Generasi Z Diingatkan Tak Sekadar Tren FOMO dan Perkuat Literasi
Kamis, 11 September 2025 - 21:39 WIB
loading...
Para penulis buku Prosumenesia: Transformasi Media Digital dalam Politik dan Demokrasi usai launching buku di Ruang GBHN, DPR, Jakarta, Kamis (11/9/2025). Foto/Dok. SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Media memainkan peran penting dalam membentuk orientasi politik generasi muda melalui agenda-setting, framing, bandwagon effect, dan efek viral. Tanpa adanya literasi kritis, pemilih muda dalam hal ini generasi Y dan Z rentan diarahkan oleh popularitas dan tren, alih-alih menilai substansi kebijakan. Hal ini membuat keterlibatan generasi muda dalam pesta demokrasi kerap diarahkan oleh popularitas dan tren, alih-alih menilai substansi kebijakan.
Pernyataan tersebut disampaikan Rahmat Saleh, calon Doktor Ilmu Komunikasi (DIK) Angkatan 33 Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid Jakarta saat seminar sekaligus launching buku bertajuk "Prosumenesia: Transformasi Media Digital dalam Politik dan Demokrasi" di Ruang GBHN, DPR, Kamis (11/9/2025). Kata “Prosumenesia” yang pertama kali diperkenalkan ke publik melalui peluncuran buku ini diyakini mahasiswa Program DIK angkatan 33 Sekolah Pascasarja USahid Jakarta juga menjadi momen penting yang menandai lahirnya istilah baru dalam peta komunikasi digital Indonesia. Baca juga: Prosumenesia: Era Baru Konsumen Jadi Produsen Digital
Wasekjen PKS ini menyebut salah satu temuan penting dalam buku ini adalah peran strategis generasi milenial dan Gen Z yang mencakup sekitar 60% dari total pemilih pada Pilpres 2024. Tim penulis terang Rahmat Saleh menganalisis bagaimana generasi digital native ini memanfaatkan media sosial sebagai ruang utama untuk memperoleh informasi, berdiskusi, membangun opini, dan mengekspresikan identitas politik. Melalui buku ini tim penulis mengungkap bagaimana partisipasi politik digital Gen Z bersifat cepat, instan, dan masif, seringkali terwujud dalam kampanye tagar, petisi online, hingga viral campaign.
Dalam paparanya saat seminar, Rahmat Saleh memandang bahasa media yang provokatif dan simbolik membuat isu politik cepat menjadi tren. Namun, dominasi kepemilikan media oleh elite politik dan ekonomi menghadirkan risiko. Saat konstelasi pesta demokrasi, media ucap Rahmat Saleh lebih sering berfungsi sebagai mesin propaganda daripada sarana edukasi publik.
"Tanpa literasi kritis, pemilih muda rentan diarahkan oleh popularitas dan tren, alih-alih menilai substansi kebijakan.Implikasi dari kondisi ini jelas. Generasi Y dan Z merupakan segmen kunci sekaligus arena perebutan narasi utama dalam pemilu," kata Rahmat Saleh.
Politisi PKS yang juga tercatat sebagai anggota Komisi IV DPR Ini memberi beberapa rekomendasi saat pesta demokrasi mendatang berlangsung. Rekomendasi pertama menyangkut kebijakan, di mana perlunya transparansi kepemilikan media, diversifikasi media, dan pelibatan generasi muda dalam forum legislasi oleh DPR dan pemerintah.
KPU serta Bawaslu juga diingatkannya perlu memastikan kampanye digital menyertakan substansi program, menyediakan kanal fact-checking, dan mengadakan debat publik digital yang ramah Gen Z. Sementara rekomendasi untuk komunitas pemuda dan civil society, Wasekjen PKS ini menilai perlunya penguayan literasi media, menciptakan ruang deliberasi digital, serta mendorong keterlibatan generasi muda menjadi produsen konten politik alternatif.
Rahmat Saleh menekankan bahwa generasi Y dan Z bukan sekadar target suara, melainkan aktor penting dalam demokrasi Indonesia. Dengan regulasi yang jelas, media yang beragam, serta literasi kritis yang kuat, Rahmat Saleh meyakini generasi muda dapat mengubah politik dari sekadar perebutan suara menjadi arena transformasi demokrasi yang lebih sehat, partisipatif, dan substansial.
Selain Rahmat Saleh, kegiatan ini juga dihadiri sejumlah narasumber yang mewakili penulis dari DIK 33 yaitu Andre Sainyakit, Mira Natalia Pelu, serta penelaah independen Prof Johanes Basuki (Guru Besar STIA-LAN). Peluncuran buku ini dihadiri Kaprodi Ilmu Komunikasi Pascasarja Usahid Prasetya Yoga Santoso, Mirza Ronda sebagai penggagas dan editor buku Prosumenesia, serta Wakil Ketua Komisi 1 DPR Sukamta.
Sukamta menuturkan, era digital ibarat pisau bermata dua. Era digital ungkapnya, membuka ruang partisipasi luas di mana masyarakat kini bukan hanya penonton, tetapi juga produsen wacana. Namun di sisi lain, menghadirkan berbagai tantangan. "Seperti misinformasi, disinformasi, filter bubble, echo chamber, hingga potensi polarisasi di tengah masyarakat," ujarnya
Era prosumen telah mengubah paradigma komunikasi dari model satu arah menjadi model kolaboratif dan berbasis partisipasi. Individu tidak hanya mengonsumsi produk atau informasi, tetapi juga memproduksi dan mendistribusikannya. Era digital menciptakan dinamika baru dalam lanskap politik dan demokrasi Indonesia. Baca juga: Kebiasaan Flexing Keluarga Pejabat Nepal Picu Kemarahan Gen Z
Mira Natalia mencontohkan bagaimana narasi tercipta di media sosial dan fenomena FOMO mampu menbuat masyarakat rela mengantre dan membeli cokelat Dubai. Meskipun pada kenyataannya menurut Mira rasa cokelat tersebut tidak semahal harganya, namun narasi tercipta secara masif itu membuat cokelat tersebut menjadi laku keras. "Ini membuktikan terjadinya Prosumen di Indonesia (Prosumenesia)," tukasnya.
Sedangkan Andre Sainyakit yang akrab disapa Romo menegaskan pentingnya komunikasi politik berbasis perdamaian sebagai kebutuhan strategis. "Politik yang damai berarti politik yang membuka ruang dialog, mendengar aspirasi, dan berani berpihak pada keadilan substantif," ungkap dosen STPAK St Yohanes Penginjil Ambon ini.
Pernyatan rohaniawan Katolik yang tengah mendalami ilmu komunikasi ini merujuk pada pemikiran Paulo Freire tentang dialog yang membebaskan dan gagasan Jürgen Habermas tentang ruang publik yang rasional. Seminar dan peluncuran buku Prosumenesia dihadiri ratusan peserta dari berbagai kalangan seperti akademisi, politisi, mahasiswa dan tenaga ahli DPR. Acara berlangsung interaktif dan para peserta antusias berdiskusi mengenai tren baru komunikasi digital.
Pernyataan tersebut disampaikan Rahmat Saleh, calon Doktor Ilmu Komunikasi (DIK) Angkatan 33 Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid Jakarta saat seminar sekaligus launching buku bertajuk "Prosumenesia: Transformasi Media Digital dalam Politik dan Demokrasi" di Ruang GBHN, DPR, Kamis (11/9/2025). Kata “Prosumenesia” yang pertama kali diperkenalkan ke publik melalui peluncuran buku ini diyakini mahasiswa Program DIK angkatan 33 Sekolah Pascasarja USahid Jakarta juga menjadi momen penting yang menandai lahirnya istilah baru dalam peta komunikasi digital Indonesia. Baca juga: Prosumenesia: Era Baru Konsumen Jadi Produsen Digital
Wasekjen PKS ini menyebut salah satu temuan penting dalam buku ini adalah peran strategis generasi milenial dan Gen Z yang mencakup sekitar 60% dari total pemilih pada Pilpres 2024. Tim penulis terang Rahmat Saleh menganalisis bagaimana generasi digital native ini memanfaatkan media sosial sebagai ruang utama untuk memperoleh informasi, berdiskusi, membangun opini, dan mengekspresikan identitas politik. Melalui buku ini tim penulis mengungkap bagaimana partisipasi politik digital Gen Z bersifat cepat, instan, dan masif, seringkali terwujud dalam kampanye tagar, petisi online, hingga viral campaign.
Dalam paparanya saat seminar, Rahmat Saleh memandang bahasa media yang provokatif dan simbolik membuat isu politik cepat menjadi tren. Namun, dominasi kepemilikan media oleh elite politik dan ekonomi menghadirkan risiko. Saat konstelasi pesta demokrasi, media ucap Rahmat Saleh lebih sering berfungsi sebagai mesin propaganda daripada sarana edukasi publik.
"Tanpa literasi kritis, pemilih muda rentan diarahkan oleh popularitas dan tren, alih-alih menilai substansi kebijakan.Implikasi dari kondisi ini jelas. Generasi Y dan Z merupakan segmen kunci sekaligus arena perebutan narasi utama dalam pemilu," kata Rahmat Saleh.
Politisi PKS yang juga tercatat sebagai anggota Komisi IV DPR Ini memberi beberapa rekomendasi saat pesta demokrasi mendatang berlangsung. Rekomendasi pertama menyangkut kebijakan, di mana perlunya transparansi kepemilikan media, diversifikasi media, dan pelibatan generasi muda dalam forum legislasi oleh DPR dan pemerintah.
KPU serta Bawaslu juga diingatkannya perlu memastikan kampanye digital menyertakan substansi program, menyediakan kanal fact-checking, dan mengadakan debat publik digital yang ramah Gen Z. Sementara rekomendasi untuk komunitas pemuda dan civil society, Wasekjen PKS ini menilai perlunya penguayan literasi media, menciptakan ruang deliberasi digital, serta mendorong keterlibatan generasi muda menjadi produsen konten politik alternatif.
Rahmat Saleh menekankan bahwa generasi Y dan Z bukan sekadar target suara, melainkan aktor penting dalam demokrasi Indonesia. Dengan regulasi yang jelas, media yang beragam, serta literasi kritis yang kuat, Rahmat Saleh meyakini generasi muda dapat mengubah politik dari sekadar perebutan suara menjadi arena transformasi demokrasi yang lebih sehat, partisipatif, dan substansial.
Selain Rahmat Saleh, kegiatan ini juga dihadiri sejumlah narasumber yang mewakili penulis dari DIK 33 yaitu Andre Sainyakit, Mira Natalia Pelu, serta penelaah independen Prof Johanes Basuki (Guru Besar STIA-LAN). Peluncuran buku ini dihadiri Kaprodi Ilmu Komunikasi Pascasarja Usahid Prasetya Yoga Santoso, Mirza Ronda sebagai penggagas dan editor buku Prosumenesia, serta Wakil Ketua Komisi 1 DPR Sukamta.
Sukamta menuturkan, era digital ibarat pisau bermata dua. Era digital ungkapnya, membuka ruang partisipasi luas di mana masyarakat kini bukan hanya penonton, tetapi juga produsen wacana. Namun di sisi lain, menghadirkan berbagai tantangan. "Seperti misinformasi, disinformasi, filter bubble, echo chamber, hingga potensi polarisasi di tengah masyarakat," ujarnya
Era prosumen telah mengubah paradigma komunikasi dari model satu arah menjadi model kolaboratif dan berbasis partisipasi. Individu tidak hanya mengonsumsi produk atau informasi, tetapi juga memproduksi dan mendistribusikannya. Era digital menciptakan dinamika baru dalam lanskap politik dan demokrasi Indonesia. Baca juga: Kebiasaan Flexing Keluarga Pejabat Nepal Picu Kemarahan Gen Z
Mira Natalia mencontohkan bagaimana narasi tercipta di media sosial dan fenomena FOMO mampu menbuat masyarakat rela mengantre dan membeli cokelat Dubai. Meskipun pada kenyataannya menurut Mira rasa cokelat tersebut tidak semahal harganya, namun narasi tercipta secara masif itu membuat cokelat tersebut menjadi laku keras. "Ini membuktikan terjadinya Prosumen di Indonesia (Prosumenesia)," tukasnya.
Sedangkan Andre Sainyakit yang akrab disapa Romo menegaskan pentingnya komunikasi politik berbasis perdamaian sebagai kebutuhan strategis. "Politik yang damai berarti politik yang membuka ruang dialog, mendengar aspirasi, dan berani berpihak pada keadilan substantif," ungkap dosen STPAK St Yohanes Penginjil Ambon ini.
Pernyatan rohaniawan Katolik yang tengah mendalami ilmu komunikasi ini merujuk pada pemikiran Paulo Freire tentang dialog yang membebaskan dan gagasan Jürgen Habermas tentang ruang publik yang rasional. Seminar dan peluncuran buku Prosumenesia dihadiri ratusan peserta dari berbagai kalangan seperti akademisi, politisi, mahasiswa dan tenaga ahli DPR. Acara berlangsung interaktif dan para peserta antusias berdiskusi mengenai tren baru komunikasi digital.
(poe)
Lihat Juga :