Prabowo Minta Seleksi Pimpinan TNI Tak Kedepankan Senioritas Sudah Tepat
Senin, 06 Oktober 2025 - 21:04 WIB
loading...
A
A
A
Di samping tentu saja, peluang akselerasi bagi junior yang memiliki talenta dan prestasi tetap harus dibuka. Oleh karena itu, perbaikan ke depan juga hendaknya lebih mengembangkan penerapan asas keterbukaan, akuntabel dan terencana termasuk dalam hal penggunaan diskresi pimpinan.
Dalam konteks ini, pimpinan TNI ada baiknya untuk mulai memanfaatkan kecerdasan artifisial (AI) dalam memperkaya pengambilan keputusan terkait pembinaan karier.
"Terlebih, Presiden Prabowo juga sudah mengingatkan TNI untuk mengadopsi AI dalam amanat 5 Oktober. Hal ini menjadi penting agar tata kelola manajemen karir personel tidak digambarkan sebagai sesuatu yang 'gelap' dan menerapkan favoritisme," katanya.
Selain itu, perbaikan pola karir ini tentu saja harus disertai dengan penataan kebijakan pensiun yang lebih baik. Mau tidak mau, kebijakan ‘resign by design’ harus disiapkan. Hal ini tentu saja harus mencakup penerapan wajib Program Masa Persiapan Pensiun secara konsisten untuk semua jenjang kepangkatan terhitung satu tahun sebelum usia pensiun.
"Kebijakan ini dibutuhkan agar prajurit yang akan pensiun dapat mempersiapkan diri untuk karir selalnjutnya usai berhenti dari militer," katanya.
Kebijakan pemisahan dan penyaluran (sahlur) atau ‘resign by design’ prajurit perlu untuk semakin ditingkatkan guna membantu identifikasi dan pengelolaan kebijakan karir kedua (second career) usai tidak lagi aktif di TNI.
"Program persiapan karier kedua menjadi salah satu hal krusial yang harus dipikirkan oleh Kemhan, Mabes TNI dan Mabes Angkatan. Prajurit yang akan mengakhiri masa dinas, baik jalur pensiun dini atau pensiun normal, tentu saja diharapkan punya waktu persiapan yang cukup jika ingin menekuni karier kedua," tandasnya.
Dalam konteks ini, pimpinan TNI ada baiknya untuk mulai memanfaatkan kecerdasan artifisial (AI) dalam memperkaya pengambilan keputusan terkait pembinaan karier.
"Terlebih, Presiden Prabowo juga sudah mengingatkan TNI untuk mengadopsi AI dalam amanat 5 Oktober. Hal ini menjadi penting agar tata kelola manajemen karir personel tidak digambarkan sebagai sesuatu yang 'gelap' dan menerapkan favoritisme," katanya.
Selain itu, perbaikan pola karir ini tentu saja harus disertai dengan penataan kebijakan pensiun yang lebih baik. Mau tidak mau, kebijakan ‘resign by design’ harus disiapkan. Hal ini tentu saja harus mencakup penerapan wajib Program Masa Persiapan Pensiun secara konsisten untuk semua jenjang kepangkatan terhitung satu tahun sebelum usia pensiun.
"Kebijakan ini dibutuhkan agar prajurit yang akan pensiun dapat mempersiapkan diri untuk karir selalnjutnya usai berhenti dari militer," katanya.
Kebijakan pemisahan dan penyaluran (sahlur) atau ‘resign by design’ prajurit perlu untuk semakin ditingkatkan guna membantu identifikasi dan pengelolaan kebijakan karir kedua (second career) usai tidak lagi aktif di TNI.
"Program persiapan karier kedua menjadi salah satu hal krusial yang harus dipikirkan oleh Kemhan, Mabes TNI dan Mabes Angkatan. Prajurit yang akan mengakhiri masa dinas, baik jalur pensiun dini atau pensiun normal, tentu saja diharapkan punya waktu persiapan yang cukup jika ingin menekuni karier kedua," tandasnya.
(cip)
Lihat Juga :