Pengmas FIA UI Bekali Calon Pekerja Migran Perencanaan Keuangan dan Usaha Berkelanjutan
Sabtu, 20 September 2025 - 22:49 WIB
loading...
Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) melalui kegiatan Pengabdian Masyarakat (Pengmas) meningkatkan keterampilan para calon pekerja migran yang akan bekerja di Jepang. Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) melalui kegiatan Pengabdian Masyarakat (Pengmas) meningkatkan keterampilan para calon pekerja migran yang akan bekerja di Jepang. Kegiatan tersebut seperti memberi pemahaman literasi keuangan, studi kelayakan bisnis, serta penerapan prinsip Kaizen dan Japanese Management.
Pelatihan bertajuk “Level Up! Upskilling dan Reskilling Pengangguran Melalui Pendampingan LPK: Transformasi Japanese Management & Literasi Finansial” ini digelar di Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Bangkit Indonesia, Sabtu (20/9/2025).
Baca juga: Taiwan Menjadi Surga Pekerja Migran Indonesia
Ketua Pengabdi Donny Oktavian Syah menyampaikan materi mengenai Kaizen dan Japanese Management. Dua anggota pengabdi yaitu Muhammad Ramaditya dan Dewi Lusiana turut memberikan materi tentang literasi finansial serta studi kelayakan bisnis.
Kegiatan tidak hanya sebatas paparan teori melainkan juga dilengkapi praktik langsung. Peserta diajak menghitung estimasi gaji yang akan diterima dengan memperhitungkan komponen pengeluaran sekaligus menyusun rencana usaha yang bisa dijalankan sepulang dari Jepang.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin membekali para peserta bukan hanya dengan pengetahuan, tetapi juga keterampilan praktis yang dapat langsung mereka terapkan. Prinsip Kaizen dan manajemen ala Jepang sangat relevan untuk membangun kedisiplinan, efisiensi, dan semangat perbaikan berkelanjutan,” ujar Donny.
Literasi finansial menjadi kunci agar para peserta mampu mengelola penghasilan dengan bijak. "Jangan hanya mengikuti gaya hidup konsumtif, tetapi pikirkan bagaimana penghasilan bisa dialokasikan untuk kebutuhan, tabungan, dan investasi jangka panjang,” tambah Ramaditya.
Sementara, Dewi Lusiana menyampaikan banyak pekerja migran yang pulang dengan tabungan besar, tetapi kemudian habis begitu saja karena salah langkah.
"Melalui pemahaman studi kelayakan bisnis, kami ingin memastikan tabungan itu bisa dikelola dengan benar agar tidak terjebak dalam investasi bodong dan benar-benar memberi dampak untuk masa depan mereka,” ungkapnya.
Dengan terselenggaranya program ini, FIA UI menegaskan komitmennya untuk hadir di tengah masyarakat melalui kontribusi nyata dalam bidang pendidikan, pelatihan, dan pemberdayaan sumber daya manusia. Pendekatan upskilling dan reskilling diharapkan menjadi langkah transformasi bagi para peserta menuju kemandirian dan daya saing global.
Pelatihan bertajuk “Level Up! Upskilling dan Reskilling Pengangguran Melalui Pendampingan LPK: Transformasi Japanese Management & Literasi Finansial” ini digelar di Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Bangkit Indonesia, Sabtu (20/9/2025).
Baca juga: Taiwan Menjadi Surga Pekerja Migran Indonesia
Ketua Pengabdi Donny Oktavian Syah menyampaikan materi mengenai Kaizen dan Japanese Management. Dua anggota pengabdi yaitu Muhammad Ramaditya dan Dewi Lusiana turut memberikan materi tentang literasi finansial serta studi kelayakan bisnis.
Kegiatan tidak hanya sebatas paparan teori melainkan juga dilengkapi praktik langsung. Peserta diajak menghitung estimasi gaji yang akan diterima dengan memperhitungkan komponen pengeluaran sekaligus menyusun rencana usaha yang bisa dijalankan sepulang dari Jepang.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin membekali para peserta bukan hanya dengan pengetahuan, tetapi juga keterampilan praktis yang dapat langsung mereka terapkan. Prinsip Kaizen dan manajemen ala Jepang sangat relevan untuk membangun kedisiplinan, efisiensi, dan semangat perbaikan berkelanjutan,” ujar Donny.
Literasi finansial menjadi kunci agar para peserta mampu mengelola penghasilan dengan bijak. "Jangan hanya mengikuti gaya hidup konsumtif, tetapi pikirkan bagaimana penghasilan bisa dialokasikan untuk kebutuhan, tabungan, dan investasi jangka panjang,” tambah Ramaditya.
Sementara, Dewi Lusiana menyampaikan banyak pekerja migran yang pulang dengan tabungan besar, tetapi kemudian habis begitu saja karena salah langkah.
"Melalui pemahaman studi kelayakan bisnis, kami ingin memastikan tabungan itu bisa dikelola dengan benar agar tidak terjebak dalam investasi bodong dan benar-benar memberi dampak untuk masa depan mereka,” ungkapnya.
Dengan terselenggaranya program ini, FIA UI menegaskan komitmennya untuk hadir di tengah masyarakat melalui kontribusi nyata dalam bidang pendidikan, pelatihan, dan pemberdayaan sumber daya manusia. Pendekatan upskilling dan reskilling diharapkan menjadi langkah transformasi bagi para peserta menuju kemandirian dan daya saing global.
(jon)
Lihat Juga :