Hari Santri 2025: Santri Jadi Penjaga Iman dan Keindonesiaan
Selasa, 21 Oktober 2025 - 13:40 WIB
loading...
A
A
A
Oleh karena itu, Kiai Maman mengajak para santri untuk tidak lagi menjadi 'penonton sejarah', melainkan aktor utama perubahan. “Santri harus melek digital, paham geopolitik, dan mampu berdialog dengan dunia. Tapi semua itu harus berakar pada nilai pesantren: adab, keikhlasan, tawadhu, dan cinta tanah air,” katanya.
Kang Maman juga menekankan bahwa jihad kebangsaan di era modern bukan lagi perang fisik, melainkan perjuangan melawan korupsi, hoaks, intoleransi, dan kemiskinan moral.
“Menjaga NKRI bukan sekadar mempertahankan wilayah, tetapi memastikan nilai keadilan, kesejahteraan, dan kemanusiaan tegak di dalamnya,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa budaya global yang serba cepat dapat meniadakan kedalaman makna hidup. Karena itu, santri ditantang untuk menjaga kesabaran dalam kecepatan, kesantunan dalam kebebasan, dan spiritualitas dalam digitalitas. “Jika santri mampu menguasai teknologi tanpa kehilangan ruh, ia justru akan menjadi pionir Islam yang kontekstual dan progresif,” katanya.
Dia menegaskan bahwa modernisasi bukan ancaman, melainkan peluang amal baru. “Yang penting bukan menolak perubahan, tetapi mengislamkan perubahan-menjadikan teknologi tunduk pada nilai adab, bukan sebaliknya,” pungkasnya.
Kang Maman juga menekankan bahwa jihad kebangsaan di era modern bukan lagi perang fisik, melainkan perjuangan melawan korupsi, hoaks, intoleransi, dan kemiskinan moral.
“Menjaga NKRI bukan sekadar mempertahankan wilayah, tetapi memastikan nilai keadilan, kesejahteraan, dan kemanusiaan tegak di dalamnya,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa budaya global yang serba cepat dapat meniadakan kedalaman makna hidup. Karena itu, santri ditantang untuk menjaga kesabaran dalam kecepatan, kesantunan dalam kebebasan, dan spiritualitas dalam digitalitas. “Jika santri mampu menguasai teknologi tanpa kehilangan ruh, ia justru akan menjadi pionir Islam yang kontekstual dan progresif,” katanya.
Dia menegaskan bahwa modernisasi bukan ancaman, melainkan peluang amal baru. “Yang penting bukan menolak perubahan, tetapi mengislamkan perubahan-menjadikan teknologi tunduk pada nilai adab, bukan sebaliknya,” pungkasnya.
(shf)
Lihat Juga :