BMKG Bangun Sistem Peringatan Dini Tsunami di Timor Leste
Kamis, 09 Oktober 2025 - 12:28 WIB
loading...
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menegaskan, kolaborasi antara BMKG dan IGTL adalah langkah konkret memperkuat kesiapsiagaan lintas negara. Foto/SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG ) resmi meluncurkan Sistem Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami. Peluncuran tersebut dilaksanakan di Instituto de Geociências de Timor-Leste (IGTL), Dili.
Sistem ini menjadi bagian dari dukungan Indonesia untuk memperkuat kapasitas mitigasi bencana di kawasan Asia Tenggara, sekaligus memperluas jangkauan layanan peringatan dini berbasis sains di tingkat regional.
Peluncuran sistem tersebut dilakukan dalam kegiatan “Strengthening Resilience through Geosciences: Launch of the Development of Earthquake Information and Tsunami Early Warning System” yang dihadiri Presiden IGTL Job Brites Dos Santos, Sekretaris Negara Bidang Perlindungan Sipil Domingos Mariano Reis, serta pimpinan lembaga terkait.
Baca juga: Siklon Tropis Matmo, Waspadai Gelombang Laut Setinggi 4 Meter
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menegaskan, kolaborasi antara BMKG dan IGTL adalah langkah konkret memperkuat kesiapsiagaan lintas negara.“Kerja sama ini bukan sekadar simbol persahabatan, tetapi komitmen nyata untuk melindungi masyarakat dari ancaman gempabumi dan tsunami,” ujarnya, Kamis (9/10/2025).
Dwikorta menjelaskan secara tektonik, wilayah Timor Leste memiliki struktur sesar naik (thrust fault) yang dapat memicu gempabumi dan tsunami. Negara ini pernah mengalami peristiwa tsunami akibat gempabumi M6,9 pada 1995 yang menyebabkan 11 orang hilang, 19 luka-luka, dan kerusakan parah di Dili serta Maliana. Menurut Dwikorita, kondisi tersebut menegaskan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat di wilayah rawan bencana.
“Kita belajar dari pengalaman pahit Aceh 2004 dan Palu 2018. Sebaik apa pun sistem peringatan dini di hulu, akan sia-sia bila masyarakat di hilir tidak siap bertindak,” tegasnya.
Baca juga: Deretan Brigjen Pol Naik Pangkat usai Dapat Promosi Jabatan pada September 2025
Kolaborasi BMKG dan IGTL diperkuat melalui Nota Kesepahaman dan Perjanjian Implementasi 2024 yang mencakup bidang geofisika, pengembangan sumber daya manusia, serta pertukaran teknologi. Melalui kemitraan ini, BMKG berkomitmen membantu IGTL membangun kapasitas operasional yang mandiri dalam pemantauan gempabumi dan tsunami.
“BMKG siap mendukung IGTL agar memiliki kedaulatan penuh atas data dan informasi kebencanaan, sehingga dapat merespons ancaman dengan cepat dan tepat demi keselamatan warganya,” jelas Dwikorita.
Dwikorita menegaskan, keselamatan publik adalah prioritas utama dari seluruh kerja sama ini. “Semua upaya ini bermuara pada satu tujuan keselamatan masyarakat, nol korban, dan kesejahteraan yang berkelanjutan,” tutupnya.
Direktur Bidang Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono, menambahkan, sistem yang dibangun di IGTL Timor Leste ini mengadopsi teknologi dan mekanisme Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS), yang selama ini menjadi model sistem peringatan dini regional.
Saat ini, InaTEWS berperan sebagai Tsunami Service Provider (TSP) untuk 28 negara pesisir Samudera Hindia dan Pusat Informasi Gempabumi bagi 10 negara ASEAN.
Presiden IGTL, Job Brites dos Santos, menyampaikan apresiasi kepada BMKG atas dukungan dan transfer teknologi yang diberikan. “Sistem ini mencerminkan keberhasilan model diseminasi yang telah dijalankan di Indonesia. Ini tonggak penting bagi keselamatan publik Timor Leste,” ujarnya.
Dalam jangka panjang, kolaborasi kedua negara diarahkan untuk mendukung program “Early Warning for All & Early Action by All”, sesuai target PBB agar seluruh komunitas di wilayah berisiko tsunami telah siap dan tangguh pada 2030.
Program ini mencakup pertukaran ahli, pelatihan teknis, penguatan sistem diseminasi informasi, serta penyusunan peta bahaya dan evakuasi tsunami.
Sistem ini menjadi bagian dari dukungan Indonesia untuk memperkuat kapasitas mitigasi bencana di kawasan Asia Tenggara, sekaligus memperluas jangkauan layanan peringatan dini berbasis sains di tingkat regional.
Peluncuran sistem tersebut dilakukan dalam kegiatan “Strengthening Resilience through Geosciences: Launch of the Development of Earthquake Information and Tsunami Early Warning System” yang dihadiri Presiden IGTL Job Brites Dos Santos, Sekretaris Negara Bidang Perlindungan Sipil Domingos Mariano Reis, serta pimpinan lembaga terkait.
Baca juga: Siklon Tropis Matmo, Waspadai Gelombang Laut Setinggi 4 Meter
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menegaskan, kolaborasi antara BMKG dan IGTL adalah langkah konkret memperkuat kesiapsiagaan lintas negara.“Kerja sama ini bukan sekadar simbol persahabatan, tetapi komitmen nyata untuk melindungi masyarakat dari ancaman gempabumi dan tsunami,” ujarnya, Kamis (9/10/2025).
Dwikorta menjelaskan secara tektonik, wilayah Timor Leste memiliki struktur sesar naik (thrust fault) yang dapat memicu gempabumi dan tsunami. Negara ini pernah mengalami peristiwa tsunami akibat gempabumi M6,9 pada 1995 yang menyebabkan 11 orang hilang, 19 luka-luka, dan kerusakan parah di Dili serta Maliana. Menurut Dwikorita, kondisi tersebut menegaskan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat di wilayah rawan bencana.
“Kita belajar dari pengalaman pahit Aceh 2004 dan Palu 2018. Sebaik apa pun sistem peringatan dini di hulu, akan sia-sia bila masyarakat di hilir tidak siap bertindak,” tegasnya.
Baca juga: Deretan Brigjen Pol Naik Pangkat usai Dapat Promosi Jabatan pada September 2025
Kolaborasi BMKG dan IGTL diperkuat melalui Nota Kesepahaman dan Perjanjian Implementasi 2024 yang mencakup bidang geofisika, pengembangan sumber daya manusia, serta pertukaran teknologi. Melalui kemitraan ini, BMKG berkomitmen membantu IGTL membangun kapasitas operasional yang mandiri dalam pemantauan gempabumi dan tsunami.
“BMKG siap mendukung IGTL agar memiliki kedaulatan penuh atas data dan informasi kebencanaan, sehingga dapat merespons ancaman dengan cepat dan tepat demi keselamatan warganya,” jelas Dwikorita.
Dwikorita menegaskan, keselamatan publik adalah prioritas utama dari seluruh kerja sama ini. “Semua upaya ini bermuara pada satu tujuan keselamatan masyarakat, nol korban, dan kesejahteraan yang berkelanjutan,” tutupnya.
Direktur Bidang Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono, menambahkan, sistem yang dibangun di IGTL Timor Leste ini mengadopsi teknologi dan mekanisme Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS), yang selama ini menjadi model sistem peringatan dini regional.
Saat ini, InaTEWS berperan sebagai Tsunami Service Provider (TSP) untuk 28 negara pesisir Samudera Hindia dan Pusat Informasi Gempabumi bagi 10 negara ASEAN.
Presiden IGTL, Job Brites dos Santos, menyampaikan apresiasi kepada BMKG atas dukungan dan transfer teknologi yang diberikan. “Sistem ini mencerminkan keberhasilan model diseminasi yang telah dijalankan di Indonesia. Ini tonggak penting bagi keselamatan publik Timor Leste,” ujarnya.
Dalam jangka panjang, kolaborasi kedua negara diarahkan untuk mendukung program “Early Warning for All & Early Action by All”, sesuai target PBB agar seluruh komunitas di wilayah berisiko tsunami telah siap dan tangguh pada 2030.
Program ini mencakup pertukaran ahli, pelatihan teknis, penguatan sistem diseminasi informasi, serta penyusunan peta bahaya dan evakuasi tsunami.
(cip)
Lihat Juga :