HOI Jadi Ruang Kolaborasi Indonesia-Korea Lahirkan Talenta Kreatif Baru

Jum'at, 17 Oktober 2025 - 13:31 WIB
loading...
HOI Jadi Ruang Kolaborasi...
Wamen Kebudayaan Giring Ganesha memberikan keterangan pers saat HOI Week 2025 yang digelar di Korea 360, Lotte Mall, Jakarta, Kamis (16/10/2025). Foto/Dok. SindoNews
A A A
JAKARTA - Program House of Indonesiana (HOI) menekankan bagaimana kolaborasi lintas negara mampu memperkuat fondasi industri kreatif Indonesia. Melalui kerja sama antara Kementerian Kebudayaan dengan Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pemuda Republik Korea, HOI membuka ruang pembelajaran yang menjembatani pendidikan, industri, dan diplomasi budaya dalam satu wadah kreatif yang dinamis.

Salah satu implementasinya terlihat dalam pelatihan dan produksi konten animasi di HOI Training Center Jakarta. Di situ para peserta mendapatkan kesempatan berharga untuk belajar langsung dari profesional industri dan terlibat dalam proyek animasi berskala nyata. Baca juga: Hidupkan Lagi Lagu Anak, Kementerian Kebudayaan Gelar KILA 2025

Project Manager dari Dipadira Studios, Gisella Ivone, menceritakan bagaimana ia dan timnya berperan dalam mendampingi proses produksi animasi yang melibatkan ratusan peserta HOI dari berbagai level pelatihan. “Peran utama saya mengelola seluruh proses produksi, mulai dari perencanaan timeline, mengawasi setiap tahap produksi, menjadi penghubung antara tim pelatihan dan tim produksi, hingga memastikan semuanya berjalan sesuai target dan kualitas yang diharapkan,” katanya dalam sebuah wawancara di HOI Week 2025 yang digelar di Korea 360, Lotte Mall, Jakarta, Kamis (16/10/2025).

Ia menjelaskan, program HOI Jakarta terbagi dalam tiga level kelas yakni Basic, Intermediate, dan Advanced. Dipadira dipercaya menangani proses produksi penuh untuk IP animasi Banyu, yang dikerjakan bersama para peserta kelas Advanced.

“Kami ingin peserta tidak hanya belajar teori, tapi merasakan sendiri seperti apa ritme kerja di industri profesional. Mereka kami tempatkan dalam sistem yang menyerupai produksi nyata, lengkap dengan briefing, revisi, hingga evaluasi berkala,” tambahnya.

Bagi Gisella, keseimbangan antara nilai budaya lokal dan standar global menjadi kunci penting. Menurutnya, perlu membawa identitas budaya dalam cerita, tapi dikemas dengan standar teknis global. “Dengan begitu hasilnya bisa berakar pada budaya kita, namun tetap mampu bersaing secara internasional,” ujarnya.

Salah satu instruktur kelas Advanced di HOI, Muhammad Septa Varell Syahroni, menuturkan pelatihan ini menghadirkan pengalaman yang berbeda dari pelatihan animasi pada umumnya. Bersama beberapa rekan alumni One Animation Studios, ia membimbing peserta dengan pendekatan simulasi industri.

“Peserta tidak hanya belajar teori, tapi langsung masuk ke workflow profesional. Mereka menggunakan asset animasi dari Dipadira, mengikuti pipeline industri, dan kami push kualitasnya mendekati standar profesional,” jelasnya.

Menurutnya, banyak peserta datang dengan ide kreatif yang kuat, tetapi masih terbatas dari sisi skill teknikal. “Tugas kami bukan hanya mengajarkan software, tapi membentuk mindset yang benar. Kami ingin mereka berpikir sebagai artist, bukan sekadar operator. Karena di dunia kreatif, yang penting bukan ‘pakai apa’, tapi ‘kenapa dan bagaimana’,” katanya.

Bagi Varell, program HOI punya peran penting dalam menjembatani kesenjangan antara pendidikan dan industri. “Bentuknya pelatihan, tapi pendekatannya industri banget. Di situlah kekuatan diplomasi budaya lewat karya digital,” tandasnya.

Bagi para peserta, program HOI menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Fahra Arifia, peserta yang mengikuti seluruh tingkatan kelas dari Basic hingga Advanced 2 mengaku mendapatkan lebih dari sekadar pembelajaran teknis.

“Awalnya aku ikut cuma buat ngisi waktu, tapi setelah produksi dimulai, aku jadi lebih termotivasi untuk bikin IP sendiri. Yang paling berkesan itu waktu lihat hasil kerja keras kami disatukan jadi satu karya. Rasanya bangga banget,” ujarnya. Baca juga: Tak Punya Tambang dan Sawit, Daerah Didorong Andalkan Industri Kreatif

Ia mengakui tantangan terbesar adalah adaptasi pada proses animasi 3D yang belum pernah ia alami sebelumnya. “Aku belajar banyak dari instruktur, minta feedback terus, dan dari situ aku mulai bisa memahami alur kerja profesional,” tambahnya.

Dian Puspitarini, peserta dari Advanced Class 2 Batch 1, menyebutkan pengalaman di HOI sebagai sesuatu yang membuka wawasan. Ia mengakui sepanjang HOI berlangsung benar-benar merasakan langsung proses produksi animasi dari awal sampai akhir. “Para mentor memberikan feedback satu per satu, terasa banget kayak kerja di studio animasi profesional,” tuturnya.
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AI Juru Selamat atau...
AI Juru Selamat atau Kepunahan Pekerja Industri Kreatif?
Terima Kunjungan Sekjen...
Terima Kunjungan Sekjen ICAPP, PKB Perkuat Jembatan Diplomasi Politik dengan Korsel
Memajukan Peran Korsel...
Memajukan Peran Korsel sebagai Kekuatan Diplomatik melalui Diplomasi Pertahanan
Menekraf Teuku Riefky...
Menekraf Teuku Riefky Dorong Animator Indonesia Naik Kelas
Tampil di Wanderlust...
Tampil di Wanderlust Festival Mongolia, Talenta Seni Indonesia Perluas Jejaring Global
Prabowo Ingin Perbanyak...
Prabowo Ingin Perbanyak Konser K-Pop di Indonesia
Korut Masih Andalkan...
Korut Masih Andalkan Senjata Besar, Korsel Beralih ke 500.000 Prajurit Drone, Siapa Lebih Unggul?
Dorong Ekosistem Lagu...
Dorong Ekosistem Lagu Anak Berkualitas, KILA 2026 Resmi Dibuka
Tuduh AS Biang Kisruh,...
Tuduh AS Biang Kisruh, Kim Jong-un: Korut Akan Jalankan Posisinya sebagai Negara Nuklir
Rekomendasi
Amanda Manopo Resmi...
Amanda Manopo Resmi Laporkan Pencemaran Nama Baik Demi Sang Buah Hati
Ukraina Berusaha Rebut...
Ukraina Berusaha Rebut Kesempatan Pertama untuk Menang, tapi Kenapa Selalu Gagal?
Blusukan, Jokowi Terima...
Blusukan, Jokowi Terima Gelar Adat Tertinggi dari 5 Kerajaan Adat Lampung
Berita Terkini
DPR: Kasus Chromebook...
DPR: Kasus Chromebook Adalah The New White Collar Crime Terbaik Tanpa Kriminalisasi
5 Peserta Meninggal...
5 Peserta Meninggal Dunia, Kemhan Evaluasi Latsarmil Calon Manajer Kopdes Merah Putih
Peserta SPPI Meninggal...
Peserta SPPI Meninggal Akibat TBC, Tim Seleksi Ungkap Pemeriksaan Awal hanya Terdeteksi Infeksi Paru
Demokrasi Belum Utuh...
Demokrasi Belum Utuh Jika Perempuan Masih Minim Keterwakilan
Polisi Sita Ratusan...
Polisi Sita Ratusan Perangkat Elektronik di Markas Judi Online Hayam Wuruk, Ini Daftarnya
5 Peserta SPPI Meninggal...
5 Peserta SPPI Meninggal saat Latsarmil, Ini Kronologi Tiap Kasus
Infografis
20 Universitas Terbaik...
20 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved