I-Hajj Syariah Fund Berangkatkan Kader Penanggulangan TBC ke Tanah Suci
Rabu, 24 September 2025 - 22:04 WIB
loading...
Kader PR Konsorsium Penabulu-STPI bersama Direktur Eksekutif STPI dr Henry Diatmo (tiga dari kiri) dan Komisaris Independen PT IIM M Yani berfoto dengan tangan menyimbolkan TOSS TBC (Temukan dan Obati Sampai Sembuh TBC). Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - PT IIM melalui program Reksa Dana Haji Syariah (I-Hajj Syariah Fund) kembali memberangkatkan 90 jemaah umrah ke Tanah Suci, di antaranya tiga kader dan dua Patient Suporter (PS) dari PR Konsorsium Penabulu - Stop TB Partnership Indonesia (STPI), Selasa (23/9/2025). Kader-kader tersebut berasal dari Jakarta Timur, Tangerang, Malang, Palembang, hingga Medan.
Pemberangkatan ini menjadi bentuk penghargaan kepada para kader yang tanpa pamrih membantu upaya penanggulangan tuberkulosis (TBC) di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan 2024 menunjukkan Indonesia menempati peringkat kedua jumlah kasus TBC tertinggi di dunia.
Baca juga: Pesan bagi Jemaah Indonesia yang Sering Umrah Sunah untuk Badal Umrah
Komisaris Independen PT IIM M Yani menegaskan komitmen perusahaan dalam memberikan dukungannya kepada para kader yang berada di garda terdepan penanggulangan TBC. “Mereka bekerja di lapangan dengan risiko tinggi tertular, tetapi tetap setia mendampingi pasien dan mengedukasi masyarakat. Melalui program Reksa Dana I-Hajj Syariah Fund, kami ingin menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi nyata atas dedikasi mereka sekaligus memberi kesempatan untuk menunaikan ibadah umrah sebagai bentuk penghargaan,” ujar Yani, Rabu (24/9/2025).
I-Hajj Syariah Fund secara berkelanjutan mengadakan Program Umrah untuk memberikan apresiasi kepada individu yang berperan aktif membantu sesama meski menghadapi keterbatasan ekonomi.
Direktur Eksekutif Stop TB Partnership Indonesia (STPI) dr Henry Diatmo mengatakan, jumlah kasus TBC di Indonesia memang jauh lebih besar dibandingkan kuantitas kader kesehatan di lapangan padahal peran mereka sangat strategis.
“Jumlah kasus TBC di Indonesia memang jauh lebih besar dibandingkan kuantitas kader kesehatan di lapangan. Namun, peran mereka sangat strategis seperti menjangkau komunitas, melakukan edukasi, mendampingi pasien, hingga memastikan akses pengobatan. Karena itu, keberadaan mereka harus terus diperkuat baik melalui peningkatan kapasitas, dukungan lintas sektor, maupun apresiasi yang layak atas kerja keras mereka,” ungkapnya.
Henry turut menyampaikan terima kasih kepada para investor Reksa Dana I-Hajj Syariah Fund. Dukungan ini menunjukkan bahwa sektor swasta juga memiliki peran penting dalam upaya eliminasi TBC di Indonesia.
Salah satu jemaah yang berangkat, Anil Dawan, adalah penyintas TBC Resisten Obat (RO) yang kini aktif menjadi pendamping pasien atau Patient Suporter (PS). Setelah menjalani pengobatan selama 20 bulan hingga dinyatakan sembuh, Anil memilih mendedikasikan waktunya untuk mengedukasi pasien dan memastikan mereka tidak putus pengobatan. Sehari-harinya Anil merupakan kader di Komunitas Masyarakat Sehat Sriwijaya (MSS) Sumatera Selatan.
“Saya sangat tertarik bergabung untuk mengedukasi pasien, karena saya sangat merasakan bagaimana rasanya menjadi pasien TBC RO, maka itu penting saya dalam tugas pendampingan, mulai dari mengontrol minum obat pasien, mengingatkan kontrol dokter pasien, memberikan obat untuk pasien yang tidak bisa datang ke puskesmas, serta selalu memberikan support pasien agar tidak putus pengobatan,” ujar Anil.
Sebagai bagian dari komitmen filantropi, Program Umrah Reksa Dana Haji Syariah (I-Hajj Syariah Fund) PT IIM berasal dari penyisihan dana infak yang ada pada Reksa Dana Insight Haji Syariah (I-Hajj Syariah Fund).
Melalui inisiatif ini, Insight memberikan penghargaan kepada jemaah yang terus berkontribusi bagi sesama meskipun menghadapi keterbatasan ekonomi sekaligus menghadirkan pengalaman ibadah yang sarat makna sebagai bentuk apresiasi atas ketulusan dan pengorbanan mereka.
“Selama lebih dari dua dekade, dari 2005 hingga September 2025, program Reksa Dana I-Hajj Syariah Fund telah memberangkatkan lebih dari 1.000 jemaah. Pencapaian ini menjadi bukti nyata dukungan kami kepada masyarakat yang kurang mampu namun memiliki kontribusi sosial signifikan,” ujar Yani.
Pemberangkatan ini menjadi bentuk penghargaan kepada para kader yang tanpa pamrih membantu upaya penanggulangan tuberkulosis (TBC) di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan 2024 menunjukkan Indonesia menempati peringkat kedua jumlah kasus TBC tertinggi di dunia.
Baca juga: Pesan bagi Jemaah Indonesia yang Sering Umrah Sunah untuk Badal Umrah
Komisaris Independen PT IIM M Yani menegaskan komitmen perusahaan dalam memberikan dukungannya kepada para kader yang berada di garda terdepan penanggulangan TBC. “Mereka bekerja di lapangan dengan risiko tinggi tertular, tetapi tetap setia mendampingi pasien dan mengedukasi masyarakat. Melalui program Reksa Dana I-Hajj Syariah Fund, kami ingin menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi nyata atas dedikasi mereka sekaligus memberi kesempatan untuk menunaikan ibadah umrah sebagai bentuk penghargaan,” ujar Yani, Rabu (24/9/2025).
I-Hajj Syariah Fund secara berkelanjutan mengadakan Program Umrah untuk memberikan apresiasi kepada individu yang berperan aktif membantu sesama meski menghadapi keterbatasan ekonomi.
Direktur Eksekutif Stop TB Partnership Indonesia (STPI) dr Henry Diatmo mengatakan, jumlah kasus TBC di Indonesia memang jauh lebih besar dibandingkan kuantitas kader kesehatan di lapangan padahal peran mereka sangat strategis.
“Jumlah kasus TBC di Indonesia memang jauh lebih besar dibandingkan kuantitas kader kesehatan di lapangan. Namun, peran mereka sangat strategis seperti menjangkau komunitas, melakukan edukasi, mendampingi pasien, hingga memastikan akses pengobatan. Karena itu, keberadaan mereka harus terus diperkuat baik melalui peningkatan kapasitas, dukungan lintas sektor, maupun apresiasi yang layak atas kerja keras mereka,” ungkapnya.
Henry turut menyampaikan terima kasih kepada para investor Reksa Dana I-Hajj Syariah Fund. Dukungan ini menunjukkan bahwa sektor swasta juga memiliki peran penting dalam upaya eliminasi TBC di Indonesia.
Salah satu jemaah yang berangkat, Anil Dawan, adalah penyintas TBC Resisten Obat (RO) yang kini aktif menjadi pendamping pasien atau Patient Suporter (PS). Setelah menjalani pengobatan selama 20 bulan hingga dinyatakan sembuh, Anil memilih mendedikasikan waktunya untuk mengedukasi pasien dan memastikan mereka tidak putus pengobatan. Sehari-harinya Anil merupakan kader di Komunitas Masyarakat Sehat Sriwijaya (MSS) Sumatera Selatan.
“Saya sangat tertarik bergabung untuk mengedukasi pasien, karena saya sangat merasakan bagaimana rasanya menjadi pasien TBC RO, maka itu penting saya dalam tugas pendampingan, mulai dari mengontrol minum obat pasien, mengingatkan kontrol dokter pasien, memberikan obat untuk pasien yang tidak bisa datang ke puskesmas, serta selalu memberikan support pasien agar tidak putus pengobatan,” ujar Anil.
Sebagai bagian dari komitmen filantropi, Program Umrah Reksa Dana Haji Syariah (I-Hajj Syariah Fund) PT IIM berasal dari penyisihan dana infak yang ada pada Reksa Dana Insight Haji Syariah (I-Hajj Syariah Fund).
Melalui inisiatif ini, Insight memberikan penghargaan kepada jemaah yang terus berkontribusi bagi sesama meskipun menghadapi keterbatasan ekonomi sekaligus menghadirkan pengalaman ibadah yang sarat makna sebagai bentuk apresiasi atas ketulusan dan pengorbanan mereka.
“Selama lebih dari dua dekade, dari 2005 hingga September 2025, program Reksa Dana I-Hajj Syariah Fund telah memberangkatkan lebih dari 1.000 jemaah. Pencapaian ini menjadi bukti nyata dukungan kami kepada masyarakat yang kurang mampu namun memiliki kontribusi sosial signifikan,” ujar Yani.
(jon)
Lihat Juga :