Bangunan Musala Ambruk di Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, DPR: Investigasi Proses Pembangunan!
Rabu, 01 Oktober 2025 - 11:36 WIB
loading...
Wakil Ketua DPR Cucun Ahmad Syamsurijal meminta musibah ambruknya bangunan musala di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur menjadi pelajaran agar ponpes mendapat pendampingan dari pemerintah. Foto: Dok Sindonews
A
A
A
JAKARTA - Wakil Ketua DPR Cucun Ahmad Syamsurijal menyampaikan duka mendalam atas musibah ambruknya bangunan musala di Pondok Pesantren Al Khoziny , Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur. Dia meminta insiden memilukan ini menjadi pelajaran agar ponpes mendapat pendampingan dari pemerintah.
“Kita berharap evakuasi dapat berjalan lancar dan santri-santri yang masih terjebak bisa dievakuasi dalam keadaan selamat. Keamanan harus menjadi perhatian utama,” ujar Cucun, Rabu (1/10/2025).
Baca juga: Mencekam! Penampakan Evakuasi Korban Reruntuhan Ponpes Al Khoziny Sidoarjo
Ambruknya musala Ponpes Al Khoziny tentu menggoreskan luka bagi dunia pendidikan keagamaan dan masyarakat luas yang selama ini menaruh kepercayaan besar pada peran pesantren.
Apalagi Ponpes Al Khoziny merupakan salah satu pesantren tertua di Jawa Timur yang telah menjadi pusat pembinaan ulama dan lahirnya banyak tokoh agama bangsa. "Pesantren ini banyak berkontribusi untuk negara. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa membangun asrama, sekolah dan fasilitas lain, konstruksinya harus berdasarkan kajian matang," katanya.
Menurut dia, negara juga tidak boleh lalai dalam memastikan setiap sarana pendidikan dan keagamaan berdiri di atas standar keselamatan yang ketat. Apalagi pesantren ini menampung ribuan anak untuk belajar, beribadah, dan meneladani nilai-nilai luhur bangsa.
"Atau minimal ketika ada pembangunan ponpes, pemerintah yang memahami ilmu konstruksi bisa membantu secara keilmuannya sehingga ada pendampingan dalam pembangunan musala dan masjid sarta fasilitas lainnya yang aman, khususnya bagi anak-anak dan santri," ungkap Cucun.
"Dan perlu diingat, keselamatan santri yang merupakan aset bangsa dan calon pemimpin umat harus ditempatkan sebagai prioritas utama," tambahnya.
Dia mendesak pemerintah segera melakukan langkah cepat, termasuk memberikan penanganan darurat terbaik bagi seluruh korban dan keluarganya. "Kemudian, lakukan investigasi menyeluruh terhadap proses pembangunan musala. Ini untuk memastikan tidak ada kelalaian atau penyimpangan teknis," kata Legislator Dapil Jawa Barat II ini.
Selain itu, dia meminta pemerintah menyusun sistem pengawasan yang lebih kuat bagi pembangunan fasilitas pendidikan keagamaan di seluruh Indonesia, khususnya pesantren. Kemudian, pemerintah dan instansi terkait harus membantu pemulihan pascamusibah ini baik bantuan rehabilitasi bangunan hingga pendampingan psikososial bagi korban maupun pihak ponpes.
Tim gabungan terus mengevakuasi korban insiden reruntuhan di Pondok Pesantren Al Khoziny. Berdasarkan data absensi santri, sebanyak 91 orang diduga tertimbun material bangunan. Personel pencarian dan pertolongan gabungan sebanyak 332 orang dikerahkan dengan metode kerja bergantian untuk menjaga ketahanan tim.
Peralatan berat juga disiagakan, namun penggunaannya sementara belum dapat dilakukan karena dikhawatirkan getaran dapat memperparah kondisi reruntuhan. ”Upaya penyelamatan saat ini difokuskan secara manual dengan menggali lubang dan celah untuk mengevakuasi korban yang masih hidup," ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, Rabu (1/10/2025).
“Kita berharap evakuasi dapat berjalan lancar dan santri-santri yang masih terjebak bisa dievakuasi dalam keadaan selamat. Keamanan harus menjadi perhatian utama,” ujar Cucun, Rabu (1/10/2025).
Baca juga: Mencekam! Penampakan Evakuasi Korban Reruntuhan Ponpes Al Khoziny Sidoarjo
Ambruknya musala Ponpes Al Khoziny tentu menggoreskan luka bagi dunia pendidikan keagamaan dan masyarakat luas yang selama ini menaruh kepercayaan besar pada peran pesantren.
Apalagi Ponpes Al Khoziny merupakan salah satu pesantren tertua di Jawa Timur yang telah menjadi pusat pembinaan ulama dan lahirnya banyak tokoh agama bangsa. "Pesantren ini banyak berkontribusi untuk negara. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa membangun asrama, sekolah dan fasilitas lain, konstruksinya harus berdasarkan kajian matang," katanya.
Menurut dia, negara juga tidak boleh lalai dalam memastikan setiap sarana pendidikan dan keagamaan berdiri di atas standar keselamatan yang ketat. Apalagi pesantren ini menampung ribuan anak untuk belajar, beribadah, dan meneladani nilai-nilai luhur bangsa.
"Atau minimal ketika ada pembangunan ponpes, pemerintah yang memahami ilmu konstruksi bisa membantu secara keilmuannya sehingga ada pendampingan dalam pembangunan musala dan masjid sarta fasilitas lainnya yang aman, khususnya bagi anak-anak dan santri," ungkap Cucun.
"Dan perlu diingat, keselamatan santri yang merupakan aset bangsa dan calon pemimpin umat harus ditempatkan sebagai prioritas utama," tambahnya.
Dia mendesak pemerintah segera melakukan langkah cepat, termasuk memberikan penanganan darurat terbaik bagi seluruh korban dan keluarganya. "Kemudian, lakukan investigasi menyeluruh terhadap proses pembangunan musala. Ini untuk memastikan tidak ada kelalaian atau penyimpangan teknis," kata Legislator Dapil Jawa Barat II ini.
Selain itu, dia meminta pemerintah menyusun sistem pengawasan yang lebih kuat bagi pembangunan fasilitas pendidikan keagamaan di seluruh Indonesia, khususnya pesantren. Kemudian, pemerintah dan instansi terkait harus membantu pemulihan pascamusibah ini baik bantuan rehabilitasi bangunan hingga pendampingan psikososial bagi korban maupun pihak ponpes.
Tim gabungan terus mengevakuasi korban insiden reruntuhan di Pondok Pesantren Al Khoziny. Berdasarkan data absensi santri, sebanyak 91 orang diduga tertimbun material bangunan. Personel pencarian dan pertolongan gabungan sebanyak 332 orang dikerahkan dengan metode kerja bergantian untuk menjaga ketahanan tim.
Peralatan berat juga disiagakan, namun penggunaannya sementara belum dapat dilakukan karena dikhawatirkan getaran dapat memperparah kondisi reruntuhan. ”Upaya penyelamatan saat ini difokuskan secara manual dengan menggali lubang dan celah untuk mengevakuasi korban yang masih hidup," ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, Rabu (1/10/2025).
(jon)
Lihat Juga :