Analis: Prabowo Tak Berutang Budi terhadap Jokowi
Jum'at, 10 Oktober 2025 - 06:31 WIB
loading...
Analis Geopolitik dan Keamanan Wibawanto Nugroho Widodo menyampaikan pandangannya mengenai pertemuan Jokowi dan Prabowo dalam Podcast To The Point Aja! di YouTube Sindonews, Kamis (9/10/2025). Foto: Sindonews
A
A
A
JAKARTA - Pertemuan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan Presiden Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Sabtu (4/10/2025) bukan kunjungan biasa. Tak mungkin pertemuan 2 jam secara tertutup itu hanya membicarakan hal-hal yang recehan.
Analis Geopolitik dan Keamanan Wibawanto Nugroho Widodo menyampaikan pandangannya mengenai pertemuan Jokowi dan Prabowo dalam Podcast To The Point Aja! di YouTube Sindonews, Kamis (9/10/2025).
Baca juga: Menebak Isi Obrolan Jokowi dan Prabowo di Kertanegara
“Saya berharap Prabowo tidak berutang budi. Boleh kalau saling memperkuat, menopang, tapi menurut saya, Prabowo bukan berutang budi,” ujar Wibawanto.
Menurut dia, Prabowo memberikan kesempatan 1 tahun pada masa transisi termasuk menjalin komunikasi dengan mantan Presiden. Dari situ kemudian di-preview secara objektif.
“Kalau dia salah ya mungkin, bias juga mungkin. Tapi, Prabowo tidak mungkin mengkhianati diri sendiri,” katanya.
Saat ini, Prabowo perlu healthy circle, core team yang kuat untuk memimpin roda pemerintahan. Sebab, yang disasar adalah program nasional, termasuk memerangi diri sendiri.
Direktur Eksekutif Lingkar Madani Ray Rangkuti mengatakan, pertemuan Jokowi dan Prabowo sebagai tanda perubahan peta politik. "Makin menunjukkan kepada kita bahwa suasana politik memang berubah seperti yang sudah saya sinyalkan 6 bulan lalu ketika Pak Prabowo bertemu dengan Ibu Mega saya mengatakan saat itu, ini udah terbalik nih," ujar Ray, Kamis (9/10/2025).
Dia menyoroti fenomena terbalik antara pertemuan Jokowi dengan Prabowo. Sebab, pada masa Pilpres 2024, Prabowo kerap mengunjungi Jokowi, kini berbalik Jokowi yang mengunjungi Prabowo.
Fenomena tersebutlah yang menguatkan dirinya bahwa terjadi perubahan situasi politik. Dia bahkan menyinggung Jokowi yang menemui Prabowo di Kertanegara tersebut sebagai tanda melemahnya posisi politik mantan Wali Kota Solo tersebut.
"Mengapa itu bisa terjadi? Ya karena boleh jadi posisi politik Pak Jokowi hari demi hari makin melemah," ucapnya.
Melemahnya kekuatan politik Jokowi juga dapat dilihat dari kurangnya dukungan organ relawan Presiden ke-7 itu. Sebab, beberapa relawan yang dulu setia kepada Jokowi kini berganti mendukung Prabowo.
"Kan relatif nggak kelihatan nih basis pendukung Pak Jokowi lagi, yang tinggal kan sekarang salah satunya adalah Bung Freddy Damanik (Waketum Projo), yang lain satu-satu sudah mulai pindah. Ada namanya kalau Anda masih ingat Jokowi Mania kan sekarang berubah menjadi Prabowo Mania," kata Ray.
Analis Geopolitik dan Keamanan Wibawanto Nugroho Widodo menyampaikan pandangannya mengenai pertemuan Jokowi dan Prabowo dalam Podcast To The Point Aja! di YouTube Sindonews, Kamis (9/10/2025).
Baca juga: Menebak Isi Obrolan Jokowi dan Prabowo di Kertanegara
“Saya berharap Prabowo tidak berutang budi. Boleh kalau saling memperkuat, menopang, tapi menurut saya, Prabowo bukan berutang budi,” ujar Wibawanto.
Menurut dia, Prabowo memberikan kesempatan 1 tahun pada masa transisi termasuk menjalin komunikasi dengan mantan Presiden. Dari situ kemudian di-preview secara objektif.
“Kalau dia salah ya mungkin, bias juga mungkin. Tapi, Prabowo tidak mungkin mengkhianati diri sendiri,” katanya.
Saat ini, Prabowo perlu healthy circle, core team yang kuat untuk memimpin roda pemerintahan. Sebab, yang disasar adalah program nasional, termasuk memerangi diri sendiri.
Direktur Eksekutif Lingkar Madani Ray Rangkuti mengatakan, pertemuan Jokowi dan Prabowo sebagai tanda perubahan peta politik. "Makin menunjukkan kepada kita bahwa suasana politik memang berubah seperti yang sudah saya sinyalkan 6 bulan lalu ketika Pak Prabowo bertemu dengan Ibu Mega saya mengatakan saat itu, ini udah terbalik nih," ujar Ray, Kamis (9/10/2025).
Dia menyoroti fenomena terbalik antara pertemuan Jokowi dengan Prabowo. Sebab, pada masa Pilpres 2024, Prabowo kerap mengunjungi Jokowi, kini berbalik Jokowi yang mengunjungi Prabowo.
Fenomena tersebutlah yang menguatkan dirinya bahwa terjadi perubahan situasi politik. Dia bahkan menyinggung Jokowi yang menemui Prabowo di Kertanegara tersebut sebagai tanda melemahnya posisi politik mantan Wali Kota Solo tersebut.
"Mengapa itu bisa terjadi? Ya karena boleh jadi posisi politik Pak Jokowi hari demi hari makin melemah," ucapnya.
Melemahnya kekuatan politik Jokowi juga dapat dilihat dari kurangnya dukungan organ relawan Presiden ke-7 itu. Sebab, beberapa relawan yang dulu setia kepada Jokowi kini berganti mendukung Prabowo.
"Kan relatif nggak kelihatan nih basis pendukung Pak Jokowi lagi, yang tinggal kan sekarang salah satunya adalah Bung Freddy Damanik (Waketum Projo), yang lain satu-satu sudah mulai pindah. Ada namanya kalau Anda masih ingat Jokowi Mania kan sekarang berubah menjadi Prabowo Mania," kata Ray.
(jon)
Lihat Juga :