Perang Nuklir Indikasi Awal Kiamat?
Selasa, 07 Oktober 2025 - 21:24 WIB
loading...
Mantan Dubes RI untuk Iran, Dian Wirengjurit (tiga dari kanan) menyatakan, perang nuklir bisa jadi indikasi awal kiamat di bumi serta perang dunia (PD) III. Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Banyak yang tidak menyadari bahwa belakangan ini dunia sebenarnya berada di ambang perang besar, yang dapat berkembang menjadi perang dunia III. Dampaknya terhadap kehancuran dunia dan peradaban tidak terbayangkan.
Mantan Duta Besar (Dubes) RI untuk Iran, Dian Wirengjurit menyatakan, perang nuklir bisa jadi indikasi awal kiamat di bumi. Dia menyebut kalangan agamawan ada yang mengatakan bahwa kiamat akan dimulai setelah 80% penduduk bumi lenyap. Belakangan ini tanda-tanda itu sudah tergambar, jika terjadi perang antar negara menggunakan bom nuklir.
Baca juga: Lebih dari 70 Anggota Parlemen Iran Desak Produksi Senjata Nuklir
"Bom Little Boy dan Fat Man yang dijatuhkan masing-masing di Hiroshima pada 6 Agustus dan Nagasaki 9 Agustus 1945 dengan kekuatan 15 kiloton telah menimbulkan korban lebih dari 140 ribu tewas akibat ledakan, panas, radiasi dan hancurnya bangunan, serta ratusan ribu lainnya yang luka-luka dan cidera permanen. Ingatan kengerian saat itu masih membekas di kalangan warga Jepang," kata Dian Wirengjurit dalam diskusi yang digelar Institut Peradaban di Auditorium Perpustakaan Nasional, Jakarta, pada Senin (6/10/2025).
Sedangkan saat ini, bom nuklir berkekuatan antara 100-500 kiloton. Sehingga tak terbayangkan kerusakan yang ditimbulkannya kalau digunakan. Negara mana saja yang memiliki bom nuklir? Data awal 2025 menyebutkan ada lebih dari 12 ribu hulu ledak nuklir, di mana 10 ribu di antaranya dimiliki oleh AS dan Rusia, serta Cina, Prancis, Inggris dan India, Pakistan, Israel dan Korea Utara.
"Di antara pemimpin negara-negara tersebut kalau di antara mereka terpicu meluncurkan bom nuklir dan lainnya, sebagai unjuk kekuatan, juga menggunakan bom yang berkekuatan sama atau lebih," lanjutnya.
Baca juga: 4 Fakta Pakta Pertahanan Nuklir Saudi - Pakistan Tak Membahayakan India
Indikasinya adalah: Perang Rusia-Ukraina (2022-kini), India-Pakistan (7-10 Mei 2025), uji coba rudal Korea Utara yang mampu membawa hulu ledak nuklir (Januari 2025), latihan militer besar-besaran Cina (Channel Thunder) dan AS (Talisman Saber), keduanya pada 2025 dan terakhir perang Iran-Israel (10-22 Juni 2025).
Itu semua mencerminkan fenomena tentunya mengkhawatirkan, yaitu adanya keterlibatan langsung atau tidak langsung negara-negara pemilik senjata nuklir de jure maupun de facto.
Dian Wirengjurit menambahkan, Albert Einstein awalnya mendukung pengembangannya senjata nuklir untuk pertahanan, dan merekomendasikan pengembangan bom atom. Tapi Einstein kemudian menyatakan penyesalannya karena menyadari potensi perang dunia berikutnya, yang dapat menghancurkan peradaban. Ia menjadi pendukung vokal untuk penghapusan senjata nuklir.
Makanya Joseph Rodblat mengatakan. “This is the reality of nuclear weapons: they may trigger a world war; a war which, unlike previous ones, destroys all of civilization.”
Upaya pengawasan dan perlucutan senjata nuklir memang terus berjalan, namun lebih bersifat unilateral, bilateral dan regional, sementara pada tataran global seperti mandeg atau 'jalan di tempat'. Geopolitik dunia pasca Perang Dunia II memang diwarnai dengan ayunan pendulum antara upaya teknologi nuklir untuk perang atau tujuan damai. Masyarakat dunia menyadari bahwa teknologi nuklir memang 'cannot be disinvented'.
"Di lain pihak, teknologi nuklir, apabila digunakan untuk tujuan damai, ternyata dapat memberikan manfaat signifikn. Saat ini, sekitar 30 negara mengoperasikan PLTN, dengan lebih dari 400 yang beroperasi," terangnya.
Secara global, energi nuklir menyediakan 9-10% listrik di dunia, AS sebagai produder terbesar dengan lebih 90 reaktor dan terus membangunnya. Sedangkan kelistrikan Prancis menggunakan 70% tenaga nuklir. Bill Gates pernah menyatakan “Nuclear energy, in terms of an overall safety record, is better than other energy”.
Pertanyaan kita bersama, apakah mungkin mencegah senjata nuklir tidak lagi digunakan dalam menyelesaikan konflik antar negara?
Mantan Duta Besar (Dubes) RI untuk Iran, Dian Wirengjurit menyatakan, perang nuklir bisa jadi indikasi awal kiamat di bumi. Dia menyebut kalangan agamawan ada yang mengatakan bahwa kiamat akan dimulai setelah 80% penduduk bumi lenyap. Belakangan ini tanda-tanda itu sudah tergambar, jika terjadi perang antar negara menggunakan bom nuklir.
Baca juga: Lebih dari 70 Anggota Parlemen Iran Desak Produksi Senjata Nuklir
"Bom Little Boy dan Fat Man yang dijatuhkan masing-masing di Hiroshima pada 6 Agustus dan Nagasaki 9 Agustus 1945 dengan kekuatan 15 kiloton telah menimbulkan korban lebih dari 140 ribu tewas akibat ledakan, panas, radiasi dan hancurnya bangunan, serta ratusan ribu lainnya yang luka-luka dan cidera permanen. Ingatan kengerian saat itu masih membekas di kalangan warga Jepang," kata Dian Wirengjurit dalam diskusi yang digelar Institut Peradaban di Auditorium Perpustakaan Nasional, Jakarta, pada Senin (6/10/2025).
Sedangkan saat ini, bom nuklir berkekuatan antara 100-500 kiloton. Sehingga tak terbayangkan kerusakan yang ditimbulkannya kalau digunakan. Negara mana saja yang memiliki bom nuklir? Data awal 2025 menyebutkan ada lebih dari 12 ribu hulu ledak nuklir, di mana 10 ribu di antaranya dimiliki oleh AS dan Rusia, serta Cina, Prancis, Inggris dan India, Pakistan, Israel dan Korea Utara.
"Di antara pemimpin negara-negara tersebut kalau di antara mereka terpicu meluncurkan bom nuklir dan lainnya, sebagai unjuk kekuatan, juga menggunakan bom yang berkekuatan sama atau lebih," lanjutnya.
Baca juga: 4 Fakta Pakta Pertahanan Nuklir Saudi - Pakistan Tak Membahayakan India
Indikasinya adalah: Perang Rusia-Ukraina (2022-kini), India-Pakistan (7-10 Mei 2025), uji coba rudal Korea Utara yang mampu membawa hulu ledak nuklir (Januari 2025), latihan militer besar-besaran Cina (Channel Thunder) dan AS (Talisman Saber), keduanya pada 2025 dan terakhir perang Iran-Israel (10-22 Juni 2025).
Itu semua mencerminkan fenomena tentunya mengkhawatirkan, yaitu adanya keterlibatan langsung atau tidak langsung negara-negara pemilik senjata nuklir de jure maupun de facto.
Dian Wirengjurit menambahkan, Albert Einstein awalnya mendukung pengembangannya senjata nuklir untuk pertahanan, dan merekomendasikan pengembangan bom atom. Tapi Einstein kemudian menyatakan penyesalannya karena menyadari potensi perang dunia berikutnya, yang dapat menghancurkan peradaban. Ia menjadi pendukung vokal untuk penghapusan senjata nuklir.
Makanya Joseph Rodblat mengatakan. “This is the reality of nuclear weapons: they may trigger a world war; a war which, unlike previous ones, destroys all of civilization.”
Upaya pengawasan dan perlucutan senjata nuklir memang terus berjalan, namun lebih bersifat unilateral, bilateral dan regional, sementara pada tataran global seperti mandeg atau 'jalan di tempat'. Geopolitik dunia pasca Perang Dunia II memang diwarnai dengan ayunan pendulum antara upaya teknologi nuklir untuk perang atau tujuan damai. Masyarakat dunia menyadari bahwa teknologi nuklir memang 'cannot be disinvented'.
"Di lain pihak, teknologi nuklir, apabila digunakan untuk tujuan damai, ternyata dapat memberikan manfaat signifikn. Saat ini, sekitar 30 negara mengoperasikan PLTN, dengan lebih dari 400 yang beroperasi," terangnya.
Secara global, energi nuklir menyediakan 9-10% listrik di dunia, AS sebagai produder terbesar dengan lebih 90 reaktor dan terus membangunnya. Sedangkan kelistrikan Prancis menggunakan 70% tenaga nuklir. Bill Gates pernah menyatakan “Nuclear energy, in terms of an overall safety record, is better than other energy”.
Pertanyaan kita bersama, apakah mungkin mencegah senjata nuklir tidak lagi digunakan dalam menyelesaikan konflik antar negara?
(shf)
Lihat Juga :