konservasi atau kelestarian alam. Beliau menghargai kemanfaatan yang bersifat dasarnya saintifik,” ujarnya dihubungi wartawan, Selasa (22/10/2025).
Baca juga: Muhammadiyah Bangga Dua Kadernya Masuk 10 Menteri Berkinerja Terbaik
Dia memberikan contoh pengalaman pribadinya ketika bertemu Raja Juli saat kegiatan pembukaan ring ketiga untuk Badak Sumatera di Way Kambas. Dalam kesempatan itu, ia menyaksikan langsung bagaimana Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu bersikap inklusif dan menghargai pandangan dari berbagai pihak, termasuk tenaga lapangan dan akademisi.
Agil menilai keterbukaan tersebut juga terlihat dari cara Raja Juli berdialog. Agil melihat Raja Juli tidak segan untuk mengakui bila ada hal yang belum diketahuinya dan justru aktif meminta penjelasan dari para ahli.
“Seorang menteri sangat terbuka ketika diskusi dengan sejumlah pihak dan petugas lapangan. Pada saat Pak Raja Juli Antoni tidak tahu, dia mengakui belum tahu mengenai sesuatu hal. Kadang beliau juga meminta penjelasan. Sehingga orang tidak sungkan bertemu dengan beliau,” tuturnya.
Dirinya pun membandingkan suasana itu dengan era sebelumnya di bawah kepemimpinan Menteri Siti Nurbaya. Menurutnya, kala itu pendekatan birokrasi cenderung lebih tertutup dan membuat sebagian pihak merasa enggan berinteraksi langsung. “Berbeda dengan zaman Ibu Siti Nurbaya, orang sungkan mau ketemu,” ungkapnya.
Agil berharap keterbukaan yang ditunjukkan Raja Juli dapat mempercepat transformasi kehutanan menuju tata kelola yang lebih partisipatif dan berbasis riset ilmiah. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk menjawab tantangan besar konservasi dan perubahan iklim yang dihadapi Indonesia saat ini.
(rca)
Lihat Juga :