HOI Jadi Ruang Kolaborasi Indonesia-Korea Lahirkan Talenta Kreatif Baru
Jum'at, 17 Oktober 2025 - 13:31 WIB
loading...
A
A
A
Bagi Gisella, keseimbangan antara nilai budaya lokal dan standar global menjadi kunci penting. Menurutnya, perlu membawa identitas budaya dalam cerita, tapi dikemas dengan standar teknis global. “Dengan begitu hasilnya bisa berakar pada budaya kita, namun tetap mampu bersaing secara internasional,” ujarnya.
Salah satu instruktur kelas Advanced di HOI, Muhammad Septa Varell Syahroni, menuturkan pelatihan ini menghadirkan pengalaman yang berbeda dari pelatihan animasi pada umumnya. Bersama beberapa rekan alumni One Animation Studios, ia membimbing peserta dengan pendekatan simulasi industri.
“Peserta tidak hanya belajar teori, tapi langsung masuk ke workflow profesional. Mereka menggunakan asset animasi dari Dipadira, mengikuti pipeline industri, dan kami push kualitasnya mendekati standar profesional,” jelasnya.
Menurutnya, banyak peserta datang dengan ide kreatif yang kuat, tetapi masih terbatas dari sisi skill teknikal. “Tugas kami bukan hanya mengajarkan software, tapi membentuk mindset yang benar. Kami ingin mereka berpikir sebagai artist, bukan sekadar operator. Karena di dunia kreatif, yang penting bukan ‘pakai apa’, tapi ‘kenapa dan bagaimana’,” katanya.
Bagi Varell, program HOI punya peran penting dalam menjembatani kesenjangan antara pendidikan dan industri. “Bentuknya pelatihan, tapi pendekatannya industri banget. Di situlah kekuatan diplomasi budaya lewat karya digital,” tandasnya.
Salah satu instruktur kelas Advanced di HOI, Muhammad Septa Varell Syahroni, menuturkan pelatihan ini menghadirkan pengalaman yang berbeda dari pelatihan animasi pada umumnya. Bersama beberapa rekan alumni One Animation Studios, ia membimbing peserta dengan pendekatan simulasi industri.
“Peserta tidak hanya belajar teori, tapi langsung masuk ke workflow profesional. Mereka menggunakan asset animasi dari Dipadira, mengikuti pipeline industri, dan kami push kualitasnya mendekati standar profesional,” jelasnya.
Menurutnya, banyak peserta datang dengan ide kreatif yang kuat, tetapi masih terbatas dari sisi skill teknikal. “Tugas kami bukan hanya mengajarkan software, tapi membentuk mindset yang benar. Kami ingin mereka berpikir sebagai artist, bukan sekadar operator. Karena di dunia kreatif, yang penting bukan ‘pakai apa’, tapi ‘kenapa dan bagaimana’,” katanya.
Bagi Varell, program HOI punya peran penting dalam menjembatani kesenjangan antara pendidikan dan industri. “Bentuknya pelatihan, tapi pendekatannya industri banget. Di situlah kekuatan diplomasi budaya lewat karya digital,” tandasnya.
Lihat Juga :