Wamendes PDT: Digitalisasi Desa Kunci Indonesia Berdaya Saing di Era Global
Sabtu, 20 September 2025 - 17:57 WIB
loading...
Wamendes PDT Ahmad Riza Patria menyatakan digitalisasi desa merupakan fondasi penting dalam mewujudkan Indonesia berdaya saing di era global. Foto: Dok Sindonews
A
A
A
JAKARTA - Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Wamendes PDT) Ahmad Riza Patria menyatakan digitalisasi desa merupakan fondasi penting dalam mewujudkan Indonesia berdaya saing di era global. Itu dia sampaikan saat menjadi narasumber Digital Campus Orientation (Digication) Batch 9 Universitas Insan Cita Indonesia (UICI), Jumat (19/9/2025).
Riza mengatakan, digitalisasi desa bukan sekadar penyediaan akses internet, tetapi transformasi menyeluruh dalam cara berpikir, bekerja, dan berinteraksi masyarakat dengan teknologi. Tujuannya meningkatkan kualitas hidup sekaligus kesejahteraan masyarakat desa.
Baca juga: Peruri dan Kemendes PDT Bersinergi: Percepatan Digitalisasi Desa Kini di Ujung Jari!
Meski masih dihadapkan pada tantangan seperti keterbatasan infrastruktur, rendahnya literasi digital, dan kebutuhan pelatihan berkelanjutan, dia optimistis digitalisasi membuka peluang besar.
Kemudian, akses pasar yang lebih luas, efisiensi distribusi, serta penciptaan lapangan kerja baru menjadi potensi nyata bagi desa-desa di Indonesia. Kemendes PDT telah merancang Program Desa Digital melalui dukungan infrastruktur, pelatihan keterampilan digital, dan pendampingan UMKM.
"Kolaborasi multipihak sangat menentukan keberhasilan digitalisasi desa. Pemerintah, kampus, swasta, dan masyarakat harus bersinergi,” ujar Riza.
Dia menekankan peran strategis perguruan tinggi sebagai pusat riset, pelatihan, dan pengabdian masyarakat. Kampus didorong menjadi jembatan antara teori dan praktik, termasuk membantu desa dalam transformasi digital berbasis e-commerce.
Pada kesempatan itu, Riza menyampaikan keberhasilan transformasi digital di Desa Balongdowo, Sidoarjo, Jawa Timur. Transformasi digital di desa ini ditandai dengan keberhasilan pemasaran produk lokal seperti kupang yang dipasarkan melalui platform e-commerce. Dalam satu tahun pertama, penjualan online meningkat hingga 300%.
Kemudian, di Desa Kasegeran, Banyumas, Jawa Tengah, yang bertransformasi menjadi Desa YouTuber berkat inisiatif seorang warga bernama Nugroho atau akrab disapa Sibun. "Awalnya dia hanya membuat konten mekanik di bengkel kecilnya, namun kemudian berhasil menjadi YouTuber dengan penghasilan signifikan," katanya.
Sibun lalu membagikan ilmunya kepada warga sekitar, melatih mereka menjadi YouTuber profesional. Dampaknya sangat terasa. Warga yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan tetap kini dapat memperoleh pendapatan dari platform digital.
Menurut dia, digitalisasi desa akan menjadi fondasi ekonomi inklusif, membuka peluang masa depan, sekaligus menjadikan desa sebagai pilar kekuatan Indonesia di kancah global.
Digication Batch 9 tahun ini mengusung tema “Mendorong Ekonomi Baru: Peran Blockchain dan Artificial Intelligence dalam Membuka Kesempatan Kerja”.
Ketua Panitia Digication sekaligus Kepala Program Studi Bisnis Digital UICI Moh Jawahir menuturkan tema tersebut dipilih untuk membekali mahasiswa dengan pemahaman yang relevan menghadapi era disrupsi.
“Tema ini dipilih tentu untuk membekali mahasiswa baru UICI dengan wawasan dan mindset yang tepat bahwa teknologi bukanlah ancaman melainkan alat potensial untuk menciptakan lapangan kerja dan memacu pertumbuhan ekonomi inklusif,” ujar Jawahir.
Riza mengatakan, digitalisasi desa bukan sekadar penyediaan akses internet, tetapi transformasi menyeluruh dalam cara berpikir, bekerja, dan berinteraksi masyarakat dengan teknologi. Tujuannya meningkatkan kualitas hidup sekaligus kesejahteraan masyarakat desa.
Baca juga: Peruri dan Kemendes PDT Bersinergi: Percepatan Digitalisasi Desa Kini di Ujung Jari!
Meski masih dihadapkan pada tantangan seperti keterbatasan infrastruktur, rendahnya literasi digital, dan kebutuhan pelatihan berkelanjutan, dia optimistis digitalisasi membuka peluang besar.
Kemudian, akses pasar yang lebih luas, efisiensi distribusi, serta penciptaan lapangan kerja baru menjadi potensi nyata bagi desa-desa di Indonesia. Kemendes PDT telah merancang Program Desa Digital melalui dukungan infrastruktur, pelatihan keterampilan digital, dan pendampingan UMKM.
"Kolaborasi multipihak sangat menentukan keberhasilan digitalisasi desa. Pemerintah, kampus, swasta, dan masyarakat harus bersinergi,” ujar Riza.
Dia menekankan peran strategis perguruan tinggi sebagai pusat riset, pelatihan, dan pengabdian masyarakat. Kampus didorong menjadi jembatan antara teori dan praktik, termasuk membantu desa dalam transformasi digital berbasis e-commerce.
Pada kesempatan itu, Riza menyampaikan keberhasilan transformasi digital di Desa Balongdowo, Sidoarjo, Jawa Timur. Transformasi digital di desa ini ditandai dengan keberhasilan pemasaran produk lokal seperti kupang yang dipasarkan melalui platform e-commerce. Dalam satu tahun pertama, penjualan online meningkat hingga 300%.
Kemudian, di Desa Kasegeran, Banyumas, Jawa Tengah, yang bertransformasi menjadi Desa YouTuber berkat inisiatif seorang warga bernama Nugroho atau akrab disapa Sibun. "Awalnya dia hanya membuat konten mekanik di bengkel kecilnya, namun kemudian berhasil menjadi YouTuber dengan penghasilan signifikan," katanya.
Sibun lalu membagikan ilmunya kepada warga sekitar, melatih mereka menjadi YouTuber profesional. Dampaknya sangat terasa. Warga yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan tetap kini dapat memperoleh pendapatan dari platform digital.
Menurut dia, digitalisasi desa akan menjadi fondasi ekonomi inklusif, membuka peluang masa depan, sekaligus menjadikan desa sebagai pilar kekuatan Indonesia di kancah global.
Digication Batch 9 tahun ini mengusung tema “Mendorong Ekonomi Baru: Peran Blockchain dan Artificial Intelligence dalam Membuka Kesempatan Kerja”.
Ketua Panitia Digication sekaligus Kepala Program Studi Bisnis Digital UICI Moh Jawahir menuturkan tema tersebut dipilih untuk membekali mahasiswa dengan pemahaman yang relevan menghadapi era disrupsi.
“Tema ini dipilih tentu untuk membekali mahasiswa baru UICI dengan wawasan dan mindset yang tepat bahwa teknologi bukanlah ancaman melainkan alat potensial untuk menciptakan lapangan kerja dan memacu pertumbuhan ekonomi inklusif,” ujar Jawahir.
(jon)
Lihat Juga :